Ae-kua atawa Aqua: Gubernur Melayu dan Warisan Komoditas Zamannya

0
391 views

DI Karimun, pada suatu masa dahulu, penyebutan itu masyhur: Ae-kua. Begitu orang-orang tua kala itu menyebut air minum dalam kemasan (AMDK) merk Aqua. Aqua dipasarkan ke seluruh pelosok nusantara pertama kali tahun 1974. Gubernur Kepri Nurdin Basirun baru menyelesaikan bangku sekolah menengah pertamanya saat itu.

Dalam perjalanannya, Aqua sempat menjadi kemasan air mineral dengan harga yang sangat mahal. Bahkan mengalahkan harga bensin eceran per liternya. Entah karena harga belinya yang sulit dijangkau masyarakat, atau karena namanya yang memang tidak mudah diucapkan oleh lidah Melayu, Aqua dulu akrab disebut Ae-kua.

Nostalgia Ae-kua kembali mengemuka penuh gelak tawa di kediaman sastrawan Husnizar Hood, semalam. Ya, Ketua Dewan Kesenian Kepri ini kemarin menggelar kenduri memohon doa restu masyarakat sebelum menunaikan ibadah Umrah bersama keluarga akhir bulan ini.

Saudara-mara, karib kerabat, jiran, tokoh masyarakat, seniman, budayawan, wartawan, datang. Dari Nurdin Basirun, Huzrin Hood, Burhanuddin “Boy”, Rendra Setyadihardja, dan lain-lain. Datuk Huzrin mengajak semua yang berhadir mengangkat tangan memanjatkan doa. Gubernur Kepri Nurdin Basirun mengantar sepatah dua patah kata sekapur sirih.

“Jangan lupe Ae-kua…awak sering ngejek aku, Zar. Barang siapa selalu mengejek pemimpinnya, ditunjukkan Tuhan balasan setimpal di Tanah Suci ha-ha,” kata Gubernur ger-geran memandang Husnizar sang sahibul-hajat. Semua tertawa hangat.

Dalam sebuah acara di Gedung Daerah, Tepilaut, beberapa waktu lalu, Gubernur duduk bersebelahan dengan Husnizar yang juga Wakil Ketua DPRD Provinsi Kepri itu. Sejurus kemudian, Gubernur bertanya kepada seorang pegawai. “Ade Ae-kua tak?” Si pegawai kebingungan. Husnizar yang mendengarnya tak dapat menahan gelak. Ia langsung memberi isyarat ke arah pegawai tersebut dengan menunjuk botol air mineral setengah berisi yang ada di atas meja.

Oooh. Ae-kua itu Aqua, rupanya.

Bukan Mahmud namanya kalau Husnizar Hood tak mampu merawi cerita. Kalau suasana rapat eksekutif-legislatif  Kepri sedang buntu, Husnizar sering tiba-tiba nyeletuk soal Ae-kua. Ketegangan pun cair.

“Ae-Kua Bang Nurdin itu mengantarkan kita pada sepotong peristiwa bagaimana orang Melayu di Pulau Karimun pada suatu masa dulu berdepan-depan dengan komoditas zaman. Sering juga saya duduk ngopi dengan teman-teman dari Karimun, tapi agaknya cuma Bang Nurdin lah yang masih fasih dengan warisan peradaban Ae-kua,” papar Husnizar. Masih tertawa lebar.

Dalam sambutannya kemudian, Gubernur mengajak masyarakat mendoakan kelancaran bagi perjalanan spiritual Husnizar Hood dan keluarga ke Baitullah. Tak lupa ia menitip doa agar Kepri senantiasa dilindungi dan dirahmati Allah SWT. Dengan kalbu menunduk di hadapan Sang Khalik, kami, segenap kru redaksi jantungmelayu.com mendoakan segala kelapangan bagi Kakanda Husnizar Hood yang juga Pembina portal ini. Lancar pergi, berkah kembali. Allahumma Amin.

Oh iya, sebelum menutup sambutannya, Gubernur Nurdin tak lupa berpantun lucu:

Ke Samudera Pasai memakai selop

Pidato selesai tak ade amplop…***

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan