oleh: Yoan S Nugraha

reka ulang rupa Jerambang, berdasarkan saksi mata-f-Yoan S Nugraha

Hatta, ialah musykil rasanya jika di zaman serba ujung telunjuk ini masik juga kita menyoalkan perihal mambang, semakin hari tampaknya kita beranjak ke sebuah dimensi zaman yang semakin serba absurd. Namun ini ialah nyana bahwa kita boleh untuk bergerak dan berpikiran maju akan tetapi segala ikhwal lama janganlah pula kita nafikan, terlebih lagi ianya berupa sejarah, hikayat, dan ataupun ceritera serupa yang menyoalkan orang-orang dahulu.

Kita misalkan dengan sebut sapa orang-orang melayu kepada sejenis hantu banyak ragamnya, semisal Jembalang, Serindai, Busut dan juga Jerambang. Sebut sapa itu juga berfungsi sebagai pengelompokan hantu serta penunggu-penunggu yang ada. Jembalang misalnya, dipisahkan lagi ke segenap ragam, ada jembalang tanah, jembalang kayu, jembalang hutan, jembalang air. Dan memiliki fi’il jahat serta suka mengusik orang. Tiadalah sama dengan serindai yang wujud rupanya tiada sesiapa boleh meneroka, tak tampak tapi bisa menyeresap pada badan.

Biasanya serindai ini jika sudah menyampok manusia ditandai dengan sekujur badan boleh gatal tanpa bisa di teroka ujung pangkal asbabnya. Kalau busut lain pula, iya serupa hantu yang tiada bergerak, hanya menunggu di busut-busut hutan atau laut yang berupa seperti selonggok tanah macam bekas timbunan. Busut tiadalah pula mengusik manusia kecuali entah sengaja atau tidak manusia itu terusikkan busut dengan terpijak, terludah dan sebagainya terlebih lagi tidak bertabik-tabik datok untuk berperangai itu. Busutpun tiadalah sejahat jembalang dan serindai, kalaupun tersampok dengan busut ini hanya badan sahaja yang sejuk seram semacam deman. Pun kalau sudah dijampi dengan bomoh dan diberikan air penawar atau penangkal maka sembuhlah sedia kala adanya.

Syahdan, yang nak saya uraikan ini adalah jerambang, sejenis hantu dengan spesialis berkarang di laut dan mencari ikan, terkadang juga suka mengusik bubu, jaring dan kerambah, lukah nelayan. Ada yang bilang jerambang ini hantu laut, tapi tiadalah sedikit juga yang menyukat jerambang sebagai hantu hutan. Agaknya ada benar kedua-dua penyebut itu sebab jerambang ini pemakannya berasal dari laut dan memakannya di darat, tepatnya di ceruk-ceruk hutan lebat yang marimba. Jika sering kita keluar masuk hutan dan menjumpai selonggok tulang ikan, kerang, ketam di batang-batang pohon, konon itu adalah sisa makan jerambang, iya tak ya juga sebab sesiapalah hendak berkelaku meletak dan menyusun ampas sisa makan di ceruk hutan ?.

Beberapa temasya silam, sempat saya bualkan pasal jerambang ini dengan Tok Zahar seorang nelayan di pulau pucong desa malang rapat Trikora, dan beliau membenarkan ceritera itu dengan penambahan kalau jerambang ini bermata satu dan menyala-nyala macam pelita untuk menyuluh ikan, tubuh badannya serupa monyet dengan tangan dan kaki sama panjang, kepalanya lancip semacam pakai tudung anyam, mulutnya serupa dengan mulut tupai yang berfungsi untuk menghisap isi perut ikan, kerang, dan ketam tanpa membuka kulitnya. Konon Tok Zahar ini pernah terjerebak dengan jerambang di pantai Tanjung Tergok Trikora dulu di tahun-tahun 60-an. Tidak sama dengan hikayat si Badang yang sama serupa terjerebak dengan Jerambang pasal kesal hati Lukah yang dipasangnya di laut Sayung selalu kosong, memutuskan untuk mengintai dan menjebak jerambang, sempatkan sawan melihat muknya yang begitu hodoh, dengan penawaran dari jerambang karena takut di bunuh, lalu si Badang memakan muntah jerambang maka kuat perkasalah si badang itu, tapi Tok Zahar ini justru pingsan dan demam hampir sebulan, agaknya terkena sawan bahang jerambang.

Sempatpun saya menafikan ceritera Tok Zahar ini, sebab saya rasa penafian saya adalah hal lumrah mengingat saya bukanlah produk kelahiran 1949 yang serupa dengan tok zahar, saya adalah belia yang darahpun masih setampuk pinang. Agaknya Tuhan hendak menguatkan pembenaran Tok Zahar, maka lat-5 hari setelah perbualan itu berjumpalah saya dengan bang Eson, sama nelayan tapi ini dari pulau Sembuang Desa Penuba Kabupaten lingga. Bang Eson masih juga belia jika disandingkan dengan Tok Zahar tapi tentu jauh tua jika persandingan dengan saya, agak-agak kepala 4 lama umurnya. Tidak sebatas cerita belaka tapi bang eson juga menyuguhkan rekaman gambar video yang direkam dengan talipon bimbitnya sendiri. Meski rekaman amatir tapi sememangnya mata kepala saya sendiri menyaksikan bagaimana jerambang itu. Matanya yang hanya satu itu menyala serupa suluh, berdelas-delus bergerak sepanjang bibir pantai menuju tubir, lalu melesap lagi naik ke hutan. Begitu berketerusan hinga 5 menit panjang durasi rekaman itu. Berbulu atau tidak badannya, wallahu’alam asebab terbatasnya fungsi lensa talipon bimbit Bang Eson mengingat rekaman ini senja menjemput malam.

Syahdan, jerambang ini bukanlah cerita setumpuk di satu tempat belaka tapi hampir disegala seluk pulau yang ada di bumi segantang lada ini, sejauh yang saya tau jerambang ini sering menampakkan diri di Tanjung Perpat, Pulau Pandan, Persing, Berindat, dan pulau belakang Jagoh, termasuk juga Tanjung Tergok dan Pulau Sembuang.

Waba’dahu, menilik fi’il Jerambang yang tidak mengusik manusia asebab pemakannya hanyalah ikan, kerang, dan ketam tapi tidakpun disadari oleh jerambang ini kalau sudah merugikan manusia. Betapa tidak, bolehkan kosong isi bubu, lukah, jaring dan kerambah orang diolahnya. Yang semestinya hasil itu bisa menyambung periuk nasi nelayan di rumah untuk anak isterinya terpaksa gering dan makan hati kerana jerambang ini.

Menurut hemat saya, di zaman sekarang inipun jerambang modern sedang menjadi trend. Meski tubuh badannya tidak berbulu tapi hatinya yang tertutup rimbun lebat, dan secara maknawiyah matanya masih satu, yang hanya melihat satu arah yang menguntungkan dirinya sendiri. Memang tidak membunuh manusia, sama dengan jerambang tradisional, tapi kehadiran jerambang modern ini sama merugikan manusia, dihisapnya rezeki masyarakat dengan aturan-aturan yang ketat. Disekat-sekatnya lubuk rezeki masyarakat, lalu keuntungan itu dinikmatinya dengan berleha-leha di Negara luar. Hanya saja jerambang modern ini sudah menyamarkan nama aslinya dengan balutan name tag dan id card, dihapusnya label Jerambang, lalu dengan undang-undang diganti dengan label baru – Koruptor. Tabek datok.

Tinggalkan Balasan