Oleh: Yoan S Nugraha

Singgasana Sultan-F-dok.Serambi Melayu

Bi iznillah, bahwa inilah adanya sebuah ceritera yang termaktub dengan seksama secara temurun yang saban hari ceritera yang termaktub nantinya itu semakin sabit dan tiada berasa lagi. Gerhana bagi kami (orang melayu) tiadalah hanya sebatas fenomena alam belaka, tiada juga sebatas bukti kuasa Tuhan sahaja, kerana hal sedemikian sudah tersangat jelas dimaktubkan Tuhan dalam kitabullah lewat firman-Nya. Tapi lebih dari itu, gerhana bagi kami ada berkaitnya dengan nenek gergasi yang di bulan dan tuan Jabo di matahari.

Tunggu sekejap, sebelum kita mengurusi ceritera nenek gergasi ini, kita mestilah patut berbangga bahwa dulu di tahun 1901 gerhana mataharipun pernah terjadi, oleh orang bijak pandai dimaktubkan sebagai gerhana matahari pertama abad ke-20 pada 18 hari bulan Jun silam.

Takjubnya lagi adalah laluan gerhana yang terjadi itu tepat di langit Melayu.

 

Tok zahid (76), tetua adat di Pulau Pucong, desa Malang Rapat trikora III Tanjungpinang berkisah, bahwa dulu waktu gerhana tiba banyak ritual dan pantang larang yang harus dibuat oleh orang-orang melayu, wabil khusus orang-orang yang termaktub di Bandar Rhio (Tanjungpinang), Lingga, dan beberapa jumput pulau disekitarnya. Lain gerhana, lain pula caranya, ini semua ada berkaitan dengan nenek gergasi yang dipercayai tinggal di bulan.

Ceritera dari Tok Zahid ini beda jauh dengan ceritera yang terdapat pada catatan kecil dari buku seorang editor terkenal Amerika Mabel Loomis yang juga adalah pacal isteri dari David Peck Todd seorang Astronom hebat yang pernah membuat expedisi gerhana matahari ke Singkep-Lingga bersama rakan sejawatnya. Di tahun 1901 itu pacal isteri David membuat tajuk catatan “The First Eclipse Of Then New Century” (gerhana matahari pertama di abad yang baru). Tok zahid lebih dari itu, dia bukan berkisah pasal gerhana belaka, serupa dengan para astronom, tapi pasal nenek gergasi dan Tuan Utama Jabo yang konon suka juga memangsa manusia terutama kanak-kanak.

 

Di Bulan, orang-orang dulu meyakini ada seorang nenek gergasi. Nenek gergasi ini empunyai seorang pembantu yang bisa dirubah-rubahnya bentuk dan rupa wajahnya sesuka hati dengan jampi sihir, serenta empunyai seorang tuan utama bernama Jabo berkedudukan di matahari. Kononnya saat hendak pergi ke pesta di ceruk bintang, nenek gergasi pernah kehilangan sisir emas pinjaman dari tuan Jabo, sisir emas itu terjatuh ke bumi. Takutkan tuan utama Jabo berang, di sihirnya seorang pembantu menjadi seekor burung pungguk untuk mencari sisir emas dengan syarat, burung pungguk itu tiada boleh bersinggah dan hinggap di sebatang rantingpun, jika dilanggar maka pungguk akan bersebati tinggal di bumi dan tiadalah bisa terbang naik ke bulan lagi.

Malang tak dapat dielak, untuk jua tiada dapat diraih, letih sangat agaknya burung pungguk itu terbang dari kampung ke kampung, dari pulau ke pulau, mencarikan sisir emas nenek gergasi yang tiada suah dijumpai. Letih yang tersangat itu menjadikan pungguk lena dengan pantang larangnya dan hinggaplah disebatang kayu rengas. Menyadari telah melanggar pantang, saban malam bulan purnama pungguk menangis meratap bulan.

