Sang Verzetpartij yang  Mengajar Aksara Melayu

Oleh: M. Febriyadi

persuratan Melayu-dok.tamadunmalay

Bahasa adalah bunyi aksara-aksara yang dibuat secara sengaja oleh manusia pada umumnya sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan maksud dan tujuan penuturnya dalam bentuk informasi, baik di lingkungan formal maupun di lingkungan non formal.

Bagi orang Melayu, kegiatan berbahasa adalah kegiatan berbudaya yang mendapat pengaruh budaya India dan Timur Tengah. Satu di antara sumber yang penulis himpun dalam catatan ini ialah dari buku Treasure of Sumatera  yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan mencatat bahwa “menurut seorang pengamat Sumatra, kebudayaan India, khusus bahasa dan aksaranya sudah dikenal di Sumatera setidaknya sejak abad ke-7 Masehi. Prasasti-prasasti dari masa Sriwijaya yang ditemukan di berbagai tempat di sana banyak ditulis dalam aksara Pallawa dan bahasa Sansekerta. ” Dalam kutipan sumber tersebut kemungkinan besar budaya menulis aksara tersebut digunakan beberapa suku bangsa yang ada di Sumatera termasuk Melayu.

Namun sejak masuknya Islam  ke masyarakat Melayu, aksara Melayu kuno (yang diperoleh dari pengaruh aksara  Pallawa dari agama Hindu ) sudah diganti titak dengan aksara Jawi yang berasal dari huruf Arab.

Pergeseran budaya berbahasa tersebut berawal dengan ramainya saudagar Arab yang datang guna berniaga sambil menyebarkan agama Islam di Sumatera, sehingga membawa pengaruh besar bagi perkembangan baca-tulis di lingkungan masyarakat Melayu. Hal ini terjadi karena orang-orang Arab mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan penduduk setempat. Mau tidak mau, mereka harus belajar bahasa Melayu di samping menyebarkan agama Islam secara bersamaan di forum-forum dakwah.

Penduduk lokal yang tidak bisa baca-tulis itupun ikut berproses. Proses berbahasa orang Melayu pun mengalami perkembangan secara lisan di sana, lalu orang-orang Melayu mulai menulis aksara arab, baik di dunia pendidikan umum, maupun di maktab-maktab. Menurut  McGlynn (2002:74), ditangan orang Melayu aksara Arab diubah dan aksara khusus diciptakan untuk bunyi yang tidak ditemukan dalam bahasa Arab. Tulisan tersebut dikenal dengan istilah tulisan Jawi atau “Arab gundul”.

Perkembangan kemampuan tulis orang-orang Melayu berada pada puncaknya ketika pada abab ke-17 tepatnya ketika bangsa kolonial menduduki wilayah semenanjung Melayu, saat itu beberapa kerajaan besar semenanjung Melayu menjadikan anugerah tersebut sebagai tradisi tulis yang mereka namai tradisi persuratan.

Khususnya di Kepulauan Riau ada beberapa fenomena-fenomena sejarah hubungannya dengan kait kelindan dunia persuratan antara kepulauan Riau dan Johor yang merupakan dua kerajaan besar di bawah naungan kebesaran Johor-Riau-Lingga- dan Pahang.

Secara rinci dijelaskan Husnizar Hood selaku dewan Kesenian Provinsi Kepulauan Riau dan Aswandi Syahri sebagai sejarawan Kepulauan Riau dalam makalahnya yang berjudul “Dari Tanjungpinang ke Tanjung Puteri: Jejak Sejarah sebagai Modal Masa Depan Hubungan Dunia Persuratan Melayu Antara Kepulauan Riau dan Johor” . ada beberapa momentum yang terjadi, dan menarik untuk dipaparkan.

Bagaimana orang-orang Melayu belajar menulis baca, memberikan kontribusi karya tulis dan pemikirannya untuk keberlangsungan sebuah hubungan sejarah persuratan Melayu antara Tanjungpinang dan Johor. Kutipan makalah tersebut penulis paparkan berdasarkan urutan memomentum dengan tidak mengubah isi dan makna tulisan si empunya cipta:

