Jantung Hati, Jantung Melayu

0
621 views

Oleh : *Husnizar Hood
Seberapa penting peranan jantung dalam kehidupan ini? Tak ada yang berani menyangkalnya, semua orang mengatakan jantung itu adalah segalanya, dia menjadi sumber detak nadi kehidupan dalam raga kita ini. “Fungsi jantung itu adalah mesin pemompa darah ke seluruh tubuh kita”, itu kata Faisal budak seberang yang hampir saja lepas telinganya karena diancam Daud gara-gara bercakap salah ketika ditanya tentang kesehatan.

Iyalah pula, Faisal tu kerjanya satpam sementara Daud itu memang kerjanya seorang tabib, konon tau kesehatan, manalah pula dia paham, untung ingatannya waktu sekolah membuat dia bisa menjawab. Saya nampak Faisal sangat tertekan ketika berbicara dengan Daud.

“Dan hati itu fungsinya sebagai tempat pembersih racun dalam tubuh kita”, tambah Faisal lagi, sekali ini perkataan Faisal benar dan Daud nampak girang.

“Kalau begitu jantung hati itu adalah pemompa darah dan pembersih racun maknanya”, ucap Daud.

Saya terkesiap, nampak sekali ini Daud itu bengak, setahu saya jantung hati itu maknanya adalah orang yang disayang, kekasih tercinta, intan payung, penawar rindu, entah darimana pula Daud dapat merumuskan hingga menjadi lain.

Tapi setelah saya timbang-timbang mungkin ada benarnya juga ucap Daud itu, rindu itulah yang menjadi racun dalam hati kita dan karena hati jugalah rindu itu merona dan ranum ketika kita bertemu.

Hari ini kita bertemu sebuah portal bernama “Jantung Melayu” dia bagai sesuatu yang dengan serta merta mampu menguraikan detak-detak rindu itu. Rindu yang selama ini ingin kita cari penawarnya agar kita lebih tau tentang Melayu.

Tak usahlah saya minta pendapat kepada Faisal atau Daud budak yang sibuk berebut nak melepaskan telinga orang macam merekalah paling hebat di dunia Melayu ini. Jantung Melayu itu kalau saya timang-timang dia adalah tempat kita bermain, seperti kita berkarang, bermain di sepanjang pantai dan mengutip satu persatu yang kita dapatkan untuk kita bawa pulang, kemudian pada keesokan harinya kita ingin berkarang lagi dan lagi menjelajah pantai dan karang-karang itu.*

Artikel SebelumPermainan Perahu Jong
Artikel BerikutMenyibak Mendung Joged Dangkung
HUSNIZAR HOOD, 49 tahun. Orang Tanjungpinang Kepulauan Riau. Sangat menyukai seni, terutama sastra. Beberapa buku puisinya Kalau - Tiga Racik Sajak dan Tarian Orang Lagoi. Tahun 2004 menerima Anugerah Sagang kategori seniman serantau. Tahun 2016, Husnizar menjadi seniman perdana yang menerima anugerah jembia emas. Puisinya Dongeng Pasir digubah menjadi sinema layar kaya. Hobinya menjadi politisi, pekerjaannya seniman. Sebab itu, Husnizar menggagas banyak even kesenian di Kepulauan Riau. Semakin Miang Semakin Disayang adalah buku kelima yang menghimpun tulisannya di kolom Temberang, Batam Pos. Selama dua belas tahun itu, sudah menjadi empat buku terdahulu. Orang Melayu cuma Pandai Bercerita, Mahmud Jadi Dua, Lebih Baik Mati Berdiri daripada Hidup Berlutut, dan Mahmud is Back. Sejak 2006 menjadi Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau “menyambi” jadi Wakil Ketua II DPRD Kepulauan Riau. Husnizar meyakini, kebudayaan itu hal yang harus diperjuangkan, politik itu cara memperjuangkannya.

Tinggalkan Balasan