Sementara di bulan, nenek gergasi naik pitam, sisir emas tiada berjumpa, sementara tuan utama jabo akan berkunjung hendak meminta pinjaman sisir dan mengajak pergi pesta ke ceruk bintang. Akhirnya nenek gergasi duduk di tubir bulan menunjuk ke pungguk arah mana dia harus pergi mencari sisir, sementara kayu rengas hinggapan pungguk itu dikutuknya menjadi kayu yang bisa membuat sekujur badan miang-miang (gatal) jika ada sesiapa manusia menyentuhnya. Tiba masanya tuan utama Jabo berkunjung ke bulan (Gerhana bulan) hendak mensuraikan hajat, tapi nenek gergasi mengelak dengan mengatakan “masih siang, tunggulah malam”.

Asbab itulah konon ketika gerhana bulan, kita ikutkan mitos untuk memukul-mukul bunyi-bunyian supaya terdengar riuh sampai ke bulan, memukau tuan Jabo kalau hari masih siang. Asbab jika tiada diturutkan mitos ini dipercayai bisa di sihir nenek gergasi, badanpun bisa belang asbab dijilat pendar cahaya gerhana.

 

Sementara gerhana matahari, adalah kunjungan nenek gergasi ke rumah tuan Jabo, meminta tenggat masa untuk mencari sisir emas, tiada heran kalau gerhana matahari tiba senantiasa tapak langit disertai hujan, sepaling tidakpun kalau tak lebat ianya gerimis manja. Itulah konon airmata nenek gergasi yang habis dihamuk tuan Jabo. Kita yang di bumi ini terutama yang sudah remaja atawa dewasa, ketika gerhana janganlah mandi dan atawa terkena bias rintik hujan, nanti padah dan badan bisa belang, yang sepaling menakutkan bisa bernasib sial berkepanjangan serupa pungguk rindukan bulan, meratap dan mengharap sesuatu yang sebegitu muskil untuk didapat. Penawarnya Cuma satu, yakni membilas ulang tubuh badan kita dengan air pada kunjungan nenek gergasi (gerhana matahari) yang akan datang. Pantang yang lain untuk tiada membawa anak kecil keluar rumah saat gerhana tiba, takutkan bahang hamuk tuan jabo itu berimbas kepada sawan budak yang bisa menjemput maut.

 

Cerita lain dari Tok Zahid, banyak yang tiada mengira bahwa tuan jabo dan nenek gergasi itu sebenarnya sepasang kekasih yang kasmaran, karena tuan jabo adalah seorang jelata, sementara nenek gergasi puteri jelita. Cinta yang tiada mendapat restu akibat hasut dari tujuh bintang bersaudara itu terpaksa ditanggung dengan dipisahkannya mereka di bulan dan matahari. Jabo menyimpan bara dendam kepada bintang asbab itulah matahari panas membahang, sementara gergasi menukil rindu asmara kepada jabo, yang menjadikan bulan sendu memesona.

 

Dalam keyakinan orang melayu, pernah suatu ketika tuan Jabo kesal hati dengan kutukan yang dipikulnya, dibunuhlah satu bintang lalu dihumbannya ke bumi, tepat jatuh di Majapahit. Kepercayaan orang melayu itu termaktub dalam pantun pusaka:

 

Bintang tujuh tinggal enam

Jatuh sebiji di Majapahit

Anak kutuk anak jahanam

Keling disangka Tuan Said

 

Makna pantun itu menunjukkan murka yang sebegitu hebat dengan bahasa menyumpah “anak kutuk, anak jahanam”. Asbab syak wasangka yang salah duga, diumpamakan keling (orang banggali) yang terkenal jahat itu disangka seorang Tuan Said (syeh) yang alim serenta umara’.

 

Syahdan, jika dulu di tahun 1901 disebut oleh Mabel Loomis Todd sebagai gerhana matahari pertama di abad-20 yang baru, di tanah melayu khususnya. Tapi tak lama setelah itu maka “gerhana” juga kerajaan Riau-Lingga dibawah daulat Tuanku Yang Amat Mulia Sultan Abdulrahman Mu’azamsyah. wallahu’alam. ***

Tinggalkan Balasan