  1. Pukul 11.27 pagi pada tarikh 26 Zulhijah 1284 hijriah yang bersamaan dengan 18 April 1868 berlabuhlah sebuah perahu layar jenis sekunar bernama Segget di laut Penyengat, Tanjungpinang. Itulah perahu layar rombongan utusan Temeggung Johor (Datuk Temenggung Sri Maharaja Abu Bakar, kelak menjadi Sultan Johor dan Bapa Johor  Modern) yang dipimpin oleh Ungku Haji Muhammad, Encik Wan Abdullah, dan Datuk Bentara Jakfar: diutus  khusus untuk megunjungi Raja Ali Haji di Pulau Penyengat. Kisah rombongan itu selama lima hari lima malam di Riau (Tanjungpinang dan Pulaua Penyengat) tercatat dengan jelas dan rinci dalam naskah Trip to Riau yang telah diperkenalkan oleh M. A. Fauzi Basri sebagai Kisah Pelayaran Ke Riau (M. A. Fauzi Basri,  Warisan Sejarah Johor.1983:24-38).
  2. Kunjungan tersebut berlangsung pada masa kerajaan Riau-Lingga tinggal hanya sebatas wilayah Kepulauan Riau pada masa kini, ditambah sejumlah daerah di Indragiri, Pantai Timur Sumtra saja, dan Johor ketika itu tidak lagi menjadi bagian dari takluk Riau-Lingga. Namun demikian kedudukan dan arti penting Riau-Lingga ketika itu masih dihormati, dan salah satu sebabnya karena masih ada Raja Ali Haji yang cemerlang dan cendekia persuratan Melayu lainnya.
  3. Ketika kembali ke Johor Baharu, rombongan ini tidak hanya membawa jawaban atas pertanyaan yang diajukan Temenggung Abu Bakar kepada Raja Ali Haji, tapi juga mendapat pengetahuan tentang adat tata pemerintahan Melayu dari kegiatan “membaca sejarah dan siarah Raja-Raja Melayu dan bercakap-cakap (berdiskusi) akan hal dan peraturan dahulu kala” dengan Raja Ali Haji, Haji Ibrahim, dan lainnya. Rombongan itu juga membawa pulang sejumlah kitab tentang sejarah, tata pemerintahan, kitab tentang bahasa dan menulis cara  Melayu yang dipinjamkan oleh penulisnya sendiri, yaitu Raja Ali Haji.
  4. Selain dari Raja Ali Haji rombongan ini juga mendapatkan sejumlah naskah kitab undang-undang lama dari seorang orang anak muda yang cemerlang, Tengku Nong Kelana atau Raja Haji Muhammad ibni Marhum Mursyid Yang Dipertuan Muda Riau IX.. Oleh karena itulah, selain mendapatkan referensi dan jalan bagi Temenggung Abu Bakar menjadi Sultan memimpin Negeri Johor yang baharu, peristiwa kunjungan Riau (Tanjungpinang) pada tahun 1868  itu penting dan besar juga artinya dalam menggesa lahirnya tradisi persuratan Melayu di Johor yang baharu pada masa-masa selanjutnya.
  5. Bukan tak mungkin, hasil kunjungan itu, dan kitab-kitab yang dibawa dari Riau-Tanjungpinang telah memberi ilham bagi lahirnya sebuah perkumpulan Pakatan Bealajar Mengajar Pengetahuan Bahasa (P.B.M.P.B) pada tahun 1888, yang kemdian berubah menjadi Pakatan Bahasa Melayu Persuratan Buku Diraja Johor di Johor Baharu, atau dalam bahasa inggris disebut “The Royal Society of Malay Literature of Johor”.
  6. Namun yang pasti, pada tahun 1868 itu juga, di Johor telah disusun dan diterbitkan kitab Undang-Undang Tubuh Kerajaan Johor, sebuah undang-undang pemerintahan yang banyak dipengaruhi oleh kitab Tsamarat al-Muhimmah karya Raja Ali Haji. Selanjutnya, cerdik cendekia Johor juga mulai menerbitkan jurnal yang disebut Peredar, yang didalam salah satu edisiya (edisi tahun 1903), dimuat Salinan Kanun Sultan Sulaiman, yang disalin dari naskah yang dipinjamkan oleh Tengku Nung Kelana kepada utusan Temenggung Johor yang datang ke Tanjungpinang tahun 1868.
  7. Zaman berubah, masa berlalu. Selepas Sultan kerajaan Riau-Lingga dimakzulkan di Pulau Penyengat pada bulan Februari 1911 yang berujung kepada penghapusan kerajaan bersejarah itu pada tahun 1913, cendekia Riau-Lingga juga masih memberikan kontribusi dalam kegiatan persuratan Melayu di Johor.
  8. Melalui Raja Ali Kelana, yang menyingkir ke Johor Baharu dan mendapat ‘pelindungan politik’ dari Sultan Ibrahim selepas sultan Riau-Lingga dimakzulkan Belanda, nama Johor diukir dalam sejumlah karya yang dihasilkannya selama bermastautin di Johor, dan bahkan Sultan Ibrahim mengangkatnya sebagau Ketua Agam Johor, meski kehadirannya ditentang oleh Gubernur Athur Young karena dianggap membahayakan (Haji Buyong Adil.1980:330).
  9. Sebagai salah satu tokoh utama kelompok perlawanan (verzetpartij) terhadap pemeritah kolonial Belanda di Riau-Lingga, kehadiran Raja Ali Kelana di Johor tidak hanya ditentang oleh British, akan tepapi juga terus diamati oleh Belanda. Namun demikian, tradisi persuratan yang telah diamalkannya sejak di Riau-Pulau Penyengat tidaklah pupus bersama cabaran-cabaran politik kolonial yang dihadapinya.
  10. Belum didapat informasi bagaimana hubungan Raja Ali Kelana dengan pegiat tradisi persuratan Melayu di Johor atau mereka yang tergabung dalam Pakatan Bahasa Melayu Persuratan Buku Diraja Johor, umpamanya. Namun yang pasti, sebelum ajal menjemput di di rumahnya di Jalan Tebrau, dan kemudian dimakamkan di kompleks pemakaman diraja di Bukit Mamudiah Johor Baharu pada 4 Desember 1927, Raja Ali Kelana telah menghasilkan beberapa karya yang ditulis di Johor.
  11. Setakat yang dapat diketahui, selama bermastautin di Johor, Raja Ali Kelana telah menghasilkan sejumlah karya tentang bahasa Melayu, etika, dan adat. Sebuah karya pentinya tentang bahasa Melayu adalah kitab tata bahasa Melayu berjudul Bughyat al-‘Ani Fi Huruf al-Ma’ani, sebuah kitab “…peringatan yang pandak direkakan bagi anak-anak Melayu yang baharu belajar pada mengetahui akan segala huruf yang bermakna yang biasa dipakai digunakan pada ketika bertutur bercakap berkata dengan bahasanya sendiri. Kitab ini dicetak di Singapura oleh Mathba’ah al-Ahmmadiah tahun 1922.
  12. Ketika memperkenal Raja Ali Kelana dan karyanya tentang tatabahasa Melayu ini dalam kertas kerja yang dibentangkan pada Hari Sastra 1983 di Johor Baharu, alhamrhum Hasan Junus dan U.U. Hamidy ragu dengan lokasi Bukit Kenangan yang dicantumkan dalam sebuah sampiran pantun  yang digunakan oleh Raja Ali Kelana untuk menjelaskan awalan ‘per’. Sampiran pantun itu adalah sebagai berikut:
    Di Bandar Johor pertumpangan//Di atas bukit nama Kenangan
  1. Bukit Kenangan, adalah salah satu tempat penting dalam keparangan Raja Ali Kelana selama sisa hidupnya di Johor. Selain Bughyat al-Ani Fi Huruf al-Ma’ani, di Bukit Kenangan ini, Raja Ali Kelana tercatat menghasilkan dua karya lain sebagaimana jelas tertulis pada kolofonnya. Yang pertama adalah sebuah karya berjudul, Kesemprunaan Yang Lima Bagi Islam Menerima. Karya ini selesai ditulis 8 Desember 1926, ketika ia bermastautin di Bukit Kenangan, Johor. Adapun yang kedua, adalah sebuah kitab tipis tentang adab-etika berjudul Perangai Baik Bagi Manusia yang dicetak di Pulau Pinang Pinang, dan selesai ditulis di Bukit Kenangan Negeri Johor, pada 10 Juni 1925.
  2. Selain itu, pada tahun 1926, Raja Ali Kelana juga sempat menyelesaikan penyusunan sebuah karya yang berisikan seruan kepada seluruh pemangku adat dan seluruh ahlinya (anggotanya) di Johor, dan meminta Ahmmadiah Press Singapura mencetak naskah setebal sepuluh muka surat itu sebanyak 300 buah saja. Sayang, karya ini belum dapat ditemukan. (lihat, arsip surat-surat Al-ahmadiah Press  Singapura, koleksi Khazanah Fathaniyah, Kuala Lumpur).

