Suasana peringatan Haul Budayawan Melayu Tenas Effendy di Balai Adat, Selasa (28/2). sumber: lamriau.id

JADI helat rutin Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau tiap 28 Februari. Tepat pada tarikh ini dua tahun silam, Budayawan Melayu Tenas Effendy berpulang. Pada tahun kedua ini, haul diperingati melalui sebuah pidato kebudayaan yang dihantar penuh haru oleh Taufik Ikram Jamil, di Balai Adat Melayu Riau, Selasa (28/2) lalu.

Taufik memetik spirit nilai mulia kerjasama yang disiarkan “Sang Penjaga Melayu” itu melalui karya monumental Tunjuk Ajar Melayu. Dalam kurun setengah jam, Taufik mendedah kait-kelindan nilai kerjasama dalam kemelayuan. Lembaga Adat Melayu Riau melalui siaran persnya di lamriau.id mengabarkan, pidato itu merupakan penggalan dari tesis Taufik Ikram Jamil yang baru saja menyelesaikan Program Studi Pascasarjana.

Sebak di dada Taufik. Air matanya tumpah. “Tenas Effendy, di dalam karyanya tidak menegaskan, tidak menyarankan, tetapi menawarkan nilai-nilai untuk dipelajari dan dipahami serta dilakukan. Disebabkan nilai-nilai yang dihidangkannya itulah, karya sampai ke mana-mana, nilai-nilai yang tentu saja sumbangsih bagi Negara ini,” ujar Taufik dari atas podium.

Bernas pada Tunjuk Ajar Melayu tidak terbantahkan. Ketua Umum DPH LAM Riau, Al Azhar, menilai karya Tenas Effendi bukan saja mendalam, tapi juga punya jangkauan konteks yang luas. Sebab itu selalu rutin pula digelar syarahan atau kajian terhadap karya-karya yang diwariskan Tenas Effendy.

“Mungkin, ada kelompok atau komunitas yang ingin berbagi pengetahuan dari karya Allahyarham tentang hal khusus yang mereka minati. Kita siapkan pensyarah yang menumpukan perhatian pada teks Allahyarham di bidang itu,” kata Al Azhar.

Usai pidato digelar, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang langsung dipandu oleh Syarifuddin Saleh al Gergaji selaku narasumber. Pertanyaan dilontarkan oleh para tetamu undangan yang hadir. Salah satu di antaranya, Prof Muchtar Ahmad yang mempertanyakan dan menyarankan untuk mencari tahu metode apa yang dilakukan oleh Tenas Effendi dalam proses kreatif sehingga hal itu kemudian menjadi modal untuk dijadikan acuan bagi generasi hari ini dalam menghasilkan karya-karya budaya Melayu yang serupa.

Berbagai tanggapan lain juga merujuk kepada bagaimana nilai-nilai yang terserak di dalam karya Tenas Effendi dapat disosialisasikan kepada masyarakat terutama dimulai dari bangku sekolah dasar, agar mutiara bijak yang terhimpun di dalam setiap karya itu tidak hanya diperbincangkan saja tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian acara Haul Tenas Effendi tidak hanya berlangsung di Balai Adat LAM Riau. Pada sebelah siang, para tetamu undangan bergerak menuju ke rumah kediaman mendiang di daerah Pasir Putih. Di sana digelar sholat dzuhur berjamaah dan tahlil bersama anggota keluarga. (JM)

Tinggalkan Balasan