Oleh: Yoan S Nugraha
Bismi Hu Ilallah, tersebutlah suatu tari-tarian yang masygul dan ternama, meski hanyalah tari-tarian dari kalangan jelata, namun tidak sedikit pula dalam konon hikayat cerita yang menukilkan orang-orang besar lagi berpangkat di kejaan juga turut serta menikmati dan memainkan tetarian jenis ini.

Bicara mengenai tarian, teringat saya akan tulisan Sal Murgyanto yang mengatakan bahwa tari di belahan bumi timur, termasuk Indonesia di dalamnya, memiliki berbagai macam tari tradisi, lebih merupakan ungkapan hidup dan emosi bersama suatu kaum dan masyarakat, karena dalam kehidupan alam tradisi kebersamaan lebih diutamakan daripada prestasi pribadi.

Oleh sebab itu, bentuk-bentuk kesenian tradisi di Indonesia tidak diketahui siapa penciptanya, karena bentuk-bentuk kesenian tidak dianggap sebagai ciptaan perorangan, tetapi lebih diakui sebagai ungkapan emosi dan pengalaman masyarakat pemiliknya (Murgyanto, 1992; 10).
Merujuk dari ungkapan diatas tentu secara tidak langsung juga berlaku untuk jenis tari yang satu ini. Ada yang bilang joged lambak sebab dizaman kejayaannya, ketika joged ini dimainkan, maka berlambak-lambaklah (banyak) orang yang menari-nari serenta dengan rentak musik, ada juga yang menyebutkan tetarian ini dengan sebutan joged tandak, sebab orang akan bertandak dan enggan beranjak saban subuh ketika tetarian ini diaminkan.

Namun yang jelas, lebih familiar orang menyebutnya dengan sebutan joged dangkong, diambil dari 2 istilah jenis musik yang dimainkan yakni dang “gendang” dan kong “gong”.

Sedikit menyoal “dang” dan “kong” pada istilah dangkong, padahal jika disaksikan seksama, ada beberapa instrumen lainnya yang digunakan, semisal, marakas dan piol (biola, red). Dari birir-bibir masyarakat, konon kisahnya di zaman yang jauh dari listrik, suara yang mempu menjangkau berkilo-kilo meter hingga melampau selat dan sungai adalah suara gong dan rentak gendang, hingga istilah itulah yang digunakan hingga sepopuler sekarang ini.
Oke… itu hanyalah mukaddimah yang apeketidak saja untuk mengantar joged dangkong. Yang hamba hendak nukilkan kali ini adalah tabir kasat mata yang selalu menjadi sorotan dalam setiap pementasan dangkong.

Bersumber dari emak hamba Mahebat di Dabosingkep (panjang umur emak), yang juga mantan pemain joged dangkung dari desa Berindat di era 50-60-an, berhasil hamba dapati bumbu penyedap dalam pementasan joged dangkong, berupa serangkaian ritual sebelum pementasan tetarian itu dilangsungkan.
Pertama, pada instrumen musiknya yang kata emak hamba haruslah memiliki syeh (kekuatan, red) mistis yang terkandung dalam lantunan nada ketika dimainkan, jika syeh ini tidak ada maka jangan haraplah suara musik dangkung mampu membuat bulu roma tegak berdiri.

Pada piol (biola, red), syehnya terletak pada kayu penggesek yang harus berpegang pantang, antaralain, pantang dipegang perempuan sedang haid, pantang disentuh bulu penggesek, dan pantang digesek ketika hujan. Konon, ketika pantang larang itu dil;anggar, jangan harap suara piol akan syahdu mendayu.
Setelah piol, ada gong, yang berbahan full tembaga ini juga harus menjalani serangkaian ritual, pertama sebelum dipukul, gong haruslah dipangkah (dioles, red) dengan kapur sirih pada cembul di bagian sisi dalam. Pantang untuk gong ini adalah rambut, jangan ada sehelai rambutpun masuk kedalam bagian gong, jika dilanggar, alamat suara gong akan sembab dan mustahil bisa menjangkau selat dan sungai.

Yang terakhir ada marakas, meski sederhana namun memegang peranan yang cukup serius, marakas dipantangkan untuk digoncang pada 3 masa, yakni, petang hari, siang jumat, dan diwaktu subuh. Kata emak hamba yang bekas putri joget itu mengatakan, ketika sal;ah satu pantang dilanggar, maka bunyi gemericik marakas justru akan mengundang selaksa bangsa ular untuk datang.

​Setelah alat musik, bumbu penyedap dangkung juga harus dimiliki oleh penari joged yang sering disebut dengan putri joged. Tentu bumbu penyedap ini tak lain dan tak bukan adalah jampi serapah yang dipakai pada penglengkapan alat rias wajah yakni bedak dan parfum.

