Belajar Dari Laksamana Melayu

0
724 views

Oleh: Rendra Setyadiharja, M. IP

Laksamana adalah sebuah jabatan terhormat dalam sejarah Kesultanan Melayu Melaka dan beberapa Kesultanan Melayu lainnya. Dapat dikatakan bahwa Laksamana adalah orang terhormat keempat setelah Sultan, dimana disebut juga sebagai Pembesar Empat yang terdiri dari Datuk Bendahara, Datuk Temenggung, Penghulu Bendahari dan Datuk Laksamana. Laksamana merupakan jabatan yang memimpin angkatan bersenjata Kerajaan dan Duta atau Utusan ke Kerajaan lainnnya.

Dikarenakan pentingnya jabatan Laksamana dalam sistem Kerajaan Melayu, maka muncullah sederetan nama Laksamana yang sangat fenomenal pada rentetan sejarah Kerajaan Melayu yaitu Laksamana Hang Tuah dan Hang Jebat, Laksamana Khoja Hasan, dan Laksamana Hang Nadim pada masa Kerajaan Kesultanan Melaka, Laksamana Tun Abdul Jamil dan Laksamana Megat Sri Rama pada Kerajaan Kesultanan Johor. Banyak hal yang patut menjadi contoh dan pelajaran dari apapun yang pernah mereka lakukan, baik itu positif atau negatif.

Kita mulai dari Laksamana Hang Tuah. Laksamana paling fenomenal sepanjang abad ini dipercayai merupakan Laksamana yang hidup di beberapa era pemerintah Sultan Kerajaan Kesultanan Melayu Melaka. Laksamana Hang Tuah dipercaya hidup pada masa Sultan Muzaffar Syah dan Sultan Mansyur Syah, ada juga sebagian pihak yang mempercayai bahwa Laksamana Hang Tuah hidup hingga Sultan Mahmud Syah I. Laksamana yang terkenal dengan semboyan, patah tumbuh hilang kembali, esa hilang dua terbilang, takkan Melayu hilang di bumi, selain itu Laksamana ini juga terkenal sebagai kesatria yang penuh taat setia kepada Sultan sehingga dengan tega membunuh temannya sendiri yang bernama Hang Jebat yang menurut sulalatus salatin menderhaka kepada Sultannya, namun sulalatus salatin versi Muhammad Haji Salleh (2009;100) dipercayai yang dibunuh Hang Tuah adalah Hang Kasturi.

Namun kewujudan Hang Tuah dan Hang Jebat atau pun Hang Kesturi di dalam pembahasan Ahmat Adam (2016) dalam bukunya Antara Sejarah dan Mitos, Sejarah Melayu dan Hang Tuah dalam Historiografi Malaysia, masih sangat diragukan. Namun apa sebenarnya yang perlu ambil sebagai pelajaran dari Laksamana Hang Tuah ?, Hikmat Adam (2016) menyatakan bahwa Laksamana Hang Tuah adalah suatu penokohan tokoh dengan sosok sebagai Pejabat yang setia terhadap Sultannya, meski menurut Hikmat Adam (2016) dalam penjelasannya nama Hang Tuah sendiri dalam Sejarah Melayu tidak disebutkan namanya sebagai orang yang memiliki nama sebagai Hang Tuah. Kesetiaan ini merupakan aktualisasi sumpah setia bangsa Melayu terhadap rajanya yang telah ada turun menurun dari Sri Tri Buana dan Demang Lebar Daun di Bukit Siguntang, dan Hang Tuah masih menaati sumpah setia Melayu tersebut, sehingga bagi Hang Tuah, pantang Melayu menderhaka kepada rajanya.

Ini salah satu pelajaran yang patut dicontoh dari Laksamana Hang Tuah yang selama ini dipercaya sebagai manusia yang sangat setia, konsisten dan penuh integritas kepada pemimpinnya. Selain Laksamana Hang Tuah, ada Laksamana Hang Jebat, yang menurut Hikayat Hang Tuah, merupakan sauadara sepermainan, seperguruan Hang Tuah yang kemudian menggantikan jabatan Hang Tuah sebagai Laksamana. Namun Hang Jebat harus dibunuh oleh Hang Tuah sendiri akibat berlaku derhaka terhadap sultannya setelah ia mendapat jabatan. Namun sikap Hang Jebat tersebut adalah sebuah pelajaran perjuangan marwah dan harga diri dari pemimpin yang semena-mena.

