Pancang Jermal di Selat Lingga / Sayang Tauco Tumpah Berserak / Khazanah Dikawal Tiga Negara / ke UNESCO Pantun Bertapak

0
364 views

JANTUNGMELAYU – Pantun semakin dekat menjadi warisan budaya dunia. Sidang Verifikasi Penominasian Pantun Dalam Daftar Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO Multinational Indonesia-Malaysia digelar di Kantor Dinas Kebudayaan Kepri, Jumat kemarin, menegaskan itu.

Direktur Warisan Diplomasi Budaya, DR Najamuddin Ramly mengatakan, pengusulan pantun untuk ditetapkan sebagai warisan  budaya dunia oleh UNESCO tidak lain karena ingin menjaga karya budaya anak bangsa yang sangat luhur di tanah Melayu.

”Bukan hanya Indonesia saja yang mengusulkan, tapi juga Malaysia, Brunei Darussalam, dan Thailand. Dari segi pengaruhnya, pantun sudah menyebar di Asia Tenggara, itu sebabnya tiga negara ini bakal mengawal perjungan pantun menuju UNESCO,” kata Najamudin.

Najamuddin juga menegaskan, sesungguhnya pantun adalah budaya lisan yang kata-katanya berisikan kalimat bernas, intisari-intisari dari pengajaran dan pembinaan akhlak.

Pengusulan pantun ini, katanya untuk kembali menegaskan Indonesia dan negeri semenanjung Melayu lainnya mempunyai warisan budaya yang sangat luhur untuk bisa membangun karakter akhlak bangsa, serta mewujudkan kesantunan budi dan menghaluskan pekerti.

Dikatakan Najamuddin, selain Pantun, ada 3 warisan Indonesia tidak benda yang akan diusulkan Indonesia menjadi warisan dunia ke UNESCO. Di antaranya, Pencak Silat, Pawukon atau alat penghitung tradisional dari Banten lama dan Baduy, dan Tari Lariangi dari Wakatobi.

“Masih banyak warisan yang harus dikembangkan. Untuk itu, sudah menjadi tugas utama kita bersama agar kesenian dan kebudayaan ini dijaga betul kelestariannya,” sebut Najamudin.

Ia juga menambahkan, Kemendikbud RI memasukkan 444 warisan budaya Indonesia yang akan diusulkan menjadi warisan budaya dunia.

Sementara itu, Tim Penelitian Budaya mengungkapkan, dari hasil penelitian, Pantun merupakan salah satu kebudayaan yang unik.

Di samping itu, pengusulan Pantun ke UNESCO ini dimasukkan dalam salah satu warisan budaya yang terancam punah.  Bila tidak diselamatkan maka akan tergerus oleh modernisasi zaman.

Hal tersebut disebabkan, tidak banyak lagi ditemukan maestro Pantun yang masih hidup.

Sidang verifikasi juga dihadiri Raja Ariza mewakili Gubernur Kepri, Kadisbud Kepri, Yatim Mustafa, ketua tim ahli, Prof Pudentia dan juga hadir Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri, Toto Sucipto. Hadir juga maestro pantun, tokoh masyarakat dan budayawan Melayu Kepri.***

Tinggalkan Balasan