Penyair Husnizar Hood turut memeriahkan perayaan Hari Puisi Dunia di Kedai Puisi Biru Tanjungpinang, Rabu (22/3).

Perayaan Hari Puisi Dunia di Tanjungpinang

Pada 21 Maret 1999 silam, UNESCO secara resmi menetapkan tarikh tersebut sebagai Hari Puisi Dunia. Helat pertemuan yang rutin ditaja lembaga sayap PBB di bidang pendidikan dan kebudayaan di Paris kala itu sepakat menandakan satu hal musabab perayaan puisi: kebutuhan manusia terhadap estetika.

Setelah lebih dari 18 tahun, Rabu (22/3) malam kemarin, Hari Puisi Dunia itu dirayakan di Tanjungpinang. Mengambil tempat di pelataran Kedai Puisi Biru, perayaan itu dilaksanakan. Para pegiat jantungmelayu.com jadi inisiator sekaligus penggeraknya.

Penyair Husnizar Hood sebagai pemilik Kedai Puisi Biru menyambut baik hajatan tersebut. “Rugilah nama kedai ini Puisi Biru kalau tidak mendukung acara-acara pembacaan puisi,” kata Husnizar.

Panggung selebar empat kali dua meter itu membiru. Lampu berkelap-kelip dari dua penjuru. Menyorot ke titik satu: gambar stan-mikrofon dengan bagian bawah serutan pensil. Sebuah simbol yang, oleh sang perancang Dobby Fachrizal, menggambarkan keriangan pemenuhan kebutuhan estetika anak manusia. Syahdu.

Seperti yang disebutkan Husnizar, malam kemarin dirayakan dengan pembacaan puisi. Menjadi lebih menarik, pasal ada aturan main bagi para tamu yang datang yang hendak membaca puisi di atas panggung. Tamu yang kebanyakan adalah para penyair tentu punya koleksi puisi karangan sendiri. Tapi malam ini hal itu dilarang.

Hanya puisi dari penyair luar Indonesia yang boleh naik ke panggung. Sebab itu berderet-deret kemudian membentang puisi-puisi dari penjuru dunia. Ada yang membaca Pablo Neruda, Jalaludin Rumi, Derek Walcott, Gabriella, Kahlil Gibran, Rainer Maria Rilke hingga karya klasik Du Fu, penyair dari negeri Cina. Sementara Husnizar memilih puisi karangan tokoh revolusi Che Guevarra.

Pada setiap pembacaan diselingi diskusi. Begitu juga aturan mainnya. Sesi tukar-pemikiran jadi lebih semarak dengan kehadiran sejarawan Aswandi Syahri. Bung berkacamata itu berkisah perihal Hasan Junus, sastrawan cum budayawan kelahiran Penyengat yang punya wawasan sastra luar begitu mumpuni.

“Dan itulah yang kemudian membedakan (wawasan) HJ dibandingkan penulis sezamannya di Riau (dan termasuk Kepulauan Riau) masa itu,” kata Aswandi.

Sejak empat dekade lalu, atau kisaran usia 20-an, HJ diketahui sudah cukup terampil dalam melakukan proses terjemahan karya sastra luar, baik itu ke bahasa Indonesia atau sebaliknya. HJ, masih kata Aswandi, menguasai secara aktif lima bahasa asing. Mulai dari Belanda, Jerman, Inggris, Perancis, dan Spanyol. “Dia juga piawai membaca aksara Jepang,” tambah Aswandi.

Membaca sastra dunia, kendati istilah ini masih layak diperdebatkan, adalah sebuah keasyikan tersendiri. Bahwasanya penyair besar Indonesia pun melakukan hal yang sama guna melebarkan bentangan sayap cakrawalanya. Sebut saja Chairil Anwar, kanon kesusastraan nirtandingan negeri ini.

Pada masa-masa produktif berkarya, Chairil tidak hanya aktif menulis puisinya sendiri. Melainkan, si Binatang Jalang juga berlatih dan membiasakan diri menerjemahkan karya sastra luar. Hal semacam ini yang kemudian sedikit-banyak berimbas dan berbekas pada ketajaman pena Chairil menggubah puisi-puisinya.

“Menghindarkan kita menjadi katak dalam tempurung,” kata Dobby, yang malam kemarin menerjemahkan puisi Love After Love karya Derek Walcott.

Hal senada disampaikam Hendri Anak Rahman. Di rumahnya di kawasan Tiban, Batam, Hendri juga mengoleksi banyak karya sastra luar negeri yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kebiasaan itu sudah dilakoni sejak menjadi mahasiswa dan masih lestari sampai hari ini.

“Saya merasa memang perlu bagi siapa pun membaca karya sastra dunia. Kita jadi tahu apa arti putus cinta versi orang Argentina, misalnya, atau cara orang Chili menulis sajak-sajak cinta. Itu memperkaya isi kepala kita,” kata Hendri.

Malam semakin larut. Para penyair muda yang hadir semakin panas ingin lekas menggali khazanah karya sastra dari pelbagai penyair dari belahan dunia. Tapi saking luasnya, waktu semalam tidak akan pernah cukup untuk membentang dan mengurai khazanah yang rasa-rasanya nirbatas itu.

Semua yang hadir, pulang dengan itikad kuat ingin jadi katak yang melompat setinggi-tingginya dan mengorek selantang-lantangnya.***

Galeri seru lainnya bisa diintip di sini.

Tinggalkan Balasan