Hang Tuah memiliki ketaatan dan kesetiaan yang sangat tinggi, sehingga sikap apapun yang pernah dilakukan oleh sultan pada Hang Tuah, ia tetap setia dan taat, namun bagi Hang Jebat sikap kritis dan unjuk rasa itu penting untuk menunjukkan bahwa pemimpin atau pemerintah itu tak selamanya benar. Raja Alim Raja disembah, Raja Zalim Raja disanggah. Ini prinsip Hang Jebat yang patut dipelajari, menegakkan kebenaran dan keadilan meskipun itu banyak halangan dan rintangan di depannya. Namun marwah adalah marwah yang harus tetap diperjuangkan meski harus berkorban nyawa.

Laksamana yang juga turut pernah berperan dalam Kerajaan Melaka yaitu Laksamana Khoja Hasan. Seorang Laksamana yang menurut catatan sulalatus salatin menggantikan Laksamana Hang Tuah, dan merupakan menantu Hang Tuah, “tiga hari baginda tiada nobat, maka Khoja Hasanlah yang menjadi Laksamana, menggantikan mentuanya” (Sulalatus Salatin Versi Muhammad Yusoff Hashim, 2015). Namun sayangnya, masa akhir jabatan Laksamana ini tidak begitu baik, hal itu akibat peran beliau memberikan kabar bahwa Datuk Bendahara Tun Mutahir ingin menderhaka dengan membeli ciu emas dan kaos emas, kemudian ingin menjadi Raja di Melaka.

Kabar itu diterima tanpa usul periksa oleh Laksamana Khoja Hasan karena atas pengaduan Datuk Syahbandar Mendeliar, hal tersebut menyebabkan Bendahara Tun Mutahir harus dihukum bunuh oleh Sultan Mahmud Syah I. Kemudian hari, diketahui Sultan Mahmud Syah I bahwa hukuman tersebut ternyata salah dijatuhkan, dan Laksamana Khoja Hasan terpaksa dipecat dari jabatan Laksamana oleh Sultan akibat tidak mempelajari terlebih dahulu pengaduan dari orang lain.

Pelajaran yang dapat diambil adalah bahwa ketika sesorang memegang jabatan penting disebuah institusi apalagi sepenting dan semulia jabatan Laksamana, maka haruslah berhati-hati dalam memutuskan informasi yang akan diberikan kepada atasan. Jabatan Laksamana yang begitu berpengaruh akan menyebabkan ada pihak lain yang dirugikan baik harta atau bahkan nyawa. Karena hal itu penting bagi jabatan seorang Laksamana, memeriksa keabsahan pengaduan dari masyarakat ataupun orang lain. Keputusan yang diambil haruslah bijak agar tidak ada pihak yang dirugikan dan keputusan haruslah tercipta dengan rasa keadilan.

Selanjutnya ada nama Laksamana Hang Nadim. Laksamana yang berdasarkan catatan sulalatus salatin yang berhasil membawa Tun Teja kepada Sultan Mahmud Syah I. Selain itu dalam sulalatus salatin juga dijelaskan bahwa setelah Laksamana Khoja Hasan tiada, maka Hang Nadim diangkat menjadi Laksamana.

Berdasarkan sulalatus salatin versi Muhammad Yusoff Hashim (2015) menyatakan bahwa Laksamana Hang Nadim adalah Laksamana yang gagah, sebanyak tiga puluh dua kali berperang melawan Peringgi (Portugis). Hal itulah yang dapat kita pelajari dari sosok Laksamana Hang Nadim tersebut. Hang Nadim merupakan anak Hang Jebat dengan Dang Wangi (Ensiklopedia Melayu, 2013).

Jiwanya sama seperti mertuanya bernama Hang Tuah, karena Hang Nadim juga menikahi anak Hang Tuah yang sulung menurut catatan sulalatus salatin versi Muhammad Yusoff Hashim (2015). Hang Nadim merupakan Laksamana yang gagah, setia, dan pantang menyerah. Sehingga ia berdasarkan catatan sejarah, terlibat dalam mempertahankan Melaka dalam gempuran Portugis.

