semangkuk bubur lambuk yang siap disantap

Payah hamba mau bicara tentang penganan melayu yang satu ini, bukan karena susahnya mencari orang-orang yang masih lagi melestarikan makanan sedap ini, tapi kepada gila bayang akan aroma sedap bumbu rempah dan sayuran segar selaksa rupa yang terhidu membuat cecap lidah tiada berkesudah, alamak…

Payah hamba yang kali kedua ialah jua ketakut-takutan hamba hendak menjabarkan sedemikian rupa perihal bubur lambuk ini kepada khalayak, bukan kerana tersusah sangat untuk mendeskripsikan tapi lebih kepada takut khalayak sekalian adanya jadi kempunan. Bagi orang melayu, kata kempunan itu lebih dahsyat kuasanya daripada mantra Harry Potter. Bahkan orang-orang yang sudah berkayuh jauh perjalananpun boleh patah balik tatkala dimaktubkan kata kempunan itu.

“yaw… langsung pergi ke laut ye? Tak jamah dulu nasi ni? Nanti kempunan baru tau rase,” beragak-agak seperti itulah kata kempunan itu menyelinap dalam perihal cakap-cakap orang melayu. Sementara kata “jamah” / menjamah lebih kepada tindakan penawar petaka dari kempunan itu sendiri. Alkisahnya jua jikalau tiada hendak kempunan maka wajiblah menjamah.

Begitu jualah dengan bubur lambuk ini sekalian adanya, jiakalau tiada hendak kempunan, maka segeralah menjamah barang semangkuk dua. Tapi hamba menafikan hal itu, mustahil bisa semangkuk dua, sedapnya bubur lambuk ini mempu memikat hingga seperiuk belanga, alamak…

Syahdan, hamba hendah menyiat-nyiat perihal bubur lambuk ini kepada sekalian khalayak adanya, dari mulai bahan, alat hingga cecap rasa yang menggoda. Resepi ini tiada mungkinbisa didapati dimana-mana tempat melainkan di kampung laman orang-orang melayu itu sendiri adanya.

Sepintas, jika setakat melihat rupa, tiada sedikit yang rasa mengenan (geli/jijik) dengan bubur lambuk ini, apakan tidak, bentuk rupanya tiada tentu arah, sayur mayur terpontang klenang, kuah berlendir semacam basi. Kalau disisihkan sesendok ke lantai, rupanya tiada ubah serupa muntah kucing, alamak…

Eh, tunggu dulu tiada semua lintah itu dari sawah turun ke kali, tiada semua cinta itu dari mata turun ke hati. Cinta yang dihadirkan bubur lambuk melayu ini mungkin bantut di mata, tapi masygul di lidah, wallah.

Cuba sececap saja, lemak manis dari rasa sayur itu langsung mengikat selera, belum lagi rempah bumbu yang mampu mencairkan kemecut ludah di pipi. Kalau bicara pedas, bubur lambuk ini hantunya, semakin pedas, semakin berdangkung nikmatnya itu bertandak di lidah. Belum lagi tergigit dengan cecah rucah daging ikan atau ketam atau gonggong atau siput isap dan sebangsanya yang tiba-tiba sahaja menyelinap di rongga mulut. Ketibaan cecah rucah itu seperti kado spesial dari kekasih ketika merayakan hari jadian, atau seperti tiba-bita berjumpa sebonggol emas tersandung kaki, nikmatnya itu yang alamak…

Tapi tenang, cara buatnya tidaklah se alamak rasanya, bahkan setakat budak belia pun boleh jua meracik sorang resepi bubur lambuk ini. Berikut hamba maktubkan;

