Oleh:

RENDRA SETYADIHARJA

Pantun menurut Renward Branstetter dalam Suseno (2006) mengemukakan bahwa kata “PANTUN” Berasal dari kata “PAN” yang berarti “Sopan/Beretika”, dan kata “TUN” yang berarti “Santun/Teratur”. Kata “TUN” pada bahasa Melayu berarti “Arah/Pelihara/Bimbingan” seperti kata yang ditunjukkan oleh kata “Tunjuk” dan “Tuntun”. Menurut UU Hamidy (Suseno: 2006) mengungkapkan bahwa pantun adalah Bahasa terikat yang dapat memberi arah, petunjuk, tuntunan, dan bimbingan.

Pengertian pantun tersebut sejalan dengan pernyataan yang disampaikan oleh seorang pengkaji Budaya Melayu bernama R. O. Winsted. Winsted berpendapat bahwa Pantun bukanlah sekedar gubahan kata-kata yang mempunyai rima dan irama, tetapi merupakan rangkaian kata yang indah untuk menggambarkan kehangatan seperti cinta, kasih sayang, dan rindu dendam penuturnya. Dengan kata lain, pantun mengandung ide yang kreatif dan kritis, serta pada kandungan maknanya.

Menurut Maman S. Mahayana (Suseno: 2006) adalah yang menunjukkan bahwa pantun merupakan identitas Melayu yang meliputi,  merupakan karya asli bangsa Melayu (dalam perspektif ras Melayu), Mencakup semua orang Melayu (dalam perspektif ras Melayu) dan digunakan dalam berbagai tempat dan kesempatan. Menyambung apa yang dikatakan oleh Mamam S. Mahayana, maka pantun biasa digunakan dalam hal-hal sebagai berikut, Sebagai bahasa tutur (alat komunikasi)  masyarakat, ritual adat seperti Adat istiadat perkawinan, Adat istiadat tepak sirih, dan lain-lain, Untuk menghibur anak dan menidurkan anak serta sebagai Nasehat.

Pantun selain sebagai sebuah tradisi lisan yang sering diucapkan oleh masyarakat di semenanjung Melayu. Pantun juga pernah ditulis dalam bentuk beberapa karya sastra tulisan.  Pantun sebagai tradisi tulisan pernah dibukukan beberapa kali. Seperti pantun Melayu yang pernah dibukukan oleh Haji Ibrahim yang merupakan sahabat Raja Ali Haji dengan judul buku yaitu Pantun-Pantun Melayu Kuno yang diterbitkan pada tahun 1877. Selain itu Pantun sebagai Tradisi Tulisan juga pernah menjadi buku seperti buku berjudul Kurik Kundi Merah Saga Kumpulan Pantun Lisan Melayu, dan juga buku Pantun Nasehat karya Alm. Tenas Effendi.

Pantun sebagai tradisi tulisan juga pernah ditulis oleh Tun Sri Lanang dalam buku Sulalatus Salatindimana pantunnya berbunyi demikian,

 

Telur Itik Dari Senggora

Padan Terletak di Langkahi

Darahnya titik di Singapura

Badannya terlantar di Langkawi

 

Pantun ini ditulis sebagai bagian dari sejarah Tun Jana Khatib yang kemudian dihukum mati karena telah mempertunjukkan kehebatannya di depan permaisuri Paduka Sri Maharaja, penguasa yang menguasai Kerajaan Tumasik pada kurun itu. Setelah peristiwa penghukuman mati Tun Jana Khatib tersebut Singapura pun dilanda bencana yaitu Singapura di langgar todak. Pantun di atas yang ditulis oleh Tun Sri Lanang merupakan pantun sebagai tradisi tulisan yang ditulis pada sebuah karya sejarah pada kurun abad ke 13.

Selain pantun tersebut, ada juga pantun lain yang kemudian ditulis sebagai tradisi tulisan pada kurun abad 19 yang ditulis oleh Munshi Abdullah dalam buku Hikayat Abdullah yang berbunyi;

 

Burung belibis di atas lantai

Buah rambai dalam peti

Tuan Raffles orang yang pandai

Tahu sungguh mengambil hati

 

Namun pantun-pantun sebagai tradisi lisan, kemudian menjadi tradisi tulisan, apakah pantun akan tetap dikenal oleh generasi sekarang yang pada zamannya sudah terkontaminasi dengan arus globalisasi yang sangat pesat. Dengan asupan teknologi, mode dan gaya hidup yang berbeda. Pada konteks tersebut, pantun pun harus bertransformasi sesuai dengan kebutuhan pasarnya. Agar pantun tetap dapat dinikmati atau bahkan pantun menjadi sebuah karya yang mampu memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Transformasi pantun pada saat ini adalah menjadi bagian dari sebuah seni pertunjukkan yang kemudian dapat dinikmati dengan cara yang lebih mudah dan dinamis, daripada hanya sekedar tradisi lisan dan tulisan yang kemudian dibukukan. Pantun bertransformasi sebagai seni pertunjukkan menjadi beberapa bentuk sajian yang dapat dinikmati.

