Oleh: M. febriyadi

f-ilustrasi

Syair merupakan satu di antara sastra lama yang memesona. Syair bukanlah sekadar rangkaian kata-kata indah, namun merupakan sarana yang dibutuhkan seseorang untuk menyatakan sebuah kehendak, kecamuk jiwa, dan buah pemikiran dari berbagai realita yang terjadi pada waktu itu kemudian nilai-nilai yang terkandung didalamnya diharapkan bisa relevan untuk dijadikan amalan dalam pengajaran dan pembelajaran generasi selanjutnya di waktu yang akan datang.

Umumnya, cara penyampaian syair adalah dengan cara dilagukan/didendangkan. Khusus di  Kepulauan Riau, Irama selendang delima adalah irama yang paling dikenal dibandingkan dengan irama-irama lainnya dalam mendendangkan syair, baik di forum-forum resmi pemerintah, maupun di lingkup pendidikan sekolah dan perguruan tinggi, serta di kegiatan lomba dan hiburan lainnya di masyarakat. Tetap saja belum ada irama syair yang lain yang mampu menandingi kepopulerannya. Padahal irama-irama lain tak kalah hebat, yakni irama narasi/serawak, rawi, beghondak, kapal, burung, riau, siti zubaidah dan lain-lain. Dari permasalahan tersebut terjadi kemonotonan dalam mengapresiasi sebuah karya syair. Setiap syair pasti memiliki cara apresiasi yang berbeda-beda. Contoh sederhana menempatkan irama dalam mendendangkan “Syair Nasehat kepada Anak Karya Raja Ali Haji” dengan irama dodoi, “Syair Sinar Gemala Mestika Alam Karya Raja Ali Haji” dengan irama rawi, “Syair Perahu Karya Hamzah Fansuri” dengan irama serawak, dikolaborasikan dengan irama selendang delima dan kapal. Tentu syair-syair tersebut akan menjadi dendangan yang kreatif dan variatif sehingga benar-benar bisa menyentuh hati yang mendengarnya.

Kepedulian masyarakat akan syair ini mesti digalakkan lagi.  Bahkan hal yang lebih bermartabat telah dilakukan oleh beberapa pelestari irama syair asal Malaysia. Mereka bergerilya datang ke tempat-tempat di sekitaran Pulau Sumatera, yang kaya dengan warisan irama syair. Tujuannya untuk mengumpulkan dan mendokumentasi irama-irama syair tersebut untuk keperluan penelitian dan membunuh kekhawairan mereka akan minat bersyair masyarakat yang mulai pudar dan menghilang. Pusat dokumentasi yang efektif yang mereka gunakan adalah Youtube. Sebuah cara sederhana dan tulus untuk menghidupkan kembali syair ke tengah-tengah msyarakat dunia, khususnya untuk warisan masyarakat Melayu.

Kembali kepada sejarah syair yang pada masa lampau sungguh populer, hadir di tengah-tengah masyarakat Melayu sebagai satu di antara banyak hiburan. Tentu saja ianya bukan sekadar hiburan belaka, namun juga pengajaran dan pewarisan nilai-nilai yang bekerja  dan berkembang dalam masyarakat Melayu.

Mengenal teori syair sangatlah mudah. Syair adalah puisi yang berirama. Ia berasal dari Arab. Masuk ke Indonesia bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia. Dari bahasa arab, bertranformasi menjadi bahasa melayu klasik. Menurut Fang (2011 : 562), Syair adalah adalah salah satu puisi lama. Syair terdiri dari empat baris, setiap baris baris mengandung empat kata yang sekurang-kurangnya terdiri dari empat baris. Setiap baris mengandung empat kata. Ke empat baris dalam syair  merupakan satu bagian dari sebuah puisi yang lebih panjang .

