Angin utara masih bergema dan menderu, sama seperti 106 Tahun lalu. Persis seperti catatan Datok Syahbandar Lingga, Abang Yahya dalam sebuah catatannya, pada Rabu 8 Februari 1911 dituliskan “…tidak hujan angin utara kencang”, kurang lebih begitu kutipan singkatnya.

Bulan Februari 2017 ini, bukan saja mengingat kembali tentang angin utara yang bertiup kencang menggerunkan para pelaut. Namun juga tepatnya hari Jumat tanggal 10 Februari 2017 mengingatkan kembali pada kejadian hari yang sama. Yakni pada Jumat 10 Februari 1911, ketika Sultan Lingga-Riau ke – V Abdurrahman Muazzam Syah (1883-1911) dan anaknya Tengku Besar Umar dipecat pemerintah Hindia Belanda.

Sultan Abdurrahman Muazzam Syah (1883-1911). (Foto: Net)

Sehari sebelumnya, tanggal 9 Februari 1911 pasukan Marsose Belanda telah mendarat di pulau Penyengat. Tujuannya untuk mengamankan dari berbagai kegaduhan (Kerusuhan red) yang diduga bakal timbul oleh pihak yang menentang kebijakan Belanda tersebut. Belanda bukan saja mendaratkan pasukan namun telah menyiagakan dua kapal perang dengan meriam siap tembak menghadap ke pulau Penyengat.

Pada Jumat pagi tanggal 10 Februari 1911 berlabuh sebuah kapal perang Belanda. Kapal Torpedo dan kapal Ransum di laut pulau Penyengat itu. Pada pagi itu juga Residen Riau Bruijn Cops dan para serdadu Marsose Belanda mendarat di pulau Penyengat. Riuh rendah lah dan menjadi ramai dengan Para serdadu berbaris di jalan-jalan pulau kecil tersebut. Siap tempur dengan pedang yang terhunus.

Sementara di waktu yang sama, surat yang berisi pemecatan Sultan Abdurrahman Muazzam Syah di tempel di tembok Masjid Penyengat agar diketahui oleh semua orang.

Pada hari itu Sultan tidak berada ditempat. Sultan tidak berada di pulau Penyengat. Ia berada di Lingga. Masa itu orang-orang penting yang berada di pulau Penyengat ialah Tengku Besar Umar, Tengku Ampuan Besar Jahara dan Raja Ali bekas engku Kelana Riau-Lingga.

Belanda melalui Residen Riau telah memerintahkan untuk menyonsong Sultan ke Lingga.

Sebuah kapal Jaga diberangkatkan dari Tanjungpinang. Kapal dengan nama Burak berangkat ke Lingga untuk menemui Sultan. Rupanya sang Sultan juga dalam perjalanan menuju Riau (Tanjungpinang red) dan bertemu dengan kapal Burak di selat pintu perairan kepulauan Senayang (sekarang wilayah kecamatan Senayang, kabupaten Lingga). Kedua kapal berhenti dan seorang utusan Belanda telah menaiki kapal Sultan menyampaikan sepucuk surat bersampul kuning. Berisi tentang pemecatan dari pihak Belanda.

Selepas itu kedua kapal beriringan menuju Riau Pulau Penyengat. Di pulau Penyengat Sultan telah bertemu dengan Residen Riau namun keputusan pemecatan tetap dilaksanakan. Pada malam Sabtu atau Jumat malam itu juga, Sultan bersama keluarganya yakni Isterinya Engku Puan Jahara, Tengku Besar Umar dan para pengikutnya menggunakan kapal pribadinya Sri Daik meninggalkan Penyengat. Menuju Singapura.

Kerabat Kesultanan Lingga-Riau. (Foto: Net)

Sejak saat itu, Sultan Lingga-Riau menjadikan pulau Singapura sebagai tempat kediamannya. Sejak itu juga, baginda tidak pernah kembali lagi ke Lingga-Riau buat selama-lamanya. Sebelum meninggalkan Lingga-Riau, Sultan Abdurrahman juga telah beberapa kali mengunjungi Singapura untuk bertemu dengan sanak keluarganya.

Lebih kurang 27 Tahun menetap di Singapura, tepatnya pada hari Ahad pukul 07.15 WIB tanggal 28 Desember 1938 di rumahnya dengan Nomor 985, Batu dua setengah, Seranggung Road bekas Sultan Lingga-Riau itu mangkat. Menantu almarhum Tengku Muhammad Syah bekas Sultan Terengganu dan Tungku Ismail Tengku Mahkota Johor turut hadir melayat jenazah almarhum. Almarhum dikebumikan di Bukit Raden Mas Teluk Belanga Singapura.

Penulis :Idalf Kiad
Editor: Hasbi Muhammad

Tinggalkan Balasan