Pertama, pantun sebagai seni pertunjukkan berbalas pantun. Tradisi berbalas pantun merupakan tradisi yang paling sering kita lihat. Pada awalnya tradisi ini merupakan tradisi yang berkembang di dalam adat perkawinan di beberapa daerah di Indonesia. Di Kepulauan Riau tradisi berbalas pantun di dalam sebuah perhelatan perkawinan masih sering kita lihat dan dengar. Begitu juga di beberapa daerah lainnya di Sumatera. Di Betawi sendiri pun, masih sering kita dengar tradisi berbalas pantun dalam adat perkawinan. Pada perhelatan adat perkawinan biasa berbalas pantun diadakan pada saat menghantarkan pengantin pria kepada pengantin wanita. Atau ada beberapa adat dimana pengantin pria ingin melihat pengantin wanita ketika hendak bersanding.

Namun adat berbalas pantun ini kemudian berkembang menjadi sebuah seni pertunjukkan yang mampu dilihat dan dinikmati banyak orang. Di Kota Tanjungpinang Kota Gurindam Negeri Pantun sendiri, tradisi berbalas pantun sudah dikembangkan dan digalakkan di sekolah-sekolah dan bahkan dijadikan sebagai sebuah ajang perlombaan berbalas pantun. Selain perlombaan berbalas pantun juga sebagai acara pertunjukkan komedi dalam beberapa acara tertentu. Dalam seni pertunjukkan berbalas pantun ini biasanya pemantun terdiri dari beberapa orang dengan jumlah genap, biasa dimulai dari minimal 2 orang, 4 orang, atau 6 hingga mencapai 10 orang, tergantung waktu untuk pertunjukkan yang disediakan. Dalam berbalas pantun, pemantun menjual pantun dengan berbagai tema mulai dari tema yang serius hingga kepada tema yang jenaka hingga penonton dapat menikmati kelucuan yang disajikan. Hal yang paling unik adalah spontanitas dari pemantun yang menjawab dan saling berbalas pantun tanpa menggunakan teks sama sekali. Para pemantun menjawab atau membalas pantun dengan durasi waktu yang sangat cepat tanpa menggunaan teks atau catatan sama sekali. Hal inilah yang membuat seni pertunjukkan ini menjadi sangat menarik, terlebih jika tema yang diucapkan menjadi pantun mengandung unsur jenaka. Maka penonton dibuat tidak bosan dan penonton dibuat ikut menikmati canda dan tawa yang disajikan oleh para pemantun.

Kota Tanjungpinang sendiri telah berhasil menyajikan seni pertunjukkan ini menjadi suatu hal yang menarik sehingga mendapatkan anugerah Rekor MURI dalam berbalas pantun terlama selama 6 jam tanpa berhenti di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tanggal 28 April 2008. Pada perhelatan ini, 7 orang pemantun saling berbalas pantun selama 6 jam tanpa ada satu pemantun pun yang berhenti saling berbalas pantun dengan berbagai tema dan berbagai macam kejenakaan yang ditampilkan. Selain itu Kota Tanjungpinang juga menyelenggarakan berbalas pantun ini dalam kegiatan Gawai Seni dimana berbalas pantun menjadi salah satu cabang perlombaan. Pesertanya beragam, mulai dari tingkat SLTA/SMA hingga kepada masyarakat umum yang mewakili kecamatan dan bahkan pertandingan berbalas pantun pernah juga diperlombakan antara kabupaten/kota se Provinsi Kepulauan Riau. Selain diperlombakan terkadang Berbalas Pantun juga sering menjadi sebuah seni pertunjukkan pada acara pembuka atau selingan acara hiburan dalam perhelatan tertentu di Provinsi Kepulauan Riau. Dengan adanya Berbalas Pantun acara yang diselenggarakan menjadi santai, penuh hiburan namun tidak menghilangkan substansi kebudayaan di dalamnya.

