Raja Salman di Indonesia disambut hangat-mesra oleh pemuka agama kita. Sesungguhnya, dalam skala cinta tak jauh berbeda, 189 tahun lalu, juga pada bulan Maret,  rombongan Raja Ahmad yang terdiri dari para bangsawan Melayu Pulau Penyengat, termasuk anaknya Raja Ali yang  kala itu masih belia, disambut penuh suka-cita oleh sejumlah ulama Mekah. Raja Ahmad membeli sebidang kebun dan dua buah rumah di Tanah Suci. Semuanya kemudian ia wakafkan ke para ulama ini.

 

SELAMAT jalan Raja Arab Saudi, Paduka Yang Mulia Salman bin Abdulaziz al-Saud beserta rombongan kenegaraan, keluarga, anak hingga cucu, juga saudara-mara. Dilapangkanlah hendaknya perjalanan Sang Raja dari Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Ahad (12) lalu, menuju destinasi berikutnya.

Semoga Allah SWT senantiasa menyayangi  Penjaga Dua Kota Suci ini. Selusin hari ia habiskan di tanah air, membawa rezeki, meninggalkan pesan damai, menghempaskan gelombang rindu di pantai hati.

Sesaat ingatan menembus ruang dan waktu jauh ke masa silam. Hampir 190 tahun yang lalu. Juga pada bulan Maret yang sama. Tepatnya tanggal 3 Maret 1828. Tanggal yang lagi-lagi sama dengan kedatangan rombongan Raja Salman ke Indonesia.

Saat itu, 18 Sa’ban 1243 H menurut penanggalan Islam.  Sebagaimana telah diniatkan, Raja Ahmad, ayah Raja Ali Haji, berangkat ke tanah suci untuk melaksanakan ibadah haji. Rombongan terdiri dari 12 orang. Raja Ali ikut serta dalam perjalanan ini. Ia yang termuda pada saat itu.

Bukan hanya setelah melaksanakan ibadah haji itulah nama Haji melekat di belakang nama Raja Ali. Menjadi, Raja Ali Haji. Tapi tiga suku kata dalam nama besar ini kelak mengabadikan catatan perjalanannya ke Baitullah sebagai bagian yang mengisi sebuah kitab monumental goresan kalam bulu angsanya sendiri: Tuhfat al-Nafis.

Dari Tufhat al-Nafis kita tahu, Raja Ali-lah anak Raja Riau pertama yang menunaikan ibadah haji ketika itu. Dari Tuhfat al-Nafis kita menyaksikan betapa remaja 13 tahun itu memanfaatkan masa mukim yang lama di Mekah dengan tak jemu-jemunya belajar agama, bahasa, dan sastra Arab.

Dan dari Tuhfat al-Nafis kita melihat kecemerlangan Mekah dan Madinah pada abad ke-19 sebagai pusat spiritual Islam dan kiblat intelektual Islam sekaligus. Hebatnya pula, ulama-ulama dari Dunia Melayu kala itu begitu disegani serta diakui kharisma keilmuannya. Mereka mudah sekali diterima sebagai bagian penting jejaring para ahli agama dan tinggal bermastautin menyebar di semerata Jazirah Arabia.

Tentu alangkah tak sebanding rombongan Raja Salman yang berjumlah 1000 orang, 10 menteri, dan 25 pangeran itu, dengan rombongan Raja Ahmad yang “cuma” membawa 12 bangsawan Pulau Penyengat. Tapi bila Raja Salman di Indonesia disambut hangat barisan pemuka agama, Raja Ahmad sebagai pembesar Kesultanan Melayu, juga disambut penuh suka-cita oleh ulama-ulama besar Nusantara di Mekah dan Madinah yang rata-rata menyandang gelar kehormatan seorang Syekh.

“Maka datanglah segala syekh berjumpa-jumpa…” tulis Raja Ali Haji menggambarkan persuaan yang besar tersebut. Dituntun oleh Syekh Ahmad Mushafik menuju Ka’bah, dijamu Mufti Shafiki ke rumahnya. Tak lupa Raja Ahmad menunjukkan kebesaran hati seorang pembesar Melayu  dengan membeli sebidang kebun lalu mewakafkannya kepada anak-anak Syekh Saman. Dua buah rumah juga ia beli , kemudian lagi-lagi diwakafkan. Kali ini untuk Syekh Ismail.

 

Maka bagi orang Melayu, kedatangan Raja Salman adalah kedatangan yang sarat rasa cinta. Cinta bertabur cinta, cinta dibalas cinta, cinta maha-cinta. Kecintaan Raja Ahmad yang begitu istimewa kepada Tanah Suci dan ulama-ulamanya, sejatinyalah mesti kita warisi pada hari ini dengan memupuk-tumbuhkan cinta-cinta lain yang lebih besar, menghormati sang raja, para pemimpin, menghormati sesama, menghormati semua.

Selamat jalan, Raja Salman. Datanglah kembali ke negeri kami bila-bila masa. Agar cinta kita semakin sempurna.***

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan