Menabur Budi Vs Berhutang Budi

0
848 views

Oleh: M. Febriyadi

Orang Melayu  begitu akur dengan perubahan yang terjadi terhadap kebudayaannya. Perubahan kebudayaan cenderung kepada hal-hal yang berbentuk adat istiadat Melayu. Padahal adat merupakan nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi jati diri orang Melayu.

Kita tidak bisa pungkiri, bahwa globalisasi memaksa kita harus memiliki pemikiran dan pemahaman progressive terhadap budaya dan ciri-ciri budaya Melayu yang kita junjung. Walaupun pada akhirnya, keterpaksaan tersebut meletakkan kebudayaan dan kehidupan kita berada di posisi paling belakang. Itu terjadi jika kita berpikir dan mengunakan perasaan tanpa kecerdasan. Dengan kata lain, kecerdasan jasmani dan rohani berperan penting dalam menentukan posisi budaya dan kehidupan manusia dalam membangun peradaban Melayu ini.

Peradaban Melayu mewarisi konsep budi, yakni pribadi manusia yang memiliki akal dan budi. Budi adalah struktur terdalam Melayu atau struktur batiniah yang Tuhan anugerahkan kepada manusia. Orang Melayu yang berbudi adalah golongan manusia yang memiliki humanity, morality, dan etika Melayu  yang sarat dengan ketauhidan kepada Tuhannya.

“Kekuatan dan keindahan budaya Melayu terakam dalam halus dalm pantun dan petatah-petitihnya. Melalui khazanah budaya tersebut kita dapat memahami dan menghargai akal budi orang Melayu. Budi, sebagaimana tercermin dalam pantun dan pepatah tersebut menjadi sendi atau tunjang falsafah masyarakat Melayu yang begitu dimuliakan dan ingin diterapkan dalam kehidupan.

Tetapi budi ini jugalah menjadi sumber kelemahan dan kejatuhannya. Ini karena apabila seseorang Melayu sudah termakan budi, ia mudah diperalat. Generasi muda hari ini mesti memahami pengaruh budi ini dalam masyarakatnya. Untuk maju, kita jangan mudah menerima budi, tetapi haruslah berusaha untuk menabur budi”(Tenas Efendi, budayawan Riau dalam dialog Selatan 1 di johor Baharu pada 26 Januari 1992)

Begitu gagah Tenas Efendi menyatakan bahwa orang Melayu harus menabur budi, jangan banyak termakan budi. Inilah bagian dari pembentukan karakter yang dihimbau kepada generasi muda Melayu agar terbebas dari rantai-rantai hutang budi yang membelenggu. Ketika orang sudah termakan dan berhutang budi, maka keberpihakan cenderung menjadi buta.

Menjadi tangung jawab yang mutlak berada di pundak masing-masing generasi muda Melayu memberikan makna terkait konsep budi yang begitu diunggulkan orang-orang Melayu. Makna dan bentuknya mesti bernyawa sesuai dengan tuntunan zaman , dan arus globalisasi.

Hal ini guna menjadi kekuatan kita dalam memikul tanggung jawab dan menutup segala celah yang bisa menjadi titik lemah kebudayaan Melayu. Suntikan ilmu sangat diperlukan dalam membuat warisan budaya ini tetap perkasa dan eksis di tengah masyarakatnya. Realitas tersebut diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang arif budaya.

Melalui pendidikan dan keilmuan budaya yang diajarkan dan ditularkan kepada generasi muda Melayu, fungsi dan bentuk menabur budi yang bermakna dan berkesan perlu diterapkan. Generasi muda dapat dididik untuk keluar  dan bebas dari lingkaran hutang budi yang merantai masyarakat selama ini.*** (Jm)

Tinggalkan Balasan