Di zaman Kerajaan Johor dua Laksamana yang perlu kita bahas dan kita ambil sebuah pelajaran dari sikap atau dari apapun yang mereka kerjakan. Pertama adalah Laksamana Tun Abdul Jamil. Laksamana yang berdasarkan catatan sejarah, hidup pada pada pemerintahan Sultan Johor yaitu Sultan Abdul Jalil Syah III dan Sultan Ibrahim Syah. Laksamana ini terkenal dan fenomenal setelah membuka Sungai Carang Hulu Riau sebagai bandar perdagangan baru menggantikan kejayaan Melaka.

Sejarah ini terjadi pada era pemerintahan Sultan Abdul Jalil Syah III pada kurun tahun 1673 (Setyadiharja dan Nugraha, 2016). Sosok Laksamana yang bijak dalam memperluas wilayah kekuasaan Kesultanan adalah hal yang patut kita ambil iktibar, dan selain itu Laksamana Tun Abdul Jamil juga merupakan seorang pejabat yang visioner dan penuh pertimbangan yang matang atas perintah atasannya, sehingga kerja membuka sebuah wilayah baru yang kemudian dijadikan pusat pemerintahan dapat terealisasi dengan baik. Maka Laksamana Tun Abdul Jamil merupakan sosok yang mulia dan pantas untuk menjadi salah seorang Laksamana pantunan bagi bangsa Melayu.

Terakhir adalah seorang Laksamana yang bernama Laksamana Megat Sri Rama atau dikenal dengan nama Laksamana Bentan.  Seorang Laksamana yang karena perbuatannya, alur sejarah dan trah penerus kerajaan Melayu harus berpindah ke garis keturunan Bendahara. Sosok Laksamana yang menderita akibat istri tercintanya terpaksa dihukum bunuh dengan kejam oleh Sultan Mahmud Syah II atau lebih dikenal dengan Sultan Mahmud Mangkat Dijulang.

Tufhat Al Nafis telah jelas menceritakan dendam Laksamana Megat Sri Rama, seorang Laksamana yang dengan beraninya bukan saja menderhaka namun berhasil membunuh sultannya, sehingga sultan muda itu, Sultan Mahmud Syah II tewas di atas julangnya pada tahun 1699. Seorang Laksamana yang kini dipercayai dimakamkan di Kampung Kelantan Kota Tinggi Johor karena tewas pada saat yang sama ketika ia membunuh Sultan Mahmud Syah II. Namun hal yang harus kita ambil sebagai iktibar adalah sikap tegas Laksamana Megat Sri Rama terhadap keputusan membela marwah dan harga dirinya dan keluarga yang telah diperlalukan dengan tidak semena-mena oleh Sultan.

Laksamana Megat Sri Rama menyadari bahwa apa yang telah dilakukan sultan kepada istrinya Dang Anom, adalah bentuk kezoliman pemimpin terhadap rakyatnya, tanpa sengaja berarti Laksamana Megat sadar atas Prasasti Bukit Siguntang, bahwa ketika pemimpin zolim terhadap rakyatnya maka akan datang suatu saat kehancuran negeri atau pemerintahannya, dan penderhakaan Megat adalah sebuah sarana dan sebab kehancuran pemerintahan yang dimasa itu dipimpin oleh Sultan Mahmud Syah III.

Akibat dari perbuatan zolim tersebut, maka tahta kesultanan terpaksa berpindah ke garis keturunan Bendahara yang di masa itu dipegang oleh Bendahara Abdul Jalil yang kemudian menjadi Sultan Abdul Jalil IV. Dengan sikap Megat yang menderhaka tersebut, memberikan sebuah pembelajaran bahwa bangsa Melayu jangan ingin marwahnya diinjak-injak jika ia berani pada jalan yang benar. Meski ada sebuah larangan, pantang Melayu menderhaka, namun selama itu dalam konteks pemimpin yang bijak, jika tidak, maka sikap kritis dan menegakkan kebenaran merupakan yang penting bagi bangsa Melayu.

Dari beberapa penjelasan di atas, maka apapun yang telah terjadi dan dilakukan oleh sederatan nama Laksamana Kerajaan Melayu di atas, baik positif dan negatif ada sebuah nilai yang dapat kita teladani,  yaitu sikap setia, komitmen, integritas, pantang menyerah, dan visioner namun selama itu dalam konteks pemerintahan berjalan dengan stabil dan pemimpin yang memimpin memiliki tindakan yang bijak, namun sikap kritis, membela marwah dan harga diri penting ketika menghadapi pemimpin yang zolim dan semena-mena terhadap rakyatnya.*** (JM)

Tinggalkan Balasan