Berdasarkan teori syair tersebut, tentu hal yang dipaparkan dalam syair adalah penceritaan sebuah kisah, yang memiliki fungsi cenderung untuk menyampaikan pengajaran melalui cerita dan lagu. Secara tidak langsung juga sebagai hiburan yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan. Namun dalam perkembangan sastra saat ini, Syair termarjinalkan oleh perkembangan sastra modern. Perlahan-lahan syair menjadi karya sastra yang asing bagi masyarakat Melayu itu sendiri.

Maka diperlukanlah sebuah langkah konkrit untuk menghidupkan kembali tradisi bersyair di lingkungan masyarakat Melayu. Sebuah keyakinan yang teguh, bahwa syair mampu bernafas kembali di masyarakat jika produk syair itu mampu dikemas dalam kemasan menarik dan sesuai dengan zamannya. Penulis akan rincikan tahapan yang mesti dilakukan untuk menjadikan kembali syair sebagai tradisi yang penuh nilai-nilai pengajaran, antara lain:

  1. Lingkungan Keluarga

Lingkungan keluarga adalah lingkungan tempat pertama kali anak mendapatkan pengajaran, baik dari orang tua, maupun anggota keluarga lainnya. Tradisi bersyair sebenarnya sangat efektif jika mulai diterapkan pada anak-anak sejak usia balita. Hal ini karena pengajaran syair di rumah diyakini mampu berperan sebagai sumber kearifan kehidupan berkeluarga. Orang Melayu selalu mengidamkan anaknya menjadi orang yang berhasil, baik lahiriah maupun batiniahnya. Jika kita berjalan ke kampung-kampung Melayu, masih sering kita dengarkan ibu-ibu mendendangkan syair dodoi untuk menidurkan anak-anak mereka di buaian maupun di gendongan. Selain guna menidurkan anak, mendodoi sekaligus mengajarkan anak nilai-nilai moral dan agama.

 

Laa Ilahailallah, Muhammadur Rasulullah

 

Wahai ananda dengarlah petuah

Bila bergaul jangan menyalah

Pandai berkata lembutkan lidah

Bila berjalan mantapkan langkah

 

Laa Ilahailallah, Muhammadur Rasulullah

 

Wahai ananda harapan bunda

Shalat fardhu janganlah lupa

Itulah syafaat sebagai pembela

Semoga selamat dari siksa neraka

 

Wahai Ananda Permata bunda

Menjadilah hai sayang insan berguna

Pembela agama negeri dan bangsa

Semoga engkau hai sayang menjadi ahli surga

 

Laa Ilahailallah, Muhammadur Rasulullah

Tiada tuhan selain Allah, nabi Muhammad Pesuruh Allah

 

  1. Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah merupakan tempat terbaik untuk mendapatkan ilmu secara sistematis yang dilakukan guru-guru guna mempengaruhi peserta didik agar memiliki kebiasaan sifat dan karakter  yang sesuai dengan cita-cita pendidikan. Seringkali prestasi belajar siswa dihubungkan dengan permasalahan siswa yang sulit memahami materi yang diberikan. Kemungkinan guru kurang menarik dalam menyampaikan materi pelajaran sehingga peserta didik tidak termotivasi dalam mengikuti materi yang diajarkan.

Syair sebenarnya cukup efektif digunakan sebagai media pembelajaran dalam pelajaran Bahasa Indonesia, pelajaran eksakta, dan lainnya. Di Tanjungpinang terobosan karya inovatif di bidang pendidikan yang kebermanfaatannya sangat berguna untuk para pelajar, guru-guru, dan bagi pembacanya telah lebih dulu terealisasi dalam bentuk kumpulan syair. Bahkan bahan/materi pelajaran yang diajarkan dengan media syair sangat bersinggungan sekali dengan dunia sastra, yakni Fisika. Penulisnya adalah Darson, S. Pd, M. Si, mantan kepala sekolah SMAN 6 Kota Tanjungpinang yang sekarang menjabat sebagai satu di antara pengawas sekolah di lingkungan pemerintah kota Tanjungpinang. Beliau membuat buku kumpulan syair yang isinya adalah materi pelajaran Fisika yang berjudul “Fisika dalam Syair”. Berikut penggalan syair sebagai sarana pembelajaran fisika yang penulis himpun, penggalan dari “Ulasan Gerak Melingkar”:

