Caping, Pelindung Genitalia Bocah Melayu Kuna

0
600 views
Caping yang menjadi koleksi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah Tanjungpinang. F. Yusnadi/Batam Pos

Bentuknya boleh mungil. Kata orang Melayu, kecik-nonet. Jangan tanya kegunaannya. Lantaran caping bisa melemahkan syahwat pemakainya. Kok bisa?

Bila mendengar lema caping, benak orang akan berasosiasi dengan tudung kepala yg dibuat dr anyaman bambu. Sementara bagi mereka yang melek baca, lema ini diartikan akronim dari kolom ‘Catatan Pinggir’ di Majalah Tempo karya Goenawan Mohamad. Tapi, caping di sini tidak membicarakan keduanya.

Caping adalah satu dari sekian banyak koleksi Museum Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (SSBA) Tanjungpinang. Dipajang di ruang Alam Perkawinan Melayu. Setiap pengunjung, tidak diperbolehkan menyentuh benda yang terbuat dari perak ini. Posisinya berada tepat di tengah-tengah ruangan. Digeletakkan di atas beludru merah berdinding-atapkan kaca bening. Di sisinya, ada pamflet petak mengabarkan secara singkat koleksi yang terbilang langka ini.

“Caping adalah aksesori yang dipakai perempuan untuk melindungi kemaluannya,” terang Tamrin Dahlan, anggota Lembaga Adat Melayu yang kala itu menjabat sebagai Kepala Museum SSBA. Galibnya, digunakan ketika suami sedang pergi ke medan perang atau ke luar kota dalam titimangsa lama. Tamrin menambahkan, tidak sembarang perempuan boleh mengenaka caping. “Hanya perempuan bangsawan yang boleh memakainya,” katanya.

Pantangan itu berlaku lantaran caping terbuat dari logam mulia seperti emas maupun perak. “Kalau yang ada di sini itu terbuat dari perak,” timpal Anto Rambey, pemandu pengunjung museum. Sedangkan untuk masyarakat ‘kelas dua’, lanjut Tamrin, biasanya menggunakan daun sirih sebagai caping-nya.

Lantas, mencuat pertanyaan, bagaimana bisa caping melindungi kemaluan perempuan? Tamrin tergelak mendengarnya. Maksudnya, adalah benar fungsi caping sedemikian itu. “Tapi ada jampi-jampi yang dirapalkan sebelum mengenakannya,” terangnya. Pernyataan Tamrin ada benarnya. Sebab, dinalar menggunakan logika, caping hanya diletakkan di muka organ vital perempuan dengan tautan rantai yang melingkar di perut saja. Persis sebagaimana sabuk. Bilamana perempuan bercaping berniat berlaku serong, mudah saja untuk menanggalkannya. Tapi, Tamrin menampik itu. “Jampi-jampi itulah yang membuat caping tak bisa dibuka,” sebut penulis buku Pantun Perkawinan ini.

Karena perempuan yang telah di-caping, kata Tamrin, akan lemah syahwat atawa hasrat senggamanya. Begitu juga laki-laki yang berniat jahat padanya. “Anunya tak bisa berdiri,” ujar Tamrin kemudian tertawa. Sehingga, untuk memastikan keselamatan serta marwah istri di rumah, sebelum berlaga di medan perang, para bangsawan terlebih dahulu men-caping orang rumah mereka.

Rambey menambahkan, caping menjadi koleksi museum setelah dihibahkan oleh seseorang yang gemar mengoleksi benda-benda antik di Tanjungpinang. Sayangnya, Rambey gagal mengingat orang yang menjadikan caping sebagai penghuni museum sejak 2005 silam. “Pokoknya dikasih orang benda itu,” ujarnya.

Ia menceritakan, rata-rata pengunjung, baik lokal atau mancanegara, selalu menanyakan caping. Tidak sedikit yang geleng-geleng. “Kebanyakan terkekeh setelah saya jelaskan,” ujar Rambey. Pemandu berbadan gempal ini tak menyangkal, caping adalah koleksi yang paling banyak menyedot perhatian pengunjung.

Tamrin kembali berbicara. Sepanjang pengetahuannya, caping tidak hanya bedaya-guna bagi istri yang ditinggal perang suaminya. Dulunya, ketika perempuan hendak ke luar kota, entah untuk berkerja atau menuntut ilmu, orang tua-orang tua juga bisa men-caping-kan anak gadisnya. “Tapi pakai sirih,” sebut Tamrin. Sebab, kata dia, ketika diganti daun sirih pun, daya mistis caping pun masih berkerja. “Biar di kota orang, anak gadis itu tak macam-macam,” sambungnya.

Sementara caping yang terbuat dari logam mulia dan bermotif ukiran sulur-sulur berbunga, lanjutnya, adalah bentuk penghormatan orang kaya kepada istrinya. “Makanya orang biasa menyiasatinya dengan daun sirih. Bentuknya pun mirip kan,” jelas Tamrin.

Tamrin sendiri belum sempat mencatat titimangsa terakhir masyarakat Melayu lama menggunakan caping. Namun, berdasarkan beberapa referensi dan cerita tetua yang sampai ke telinganya, masih ada sebagian orang yang men-caping istri maupun anak gadisnya dengan medium daun sirih. “Biasanya orang-orang pulau,” kata Tamrin tanpa menyebut rinci pulau yang dimaksudkannya.

Meurujuk senarai fakta di atas, maka tak mengherankan caping, yang bernomor registrarsi 025.2005 ini, menjadi koleksi bertaraf masterpiece di Museum SSBA Tanjungpinang.***

Tinggalkan Balasan