Anak Muda Kepri Harus Berjatidiri Melayu yang Kuat

0
322 views

JANTUNGMELAYU — Istri Gubernur Kepulauan Riau, Hj Noorlizah Nurdin Basirun bertekad menggalakkan minat dan kesadaran anak-anak muda Kepulauan Riau untuk sadar dan terus mempelajari serta melestarikan budaya Melayu. Sebab menurutnya, jika generasi muda cinta dan bangga dengan budaya Melayu, pelestariannya akan semakin mudah.

“Anak-anak Kepri harus tahu, paham dan mengerti budaya Melayu sebagai akar budayanya,” kata Hj Noorlizah usai menghadiri Seminar dan Bengkel Pembuatan Tanjak, Ikat Samping dan Perhimpunan Perguruan Persilatan Singapura, Malaysia dan Indonesia di Malay Heritage Centre, Kampung Gelam, Singapura, Sabtu (25/2).

Acara yang digelar Persatuan Kebajikan Zuriat Keturunan Pusaka Bentan Malaysia ini juga dihadiri Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri H Abdul Razak, Presiden dan Pengagas Persatuan Bentan Malaysia Dato’ Nazri Kamal Al Bentan, Wakil dari Gabungan Perguruan Silat Singapura Ismail Muhammad Yakop.

Menurut Noorlizah, generasi muda adalah harapan masa depan Kepri dan negeri ini. Sebagai sebuah harapan, mereka juga harus terbekali dengan budaya Melayu.

“Mereka harus menjadi generasi yang memiliki jati diri kemelayuan yang kuat,” kata Noorlizah.

Semangat yang disampaikan Hj Noorlizah ini sememang sejalan dengan visi dan misi Pemprov Kepri yaitu Menjadikan Kepulauan Riau sebagai Bunda Tanah Melayu yang Sejahtera, Berakhlak Mulia, Ramah Lingkungan dan Unggul di Bidang Maritim.

Penyelenggaraan kegiatan ini juga sebagai upaya terus memperkenalkan dan melestarikan kebudayaan Melayu. Sekaligus mempererat jalinan silaturahmi antara ketiga negara.

Ketua LAM Kepri H Abdul Razak mengatakan budaya Melayu menjadi payung semua budaya di Negeri Segantang Lada ini. Kondisi ini membuat semua bisa hidup secara damai di Tanah Melayu.

Ia misalnya mencohtohkan tentang banyaknya makna dalam sejumlah atribut pada pakaian Melayu. Seperti baju kurung dengan lima kancing atau teluk belanga dengan satu kancing.

“Untuk di Kepri, memakai baju kurung, tidak sebarang-sebarang, dikungkung oleh syarak dikurung oleh adat,” kata Abdul Razak.

Dalam seminar dan bengkel tersebut, diperagakan bagaimana pembuatan tanjak dan ikat kain samping baik cara maupun makna dan jenisnya. Seperti ikan dendang perantau dan lainnya. Ada juga penampilan silat dari sejumlah perguruan. Termasuk penampilan Sanggar Pasola dari Batam.*** (Redaksi)

Tinggalkan Balasan