Kedua, pantun sebagai seni pertunjukkan Dondang Sayang atau Dendang Pantun. Dondang Sayang pada awalnya sebagaimana dijelaskan oleh Dahlan (2014) dalam bukunya Sejarah Melayu merupakan pola komunikasi bangsa China yang ada di Melaka, dimana sejarah menjelaskan bahwa bangsa Cina ini berasal dari keturunan Puteri Hang Li Po yang dinikahi oleh Sultan Mansyur Shah. Puteri Hang Li Po pada masa kurun tahun 1458 membawa 500 rombongan orang Cina. Kemudian dengan adanya orang Cina atau dengan kata lain disebut dengan “China-Baba” ini pola komunikasi antara orang Cina dengan Melayu selalu menggunakan orang pantun, yang kemudian disebut dengan Dondang Sayang yang hingga saat ini dikenal sebagai sebuah seni pertunjukkan.

Pada prinsipnya pertunjukkan Dondang Sayang ini sama seperti Berbalas Pantun, dimana tema pantun yang diucapkan dengan berbagai tema tergantung dari tema apa pemantun memulainya, kemudian jumlah pemantunnya juga harus berjumlah genap minimal dua pemantun, namun perbedaannya adalah pantun yang diucapkan dan dibalas harus menggunakan sebuah lagu yaitu lagu Dondang Sayang atau Serampang Laut. Lagu Dondang Sayang merupakan lagu dengan irama Langgam sementara Serampang Laut dengan Irama Joget. Adapun pantun yang diucapkan dan saling berbalas menjadi lirik dari irama kedua lagu tersebut. Hingga saat ini Dondang Sayang menjadi sangat terkenal sebagai sebuah seni pertunjukkan di Melaka dan juga di Kepulauan Riau.

Namun di Kepulauan Riau, Dondang Sayang ini kemudian dikembangkan lagi dengan lagu Melayu dengan irama yang lainnya, dan disebut dengan Dendang Pantun. Dimana tradisi berbalas pantun diucapkan dalam sebuah lagu dengan irama Melayu. Adapun lagu yang digunakan dalam Dendang Pantun adalah Pak Ngah Balik, Ala Emak Kawinkan Aku, Zapin Kasih dan Budi, Pucuk Pisang. Di Gorongtalo sendiri seni pertunjukkan berbalas pantun seperti ini disebut dengan Paiyo Hungi Ilo Poli, dimana terdapat berbalas pantun dengan bahasa Gorontalo kemudian didendangkan dengan lagu atau irama khas Gorontalo.

Ketiga, pantun sebagai seni pertunjukkan Opera Pantun. Opera pantun sesungguhnya merupakan sebuah seni pertunjukkan yang mirip dengan sebuah pertunjukkan teater, drama, atau Opera Bangsawan (kesenian opera di Kepulauan Riau). Dimana di dalamnya terdapat sebuah jalan cerita yang kemudian didukung oleh Lakon para tokohnya, musik, atau ditambah dengan tarian. Namun perbedaannya adalah pada Opera Pantun semua dialog dikemas dalam bentuk pantun, atau pantun mendominasi menjadi subtansi dari dialog yang diucapkan oleh para pemainnya. Cerita yang dimainkan tidak hanya bersifat sejarah Melayu belaka, namun dapat dengan tema yang lebih luas, selama pantun mampu menjadi bagian dari cerita opera tersebut.

Opera Pantun ini pernah dimainkan dalam sebuah perhelatan di Taman Ismail Marzuki Jakarta pada tanggal 29 April 2008, dimana pemainnya merupakan gabungan dari seluruh pemantun dari Kepulauan Riau dan beberapa tokoh teater di Jakarta, yang memainkan cerita tentang kehidupan sehari-hari bangsa Melayu mulai dari lahir, masa anak-anak, remaja hingga dewasa, dengan berbagai tema diperankan seperti cinta, nasehat agama, perkelahian, sampai ke pernikahan, dan pantun menjadi dialog pada setiap adegan cerita pada opera pantun tersebut. Opera Pantun ini juga didukung dengan nyanyian Melayu dan Tarian Melayu yang menjadikan seni pertunjukkan ini lebih nikmat untuk dinikmati oleh penonton. Disinilah pantun menjadi lebih dinamis dan atraktif. Opera Pantun yang diselenggarakan di Jakarta merupakan acara yang digagas oleh Yayasan Panggung Melayu, dimana skenario dari Opera Pantun itu ditulis Tusiran Seseno (seorang pakar pantun di Kota Tanjungpinang, dan disutradarai oleh Asrizal Nur yang merupakan penyair yang mengembangkan sastra khususnya Melayu di Jakarta. Gambar di bawah ini merupakan sebuah adegan perkelahian antara dua orang pemuda dimana dialog yang diucapkan adalah bentuk pantun.