 

Kecepatan linier dan kecepatan sudut

di dalam syair jabaran di sangkut

rumus hitungan juga terpaut

mari di simak janganlah takut

 

Kecepatan sudut jabaran diramu

Perubahan tiap satuan waktu

Sebagai penambah bekalan ilmu

Mari dikaji janganlah jemu

 

Omega untuk kecepatan sudut

Radian perdeti satuan mengikut

Jangan berpikir sampai melukut

Dengan fisika tak perlu takut

 

Dari syair di atas, penulis membayangkan pengajaran Fisika dengan bahasa syair dan dilagukan dengan irama-irama syair tertentu, barangkali akan menjadi proses belajar yang menyenangkan. Ilmu Fisika dapat diserap dengan mudah, sementara nilai pendidikan moral yang disisipkan setiap bait syair membantu pembentukan karakter siswa yang awalnya menjadikan pelajaran fisika merupakan pelajaran yang menakutkan, mampu diubah stigmanya ke arah positif dan mengasyikkan.

Dalam pembelajaran ilmu pasti saja beliau mampu memberikan sumbangsih melestarikan tradisi bersyair di sekolah di Indonesia, tepatnya di Kepulauan Riau, khususnya Kota Tanjungpinang, Apalagi dalam aplikasinya guru mampu menjadikan syair satu di antara media mengajar yang mengasyikkkan, sudah tentu hal ini bisa menjadi warna baru dalam perkembangan inovasi mengajar guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Memasukkan kultur budaya Melayu dalam pelajaran fisika membuat pembelajaran pendidikan karakter diri dan intelektualitas mampu berjalan beriringan. Bukankah syair menjadi sebuah pilihan media pembelajaran yang komplit?

Media syair tentu bukan sekadar jadi bahan bacaan yang membosankan, Teknik pembelajaran syair erat kaitannya dengan kemampuan guru/pendidik dalam mendendangkan masing-masing bait syair. Syair tanpa irama/dendangan sama dengan berjalan tanpa kaki atau bahasa sederhananya mengajar tanpa inovasi. Siswa sudah terlalu sering mendapatkan metode ceramah yang tingkat kejenuhan yang dialami siswa cenderung tinggi. Maka dari itu, sebagai orang Melayu dan tinggal di bumi Melayu, tentu hal ini menjadi sangat naïf jika pengetahuan syairnya secara teori dan prakteknya seperti orang mengaji terbata-bata. Orang Melayu punya kepentingan menularkan tradisi berkebudayaannya agar mampu membangun peradaban ini.

 

  1. Lingkungan Sosial-Masyarakat

Lazimnya, karya sastra yang lain, Syair juga mampu mengajarkan nilai-nilai moral dan agama bagi masyarakatnya dalam kehidupan bersosial masyarakat. Di Kepulauan Riau banyak sekali syair yang diciptakan penulis-penulis besar di masanya, satu di antaranya adalah Syair “Nasehat Kepada Anak Karya Raja Ali Haji”. Syair ini jika kita cermati bait perbait bisa kita selami betapa besarnya kekhawatiran Raja Ali Haji terhadap realitas masyarakat di negerinya. Seperti yang tertuang dalam Tuhfat Al Nafis, RAH meresahkan konflik internal kerajaan. Kerajaan diapit kekuatan dari luar, konflik internal keturunan raja-bangsawan  dan kekuatan Belanda-Inggris yang semakin meluas (Tufat Al Nafis: 300-319). Sementara itu budi dan karakter petinggi kerajaan semakin menurun dan susahnya mencari orang yang bijak. Kekhawatiran berlanjut kepada generasi muda yang tidak lagi tertarik budaya Melayu. Nah, ketika kekhawatiran itu menjadi sebuah kemamuk jiwa, RAH menulis Syair Nasehat Kepada Anak untuk  menyampaikan moral ayah kepada anak. Sebuah alegori yang relasi antara penguasa dan hamba abdi. Contoh syair:

