Biskuit atau Roti Kebeng Celup?

Oleh : Husnizar Hood*

0
501 views

Tau biskuit? Orang kampung saya menyebutnya dengan “biskut” saja. Lebih mudah dan tak terkesan miang karena kalau ada huruf “i” nya, terdengar seperti bunyi “suit…suit…”, siulan samsing kampung mengusik anak gadis orang.

Dalam kamus bis·ku·it  Itu adalah kue kering yg dibuat dari adonan tepung (terigu dsb) dan telur dengan atau tanpa diberi gula (biasanya dibuat di pabrik dan dijual dalam bentuk kalengan).

Bagi orang kita biskut itu sangat penting keberadaanya karena dia menjadi makanan pengisi suasana. Sewaktu pagi kalau kebetulan tak sempat membuat sarapan biskut itulah penghantinya kemudian kalau turun ke laut biskut itu juga adalah bekalnya atau sore hari ketika senggang ia menjadi teman sambil ngopi, aduh mak, sedapnya.

Biskut itu panggilan umum, kalau orang kita sebenarnya tak menyebutnya dengan sebutan asal bahasa Inggris itu, tapi saya dan mereka lebih mengenalnya dengan menyebutnya dengan “Roti Kebeng”. Pernah dengar?

“Setiap menikmati roti kebeng itu selalu saja dia memberikan cerita, kisah masa lalu yang hanya kami tau berdua”, ah itu bukan kalimat saya, itu adalah hasil pencarian saya di google ingin tau apa artinya kata “kebeng” yang sudah melekat itu.

Tapi sayang saya tak bertemu hanya berjumpa dengan sepenggal kalimat indah itu dan itupun dalam cerita orang Pontianak sana.

Oh ya, Pontianak dan Kepulauan Riau itu masih ada pertalian dalam sejarah besar kita, ada pelarian untuk mempertahakan kekuasaan pada waktu itu hingga sampai ke Mempawah sana, budayanyapun katanya hampir sama. Paling tidak kita sama-sama kenal dengan roti kebeng ini.

Ya, roti kebeng itu kalau dikategorikan, dia masuk dalam keturunan rumpun biskuit juga pasal bentuknya persegi agak keras, rasanya lemak dan sedikit asin. Karena itu, menikmati roti kebeng, biasanya harus dicelup dulu ke dalam air kopi atau teh agar lembut jadinya.

Nikmat yang menyatu antara kelembutan roti kebeng yang asin dan kopi pahit yang manis, apalagi kalau itu ditambah susu agak sulit juga saya menceritakan akan cita rasanya.

Yudha teman saya yang pagi ini menikmati roti kebeng itu saya yakin hanya ikut-ikutan saja, dia keturunan jawa sebenarnya hanya menetap di negeri kita ini sejak ia kecil lagi ketika keluar dari daerah transmigrasi, hmmm…entah betul entah tidak menurutnya dia baru tau cara menikmati roti kebeng itu setelah di negeri Melayu, sebelumnya hanya “roti sumbu”. Mendengarnya saya agak terharu.

Yang menjadi soal adalah bukan hanya roti kebeng itu saja cara untuk memakannya tapi hampir setiap berjumpa kue dan kopi orang Melayu, entah kenapa bagai tak tahan untuk segera mencelupnya baru kemudian mereka menelannya.

Sampai hari ini itu terjadi, tak peduli di kedai kopi atau atau hotel bintang lima, kalau melihat ada orang yang mencelup kuenya ke kopi mereka saya mulai berpikir jangan-jangan orang itu datang dari negeri yang sama. “Minum kopi dan roti dan sebelum minum mereka mencelup roti dulu, itu orang melayu”.

Roti kebeng itu menurut saya adalah bagaimana kita menikmati hidup ini, mensyukurinya dengan mencoba memadukan rasa dan benda yang berbeda untuk mendapatkan rasa yang lebih nikmat, bukankan perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan.

Ini adalah soal kearifan dalam mensiasati apa yang kita hadapi, kalau roti kebeng saja kita makan atau kita ketemuakan dengan bukan kopi rasanya dia tak menjadi atau kita hanya minum kopi saja tanpa roti kebeng bersama tentulah hampa jadinya.

Yang tak boleh adalah roti kebeng itu lemau dan dia dicelup dalam kopi sejuk atau tak panas lagi, saya pikir kita akan merasakan seperti apa yang terjadi pada hari ini, kita saling menyalahkan mungkin roti kebeng yang tak gurih dan menyalahkan kopi yang tak hangat,  kita menganggap itu semuanya akan menjadi masalah, ya masalah bangsa ini, negeri ini, padahal sebenarnya kita yang tak tau masaalahnya apa dan pastilah kita akan tak tau memecahkan masalah itu bagaimana.*

Artikel SebelumMengenal Ritual Semah Jong
Artikel BerikutIslam Dalam Dunia Melayu
HUSNIZAR HOOD, 49 tahun. Orang Tanjungpinang Kepulauan Riau. Sangat menyukai seni, terutama sastra. Beberapa buku puisinya Kalau - Tiga Racik Sajak dan Tarian Orang Lagoi. Tahun 2004 menerima Anugerah Sagang kategori seniman serantau. Tahun 2016, Husnizar menjadi seniman perdana yang menerima anugerah jembia emas. Puisinya Dongeng Pasir digubah menjadi sinema layar kaya. Hobinya menjadi politisi, pekerjaannya seniman. Sebab itu, Husnizar menggagas banyak even kesenian di Kepulauan Riau. Semakin Miang Semakin Disayang adalah buku kelima yang menghimpun tulisannya di kolom Temberang, Batam Pos. Selama dua belas tahun itu, sudah menjadi empat buku terdahulu. Orang Melayu cuma Pandai Bercerita, Mahmud Jadi Dua, Lebih Baik Mati Berdiri daripada Hidup Berlutut, dan Mahmud is Back. Sejak 2006 menjadi Ketua Dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau “menyambi” jadi Wakil Ketua II DPRD Kepulauan Riau. Husnizar meyakini, kebudayaan itu hal yang harus diperjuangkan, politik itu cara memperjuangkannya.

Tinggalkan Balasan