Keempat, pantun sebagai seni pertunjukkan Monolog Pantun. Monolog Pantun sesungguhnya merupakan seni pertunjukkan yang berakar dari Monolog sebagaimana kita kenal selama ini. Monolog adalah suatu ilmu terapan yang mengajarkan tentang seni peran di mana hanya dibutuhkan satu orang atau dialog bisu untuk melakukan adegan/sketsanya. Monolog adalah percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri. Apa yang diucapkan itu tidak ditujukan kepada orang lain. Pada seni pertunjukkan Monolog Pantun, ucapan dan percakapan seorang pemain pada dirinya sendiri adalah dalam bentuk pantun. Meski memiliki jalan cerita tertentu akan tetapi dalam Monolog Pantun, pantun harus mendominasi dalam ucapan-ucapan orang yang memainkan Monolog Pantun. Monolog Pantun ini pernah ditampilkan dan dilombakan pada acara Festival Pantun Melayu Berwawasan Lingkungan Hidup Se Sumatera pada 20-22 Juni 2007 di Pekanbaru, Riau. Gambar di bawah ini merupakan salah seorang peserta yang menampilkan seni pertunjukkan Monolog Pantun pada ajang Festival Pantun Melayu tersebut.

Kelima, pantun sebagai seni pertunjukkan Tarung Pantun. Tarung pantun merupakan sebuah tradisi lisan yang kemudian berkembang menjadi salah satu seni pertunjukkan pada bangsa Melayu pada zaman dahulu. Sesungguhnya seni pertunjukkan ini sama seperti berbalas pantun, dan masyarakat lebih mengenal dengan sebutan Peraduan Berbalas Pantun. Namun disini jumlah pemantunnya lebih banyak (minimal dua orang pemantun) dimana setiap pemantun berdebat dengan pantun hingga salah satu diantara kedua pemantun atau beberapa pemantun kalah dan tak mampu lagi menjawab pantun dari salah seorang pemantun lainnya, dan pendapat pemantun yang tak mampu dikalahkan itulah yang dianggap sebagai pemenang dalam peraduan pantun ini. Pemantun yang ingin menjawab diharuskan berdiri, jika pemantun terakhir yang berdiri dan menjawab pantun dan tidak ada lagi pemantun lainnya yang berdiri untuk melawan pantun pemantun tersebut, maka pemantun terakhir itulah sebagai pemenang atau jawara pantunnya. Tarung pantun ini pernah dimainkan dalam sebuah Film Melayu Malaysia berjudul “Gurindam Jiwa” yang dimainkan oleh Nurdin Ahmad. Dimana tokoh Dahlan dikenal sebagai tokoh yang ahli dalam berpantun atau dikenal sebagai Jawara Pantun yang kemudian diangkat menjadi Pujangga Kerajaan. Tarung Pantun kini lebih dikenal sebagai Peraduan Berbalas Pantun dimana pemantun saling menjual dan membeli pantun, pantun yang paling baik, bagus dan sesuai dengan kaedah adalah pemenang peraduan berbalas pantun tersebut. Pada gambar di bawah ini memperlihatkan bahwa seseorang yang berdiri sedang menjualkan pantun pada pemantun lainnya yang sedang duduk, jika ada yang dapat menjawab maka pemantun lain akan menjawab dan begitu seterusnya hingga tidak ada lagi pemantun yang menjawab dan yang berpantun terakhir itulah pemenang Tarung Pantun.

Transformasi pantun menjadi beberapa bentuk sajian seni pertunjukkan di atas, adalah sebuah usaha bagaimana pantun dapat dinikmati dengan cara yang berbeda, yang kemudian menjadikan karya sastra ini menjadi lebih dinamis, dari hanya sekedar tradisi lisan yang memang sudah membudaya seantero nusantara ini, ataupun hanya sekedar karya sastra sebagai tradisi tulisan yang hanya dinikmati dalam bentuk karya sastra yang tertulis dalam buku. Namun dengan sajian sebagai seni pertunjukkan menjadikan pantun mampu lebih mudah dipahami dan dinikmati oleh siapapun. Namun yang paling terpenting, meski pantun di masa depan akan menjadi sebuah sajian seni pertunjukkan, namun filosofis pantun, substansi, kaedah dan nilai-nilai kesopanan yang ada di dalam tubuh pantun itu sendiri jangan sampai terlepas atau hilang. Karena bagaimana pun bentuk pantun, ia tetap merupakan karya sastra yang penuh akan nilai-nilai budi yang luhur.***

 

 

###

Makalah ini pernah disampaikan pada Pertemuan Sastrawan pada Pekan Sastra di Bengkulu 7 September 2016 dan pernah dimuat di Jembia Batam Pos Tanggal 11 September 2016

Tinggalkan Balasan