 

Ayuhai anakanda muda remaja

Jika anakanda mengerjakan raja

Hati yang betul hendaklah disahaja

Serta rajin kepada bekerja

 

Penggalan bait syair SNKA karya RAH di atas jika ditinjau dari paradigma sosial yang terjadi saat itu merupakan sintesa dari pemahaman ajaran Islam yang melekat dalam sistem kepemimpinan Melayu. Pesannya mengarah kepada raja/pimpinan. Jika ditujukan kepada khalayak ramai  terlihat di baris pertama yang tentu saja masyarakat memaklumi dan mengerti sistem kerajaan mengenai jabatan raja yang tidak terbuka untuk umum melainkan tergantung dengan kondisi genting yang terjadi. Misalnya kondisi abnormal (perang). Ada lagi bait dalam syair tersebut yang mengajarkan yang ditujukan kepada khalayak umum. Contoh:

 

Kesukaan orang anakanda cari

Supaya hatinya jangan lari

Masyurlah anakanda dalam negeri

Sebab kelakuan bijak bestari

 

Nasehat ayahanda ananda fikirkan

Keliru syaitan anakanda jagakan

Orang berakal anakanda hampirkan

Orang jahat anakanda jauhkan

 

Syair ini mengarah kepada nasehat untuk saling menghargai dan menghormati dalam berprilaku sehari-hari dalam masyarakat. Sebagian besar maksud syair di atas menjelaskan betapa pentingnya menjaga hati dalam membangun karakter masing-masing pribadi. Sebab kelakuan bijak bestari dalam bermasyarakat merupakan modal utama dalam menentukan tingkat kesukaan orang terhadapnya.

Hal lain yang penting dalam pergaulan sehari-hari yang perlu diperhatikan adalah mengenai bijak memilih kawan-kerabat. Berhubung lingkungan merupakan komponen penting demi keberlangsungan kehidupan manusia, dan yang paling dominan mempengaruhi tabiat dan prilaku masyarakatnya, maka dari itu RAH menasehati kepada setiap insan, baik penguasa dan hamba abdi untuk memagar hati dan dirinya dari pengaruh buruk lingkungan dengan mencari teman yang baik akhlak dan prilakunya, dan menjauhi diri dari hal-hal yang dapat merugikan dirinya dalam pergaulan di masyarakat.

Atas dasar inilah, fungsi syair yang memberikan pengajaran dalam kehidupan sosial masyarakat, baik di lingkungan masyarakat, maupun berbangsa dan bernegaranya dianggap penting untuk diteruskan dan menjadi tradisi di masyarakat Melayu. Melalui kegiatan masyarakat yang dilakukan, baik yang dilakukan oleh institusi pemerintah maupun masyarakat itu sendiri diharapkan mampu menampilkan tradisi bersyair ini di tengah-tengah masyarakat. Tujuan sederhananya adalah agar syair tidak menjadi asing bagi masyarakat Melayu itu sendiri. Syair sebagai wahana memperkenalkan nilai-nilai kemanuasian yang universal. Masyakarat dapat menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalam lantunan syair yang didendangkan, dan usaha pelestarian syair dapat bergerak maju sesuai dengan zamannya.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa, tradisi bersyair dapat dikembangkan di mana saja. Manfaatnya secara umum akan memberikan pengajaran kepada setiap manusia akan nilai-nilai kemanusiaan, baik dalam kontek keluarga, sekolah, sosial masyakat, dan dalam kehidupan berbangsa bernegara. Kepulauan Riau yang sarat dengan histori kejayaan kesusastraannya, harus menumbuh-suburkan kesadaran dan kepeduliannya terhadap tradisi bersyair ini sebagai usaha melestarikan warisan budaya bangsa Indonesia. Dengannya kita akan segak dalam membangun peradaban ini. ***

Tinggalkan Balasan