Memang dari beberapa penjabaran momentum hubungan persuratan yang terjalin erat antara Tanjungpinang dan Johor ini tidak secara rinci menjelaskan proses orang Melayu mulai memperlajari bahasa tulis hingga mampu menerbitkan tulisan-tulisan mereka dalam bentu surat, buku, serta eksis di warta-warta pada masanya.

Namun jika kita cermati kembali kitab yang telah berhasil dibuat oleh sang verzetpartijRaja Ali Kelana pada poin 11 (sebelas) lewat kitab tata bahasa Melayu berjudul Bughyat al-‘Ani Fi Huruf al-Ma’ani,menempatkan Raja Ali Kelana juga merupakan tokoh yang berpengaruh sumbangsihnya dalam perkembangan dunia baca-tulis bahasa Melayu di Tanjungpinang dan Johor pada waktu itu.

Walaupun pada akhirnya oleh pihak-pihak pemangku dunia persuratan Melayu di Johor tetap menempatkan Raja Ali Haji dari Kepulauan Riau dan korpus karya yang beragam sebagai tokoh sentral dalam sebuah sebuah seminar besar persuratan Melayu sempena Hari Sastra 1983 di Johor Baharu.

Karya-karya mereka mengajarkan kepada orang-orang Melayu, bahwa bahasa Melayu diajarkan bukan sekedar alat berkomunikasi. Namun juga pedang kalam perjuangan mengingat alpa diri, dan menumpas para penjajah laknatullah.

Raja Ali Kelana, sekian dari tokoh-tokoh besar Melayu memberikan pengajaran kepada anak-anak Melayu yang baru belajar mengenal huruf dan maknanya untuk digunakan ketika bertutur kata sehari-hari dengan bahasanya sendiri, yakni bahasa Melayu. Mereka menjadi guru yang membudayakan  menulis, membuat orang-orang Melayu menjadi tajam berkalam, mengasah pedang perjuangan. Kita telah sampai di mana? Bergegaslah!*** (jm)

Tinggalkan Balasan