  • Siapkan secekak sayur rampai, yakni beberapa bangsa sayur yang akrab menjadi satu. Sayur rampai itu adalah paduan dari sayur kangkung, sayur bayam, pucuk kledek, pucuk ubi, daun katu, daun kunyit, dan dain kari. Sepintas memang lain akar lain laman, tapi percayalah, sejatinya mereka itu adalah adik-beradik akur yang berhasil memberikan sensasi sedap yang alamak itu.
  • Jangan lupa sagu lenggang dan cecah rucahnya, boleh sebarang daging ikan salai, kenyal-kenyal daging gonggong, atau siput isap dan ketam rebus yang dicincang juga tak mengapa. Ini adalah tangkal yang bisa memberikan faktor kali tingkat sedap dan nikmat yang kusssemangat alamak itu
  • Bawang goreng, bawang merah, bawang putih, minyak makan, cabe rawit, merica bubuk dan pamungkasnya, sedikit belacan. Ingat yang molek jangan terlupa, bumbu penyedap di atas itu adalah fardu ‘ain untuk menciptakan bubur lambuk yang alamak itu.
  • Lesung batu, dandang panci, sendok pengaduk, kompor. Adalah barang-barang yang juga turut serenta sama mustahaknya.

 

Handai taulan sekalian adanya, pastikan tiada menyalah dalam melengkapi syarat terkait hal ikhwal untuk meracik bubur lambuk itu adanya, jangan salahkan hamba jikalau rasanya ada yang tak kena asbab ada satu dan atau dua syarat yang alpa atau juga sengaja dilupa.

Baiklah, dengan begitu, amanah pertama sudah hamba utarakan. Hamba menganggap handai taulan sekalian adanya sudahpun siap untuk menerima amanah kali kedua ini, yakni tahapan mengolah menjadi bubur lambuk yang alamak…

  • Cuci bersih sayur mayur berbeda bangsa dan muasal rupa tersebut adanya. Potong halus tanpa ada pilih kasih, kecuali daun katu. Asbab sememangnya daun itu diciptakan Tuhan dengan bentuk yang sudah kecil.
  • 5 siung bawang merah di tumbuk halus. Bawang putih juga sama, tapi pisahkan jangan berpadu. Sesuai hikayatnya bahwa bawang putih dan bawang merah masih lagi menyimpan dendam lama. Cabe rawit serenta merica dan seulas belacan juga sama, tumbuk yang lumat hingga beraroma. Pedas atau tidaknya tergantung selera mana-mana suka. Kalau hamba, agak-agak segenggam cabe rawitpun oke saja. Bawang goreng? Sabar… ada masanya kita pakai jasanya
  • Hidupkan api kompor dengan malap-malap sedang, tuang sececah minyak ke dalam panci dandang secukup untuk menumis. Pastikan minyaknya panas, lalu… tumpahkan bawang merah kedalamnya, biarkan berasap hingga harum merona. Disusul saudari kembarnya si bawang putih, tuangkan jua adanya sekejap saja. Baru dituang kira secawan atau dua cawan air kedalamnya. Suasana heroh tadi serenta kembali tenang, asap pun sudah hilang.
  • Kita belum selesai, masukkan sambal yang lumat tadi kedalamnya, setakat kemudian disusull dengan setabur bawang goreng. Iya… bawang goreng juga dimasak sama bukan ditabur selepas hidangan tersaji. Kata emak hamba, bawang goreng yang dicampur sama itulah wapak penguat aroma hingga sampai ke seberang dinding dan laman orang.
  • Biarkan menggelegak, sambil ditabur garam dan gula hingga mendapat rasa sebati yang sesuai selera. Baru sayur mayur itu dituangkan sama hingga sedikit layu dan beraroma.
  • Secepat kilat, taburkan jua adanya semangkuk sagu lenggang, yakni sagu yang membentuk biji-biji kecil semacam bijik betik, kalau dimasak, sagu lenggang ini serupa dengan telur katak hanya sahaja berwarna putih.
  • Sudah? Kalau sudah, tunggu lagi hingga menggelegak, dan sagu kering tadi memuai.

Alamak… sudahpun jadi sepanci sagu lenggang itu adanya, panggil sanak saudara, serukan yang merayau jauh untuk sejenak patah balik dan pastikan sisakan jua untuk orang jauh yang menuju pulang. Jika tidak maka ditakutkan nanti kempunan.

Bubur lambuk/bubo lambok, hingga sekarang masih sering dibuat oleh masyarakat melayu, khususnya Kepulauan Riau, entahlah… sejauh ini masih bubur lambuk buatan emak yang mampu mengobat rindu, semoga emak hamba bisa meraciknya menjadi bubur lambuk instan, yang boleh bila-bila masa dimakan dengan menuang air panas, alamak. *** (JM)

Tinggalkan Balasan