​Bukan merknya yang harus mahal, namun jampinya yang harus pandai, masih kata emak, biasanya yang menjampi bvedak serta wewangian itu ditangani langusng oleh andam joged ketika bersolek.

​Maklumkan sajalah jika tari yang sudah ada sejak abad ke-17 ini memakai serangkaian ritual, sebab itulah bagi mereka yang mampu memberuikan sumber kekuatan dan syeh. Penari yang jumlahnya harus genap ini (biasanya 4 hingga 8 orang) harus senantiasa bersama selama dalam masa pengandaman (berhias) supaya cantik seri wajah yang dihasilkan bisa merata lewat jampi dan lafas mantra.

Ganjil adalah jumlah yang yang dilarang, sebab menutrut pelaku joged dulu-dulu, ketika penari berjumlah ganjil maka akan mengundang orang bunian untujk turut serta menari, entah sebagai putri joged atau sebagai kaki joged.
Jampi yang disemburkan kepada wewangian tersebut dapatlah juga hamba dapati, yakni:

Tuang minyak kutuang
Kutuang di tapak tangan
Bukan aku minyak seorang
Aku minyak bulan bintang
Matahari dan cahaya
Cahaya bulan dan cahaya aku
Cahaya bintang cahaya aku
Cahaya matahari cahaya aku
Cahaya Allah cahaya Muhammad
………………
Untuk bedak juga demikian, ada jampi yang mesti dibacakan sebelum dipakai, yakni:
Bedak olak olek
Mari pakai ujung gunting
Kupakai bedak di luar kulit
Mesra dalam daging
Dengan berkat doa lailaha illallah
…………..
Sementara, para pemusik yang laki-laki, akan melakukan ritual buka tanah, sebagai tanda permisi kepada penunggu tanah yang dipakai sebagai lokasi pementasan, maka dibacakanlah jampi kepada beras dan garam sambil ditabur-taburkan semerata tanah:
Hi amrih na wajiah jin serindai
Buka kunci rumahku
Buka kunci yang didalam rumahku
Kunci Allah lagi terbuka
Kunci muhammad lagi terbungkai
Inikan pula kunci si amrih jin serindai
Ambil ranggas mata ranting hendak membuat pagar
Hendak memagar rangka bidadari
……

Penyanyinya juga demikian, ketika hendak menyanyikan lagu-lagu kas dangkong dengan judul, betabik, dondang sayang, serampang laut, tanjung katung, nona singapura, tarik rawai, gunung banang, johor siput kelapa, haruslah memakai jampi perindang suara, dengan harapan, merdu suara yang dihasilkan mampu menmghibur dan memukau penonton, maka jampinya:
Merindu si buluh perindu betandak dalam dulang
waktu cinta merindu disitu aku datang
buluh mendesak berahi sudah tetegak
rindu menyesak aku nan diagak

usah beleha hai engkau buluh perindu
aku dah kempuhunan becinta,
becinta kepada si anu

lesapkan isi hati si anu
lesapkan isi benak si anu
beganti isi hati si anu merinduku
beganti isi benak si anu mengenangku

jangan engkau durhaka hai bulu perindu
kalau engkau durhaka
durkaka engkau akan Allah
durhaka engkau akan Muhammad
durhaka engkau akan baginda rasulullah
durhaka engkau akan aku
………
Meski ada anggapan bahwa kesenian joget dangkong sangat dipengaruhi oleh tarian rakyat Portugis. Orang-orang Portugis yang datang ke Melaka pada abad ke-15, namun dengan menyibak bumbu disebaliknya maka hanya memberikan secuil persentase terhadap muasal tetarian ini yang dikatakan dari Portugis itu.
Tidaklah hanya sebatas itu mantra dan jampi yang harus dikuasai oleh para pemain dangkung, penari, penyanyi, dan pemain musiknyapun dituntut harus piawai dalam bela diri, serta sejumlah jampi penunduk, pembungkam, penawar, pelemah, sebagai syarat jaga-jaga kalau-kalau ada kaki joged yang berhajat sangat hendak berbuat usil.
Agaknya, meskipun kesenian joged dangkung saat ini hanyalah semata-mata kepada hiburan belaka, dan bahkan ada juga yang sedikit beri dengan memakai kedi/pondan/waria/bencong sebagai mak joget yang mengatur jalannya pertunjukan joged dangkung.

Meskipun dalam mazhab dangkong sejati, hal-hal yang sedikian itu masuk dalam isyilah tingkah menyalah, namun setidaknya patutlah juga diberikan apresiasi sebagai menduk tampilan dangkung yang lebih segar, sementara sisa tabir yang baru tersingkap ini dapatlah juga dijadikan sebagai tambahan ‘cukup tau’ bahwa sejatinya dangkung itu seperti itulah adanya. ***

Tinggalkan Balasan