Congkak - Sumber Foto: http://riauberbagi.blogspot.co.id/2016/06/permainan-tradisional-melayu-riau-congkak.html

Bismillah,

Dikabarkan bahwa permainan congkak (Congklak) bagi kaum melayu merupakan permainan elit di zaman kejayaan kesultanan. Tidak ada sesiapa yang bisa menerka darimana muasal permainan ini, yang jelas pasca robohnya kesultanan Riau-Lingga segala bentuk permainan yang hanya dimainkan anak-anak bangsawan mulai tumpah di masyarakat.

Bukan tanpa alasan kaum jelata dimasa itu bisa memainkan permainan bangsawan, asbabnya kaum bangsawan sudahpun bercampur baur dengan rakyat, termasuklah pula permainan-permainan elit seperti congkak ini.

Dari beberapa bacaan, disebutkan pula adanya bahwa cogkak berasal dari dunia Afrika atau Arab, sebab menilik dari bukti tertua yang dijumpai oleh cari gali purba yang dibiayai oleh Persatuan National Geographic, masa itu mereka menjumpai kepingan batu kapur yang mempunyai dua liang selari bertarikh semenjak 5000 hingga 7000 tahun sebelum masehi- wallahu’alam.

Kononnya lagi, dari Timur Tengah, congkak ini melalui menjajab ke Afrika, lalu ke Asia melalui pedagang arab.
Di Asia Tenggara, congkak mungkin berkembang dari Melaka, karena memandangkan negeri itu dulunya merupakan pusat perdagangan. Nama “congkak” itu sendiri dipercayai berasal dari perkataan Bahasa Melayu “conglak” yang bermaksud pengiraan mental.

Bahkan jua adanya disebutkan kanak-kanak di Kepulauan Caribbean juga sama bermain congkak. Congkak dipercayai sampai ke sana juga melalui lajur dagang. Di sana, congkak dikenali sebagai warri atau awari. Di Indonesia, dikenali dengan nama congklak, sementara di Filipina orang-orang itu menyebutnya sungka.
ualan diatas itu hanyalah mukaddimah saja, supaya tiada terkejut dan tersawan-sawan jika semena-mena masuk kepada nilai kaji daripada congkak itu adanya.

Sepintas, permainan congkak sangatlah sederhana, cukup 2 orang yang saling berhadapan itu duduk di hadapan sekeping papan berlubang tumpat dengan 7 ketul biji ataw sebarang manik-manik yang ada termasuk kerikil biasa juga bisa.

Di bulan puasa, congkak seakan memukau para pemainnya, asiknya permainan itu membuat minda lupa tentang ketibaan masa berbuka puasa, padahal sejatinya, awal mula dimulai lepas lohor atau asar. Artinya sudah hampir 3-4 jam lewat suku pemain congkak itu masygul dihadapan sekeping papan.

Meski sesederhana itu cara bermainnya, namun siapa sangka, congkak menyimpan rahasia di hampir tiap lobangnya. Rahasia pertama adalah nilai ajar dari pentingnya strategi dalam bertindak, jika tersalah agak pemain congkak mustahil bisa menggulirkan biji congkak hingga berkali-kali pusingan.

Rahasia kedua adalah kejujuran, bukan hanya dengan lawan main yang hanya seorang di hadapan kita saja, tapi juga jujur pada setiap lobang yang hendak diisi dengan bulir manik-manik itu adanya.

Sebab tidak sedikit kecurangan dalam bermain congkak ini, pemain bisa saja mengalih pandang dari lawannya untuk mengelak adanya lobang kosong yang mesti diisi, atau sengaja menyelinapkan 1 hingga dia butir biji memanik itu di ruang jemarinya sebagai berjaga-jaga kalau-kalau bertembung dengan lobang kosong.

Rahasia ketiga adalah kehati-hatian, sebab bulir biji-biji congkak itu juga mampu mempuat kita alpa mengira antara sudah atau belum dalam mengisi lubang, terlebih bagi yang sudah melampaui berkali-kali pusingan permainan.

Rahasia keempat adalah ketabahan dalam menunggu giliran, sebab apa? Meski lawan yang menjalankan permainan congkak, namun kita-kita sebagai yang menggu masa gilir hendaklah jua cermat memerhatikan pusingan dan gelinding biji congkak. Takutnya bisa saja kita jujur namun lawan bermain dengan kecundang bukan?

Agaknya menilik dari nilai kaji dari congkak itu jualah yang menyebabkan penyebarannya sebegitu luas di bumi Allah ini, selain asik juga mengajarkan diri tentang pentingnya 4 rahasia nilai di tiap lobang congkak itu adanya.

Dengan bermain congkak, terlebih berkali-kali melakukan pusingan demi pusingan, niscaya pengulangan-pengulangan itu mampu membenam nilai demi nilai menjadi sebuah prilaku yang arif dan bajik. ***

Tinggalkan Balasan