Nasi Dagang Digadang Jadi WBTB Nasional

0
735 views

NASI DAGANG hingga kini masih jadi pilihan utama sebagai menu sarapan. Umumnya di Kepulauan Riau, dan terlebih di Tanjungpinang, nasi yang ditanak menggunakan santan kelapa ini masih dengan mudah didapati di kedai-kedai. Biasanya dipadupadankan dengan sambal ikan tamban atau irisan tongkol pedas.

“Harganya Rp 5 ribu,” terang Siti, seorang pedagang kue-mueh di bilangan Jalan Pemuda, kemarin.

Dalam sehari, Siti menuturkan bisa menjual lebih dari 20 bungkus nasi dagang yang dititipkan oleh pemiliknya di lapak jualannya. Umumnya pembeli nasi dagang adalah mereka yang ingin makan pagi namun tidak dalam porsi besar. Alasan yang masuk akal. Mengingat dalam sebungkus nasi dagang, bisa ditaksir hanya sekitar lima enam sendok suapan orang dewasa.

“Biasanya juga jadi bekal anak ke sekolah,” tutur Siti mengenai kebiasaan para pelanggannya.

Pada tahun ini, Nasi Dagang akan naik kelas. Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Kepri telah mengusulkan 74 karya budaya empat provinsi agar ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional. Dari Jambi dan Bangka Belitung masing-masing ada 12 karya budaya, dari Riau sebanyak 27 karya, dan Kepulauan Riau mengusulkan 23 karya budaya.

“Satu di antaranya itu adalah Nasi Dagang,” sebut Dedi Arman seorang staf di Kantor BPNB Kepri di Jalan Pramuka Tanjungpinang.

Nasi Dagang tidak satu-satunya karya budaya kuliner yang diajukan. Masih ada Lakse Kuah, Lambok, Deram-Deram, Tembuse, Roti Belauk, Roti Kirai, Tepung Gomak, Kole-Kole, Lempeng Sagu/Tumpik, dan Laksemana Mengamok. Kemudian dari perkakas ada Serampang, Jaring, dan Kelong. Adapun dari sisi tradisi, ada Talam Dua Muka, Bejenkang, Ratif Saman, Menyemah Laut, Mandi Syafar, dan Tari Inai.

Koordinator WBTB BPNB Kepri, Hendri Purnomo mengatakan, total usulan di wilayah kerja Kepri sebanyak 74 karya budaya dan diharapkan banyak yang bisa ditetapkan. “Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah usulan lebih banyak. Harapannya tentu semakin banyak yang jebol untuk ditetapkan,” kata Hendri, pada siaran pers BPNB Kepri.

Kini, Kepala BPNB Kepri, Toto Sucipto bersama perwakilan empat provinsi sedang mengikuti acara rapat koordinasi usulan penetapan WBTB Indonesia 2017 di Hotel Millineum, Jakarta. Kegiatan rakor ditaja Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI. (JM)

Tinggalkan Balasan