Tanjungpinang, Siak dan Jambi Jadikan Tanjak Sebagai Ikon Khas

0
1.653 views

JANTUNGMELAYU-Bertujuan melestarikan sekaligus mempopulerkan budaya Melayu, Pemko Tanjungpinang mulai mewajibkan para pegawai laki-laki untuk mengenakan tanjak. Gerakan ini sudah dimulai sejak Jumat, 3 Februari 2017 lalu.

Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah menyebutkan, budaya memakai tanjak sudah lama ia galakkan sebagai identitas. Dalam berbagai kegiatan baik lokal maupun nasional, Lis kerap menggunakan ikat kepala ciri khas lelaki Melayu ini.

“Tanjak merupakan simbol lelaki Melayu dan budaya pemakaiannya harus kita pertahankan,” ujarnya.

Saat penerapan hari pertama penggunaan tanjak di lingkungan Pemko Tanjungpinang, tampak sejumlah pegawai sudah mengenakannya. Selepas itu, kepada masing-masing instansi dikirimkan surat pemberitahuan bahwa nantinya tanjak yang digunakan hanya satu model saja dan seragam baik dari bentuk maupun warnanya.

Lis berharap, setelah Pemko Tanjungpinang, penerapan pemakaian tanjak bsia diterapkan di isntansi swasta di Kota Tanjungpinang.

f-JM-Bupati Siak-Riau, H Syamsuar

Tekad yang sama juga datang dari Bupati Siak, Riau, H Syamsuar. Dia berikhtiar melestarikan pemakaian tanjak, guna menghidupkan kembali ciri khas Melayu. Sebelumnya, gerakan berbusana dan berbahasa Melayu juga sudah diterapkan di Kabupaten Siak

“Gerakan bertanjak adalah salah satu cara untuk mempopulerkan kembali kebudayaan Melayu pada masyarakat itu sendiri ataupun luar,” kata Syamsuar.

Tanjak dianggap sebagai kewibawaan di kalangan masyarakat Melayu. Pada zaman dahulu, semakin tinggi dan kompleks bentuknya menunjukkan status sosial si pemakainya. Pemakaian tanjak di kalangan pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Siak dilakukan setiap Kamis dan momen-momen tertentu.

Selain sebagai ciri khas lelaki Melayu, gerakan ini merupakan salah satu upaya Pemkab Siak mendorong para pengrajin tanjak memasarkan secara bebas kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Siak. Bupati mendorong pengrajin agar lebih banyak lagi memproduksi tanjak.

“Jadi, tamu-tamu yang datang ke sini, akan kita kasih tanjak. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan melestarikan budaya Melayu kita ini,” jelas Syamsuar.

Tanjak mulai menjadi tren di Jambi sejak Gubernur Zumi Zola kerap menggunakannya dalam setiap acara, mulai dari HUT Provinsi Jambi awal Januari 2017 lalu hingga acara-acara kedinasan lainnya. Tanjak sememang sudah menjadi teman kesehariannya dalam apapun suasana.

f-JM-Bupati Jambi, Zumi Zola

Menurut Zola, tanjak merupakan tradisi peradaban khas Melayu Jambi yang harus dilestarikan. Ia ingin tanjak menjadi ikon khas Jambi.

“Saya setiap kali acara selalu mengajak setiap instansi swasta maupun pemerintah bisa mengenakan Tanjak untuk pria dan Tengkuluk untuk wanita,” ujarnya.

Tak hanya di instansi swasta dan pemerintah, Zola juga beberapa kali mengunjungi sekolah-sekolah di Jambi. Dalam kunjungan itu, Zumi Zola mengajak para siswa mengenal budaya Melayu Jambi, salah satunya dengan mengenakan ikat kepala Tanjak Jambi.

Demam tanjak Jambi semakin terasa setelah banyak warga Jambi yang mengunggah foto maupun gambar terkait Tanjak Jambi. Di akun Instagram @zumizolaforjambi juga banyak terpajang foto sang gubernur mengenakan tanjak.

Dalam akun tersebut, Zumi Zola bersama sang adik Zumi Laza terlihat gagah mengenakan ikat kepala Tanjak Jambi. Salah satu tokoh pemuda Jambi, Aswan Usman melalui akun Facebooknya juga mengunggah beberapa tulisan terkait Tanjak Jambi. ***(Redaksi)

Tinggalkan Balasan