Dari Titi Kamal ke Samudera Ensemble: Umpan Jinak & Sakit Musik Melayu

0
779 views

SATU soalan musykil-tak-musykil saya ajukan hari ini, Kamis tanggal 9 Maret 2017, tepat bersempena Hari Musik Nasional. Pertanyaannya, siapa meniru siapakah dua judul lagu bernada serupa ini: Jablai dendangan Titi Kamal dan Ya Rasulallah, tembang shalawat yang dilantunkan mendiang Uje?

Ibu-ibu majelis ta’lim akan dengan sigap menjawab, Titi Kamal lah pengekor Ustad Jeffry. Tak peduli walau Jablai sebenarnya lebih dulu meluncur ke telinga publik sebagai soundtrack film Mendadak Dangdut (2006). Sementara album Uje rilis setahun kemudian.

Sekali sekala pernah terdengar pembelaan lebih serius. Bahwa syair religi Jeffry Al Buchari itu lebih tua usianya. Karena ter-influence sebuah lagu Arab klasik. Tapi keterangan terakhir ini sepi iseng sendiri sebab tak pernah benar-benar bisa dibuktikan.

Lantas, yang benar siapa meniru siapa? Mungkin sememang tak ada yang meniru atau ditiru. Masing-masing lagu jadi hits dengan pangsa pasarnya sendiri. Yang satu lagu dengan lirik meranyah “habis tamasya ke Bina Ria, pulang-pulang kuberbadan dua”. Yang lain lagu memuliakan Baginda Rasul. Industri musik saat itu pun tak ambil pusing dengan pertanyaan ini.

Kedua lagu juga kini berada di almari memorabilianya sendiri. Titi Kamal selalu diberitakan tak lagi sudi menyanyikan Jablai di panggung off-air manapun. Ia, yang kini fokus berniaga, mengganggapnya bagian masa lalu.

Adapun Ya Rasulullah, sepeninggal Uje, menjadi lirik yang abadi di hati. Pencipta masing-masing lagu sekarang entah mengendap di bilik studio mana. Semua tak bertanya. Semua gembira. Case closed.

Tetapi saya tidak.

Saya pendengar lagu-lagu Melayu Ahmad Jais. Salah satu alasan saya menyukainya adalah karena dia hidup sezaman dengan The Beattles. Baiklah. Langsung saja. Saya mau katakan sepenuh yakin: di luar bagian reffrain, tempo nada Jablai dan Ya Rasulullah, tak tersangkalkan, mencontek bulat-bulat lagu Umpan Jinak di Air Tenang.

Sila buka youtube.com. Ketik Ahmad Jais. Judul lagu: Umpan Jinak di Air Tenang. Dengarkan lamat-lamat beat Melayunya. Seraya tersenyum sarat muruah. Hanya dengan cara seperti itu, hemat saya, kuping Encik Puan tak terganggu lirik Jablai yang kurang senonoh itu. Tak bersanding-banding secebis jua dengan lirik sang Jais yang tinggi budi bahasa.

Seribu senyum seribu makna

Mungkin di kuntum racun yang bisa

Kalau terkorban jiwa merana

Seribu sesal apa gunanya

Ya. Seribu sesal apa gunanya. Nasib musik Melayu kini mirip sekali dengan tajuk lagu Ahmad Jais. Laksana umpan jinak belaka. Mudah ditelan. Gampang pula dilupakan. Bentangan segara airnya pun tenang-tenang sahaja. Tak beriak. Konon pula berombak. Di Malaysia, negara sang biduan dilahirkan, lagu Jablai bahkan sempat populer di mana-mana. Menggerunkan.

Di tanah air, nestapa musik Melayu sesungguhnya jauh lebih getir. Coba bertanya: jembalang macam apakah musik Melayu itu sekarang. Percayalah. Semua jawaban, niscaya bimbang. Masih adakah orang hari ini membicarakan Seringgit Dua Kupang, misalnya, sebagai salah satu standar lagu jati Melayu? Dengan struktur langgam yang tidak hanya terdiri dari isi dan reffrain, namun juga klimaks, bahkan syair yang bukan pengulangan dari bait-bait sebelum klimaks?

Yang paling menohok. Apabila kini engkau mendengar kalimat “musik Melayu”, maka yang selalu lalu-lalang dalam wacana ramai orang adalah musik dengan cengkok vokal salon berkelok-kelok. Lalu tiba-tiba, ya Tuhan, kau pasti langsung bertemu dengan nama-nama seperti ST-12, Setia Band, Kangen Band, D’Bagindas, dan yang sejenisnya, menerima begitu saja tanpa merasa berdosa pengakuan sebagai para pembaharu musik Melayu. Brand jinak di musik yang tenang.

Tentu tak adil bila Charlie van Houten, lead Setia Band itu, dianggap salah sepenuhnya. Saya cuma tak rela dengan sebuah poster yang menaruh kalimat ini di bawah fotonya: Raja Musik Melayu. Juga, tak suka rambut belah tengahnya, yang tak ada apa-apanya dengan rambut patah tengah penyanyi Zamani pada 17-18 tahun yang lalu, saat berjaya menjadi vokalis Slam di haribaan penggemar muzik Melayu serumpun.

Charlie dkk mungkin cukup beruntung. Mereka hadir di blantika musik kita mengusung nuansa musik Melayu nusantara yang, apa boleh buat, semakin simpang siur riwayatnya dalam teroka susur-galur.

Sejak masih bernama Orkes Gambus di Deli, lalu menjelma OM (Orkes Melayu) era 50-an, musik Melayu pada zamannya seperti lirik lawas A Haris, berlari bak “kudaku lari gagah berani”.

Tapi musik Melayu juga bisa merobek cakrawala oleh “Cinta Hampa” karangan M Thahar, “Seroja” gubahan Bawafi, sampai lengking ngilu jerit Mamat Mashabi di tahun 1980-an yang berdiam di benak dan mimpi buruk semua kanak-kanak: “ibu tiri…hanya cinta, kepada…ayahku saja”.

Tentu saja nama Said Effendi a.k.a S Effendi mesti ditempatkan sebagai mahkota. Musisi Melayu paling jenius dari tahun 60-an. Kawan main Ismail Marzuki. Pemilik cengkok soprano yang menawan hati. Dari S Effendi pula, ironi musik Melayu bermula. Ia tak begitu dikenang di Indonesia. Sedangkan Malaysia dan Singapura rutin menggelar panggung tribute setelah kematiannya.

Syahdan, penghujung tahun 1960-an, Festival Lagu-lagu S Effendi se-Asia Tenggara digelar di Singapura. Peserta membludak. Puluhan pemuda sangat ingin menjadi Said Effendi baru. Dipuja-puja di serantau Melayu Raya. Seorang pemenang akhirnya diumumkan. Pemuda berperawakan kecil dari sebuah desa di Tasikmalaya.

Tak berapa lama setelah festival di Negara Singa itu, nama sang pemuda jawara diperbincangkan di mana-mana. Ia dan kelompok musiknya memperkenalkan musik Melayu yang sungguh-sungguh baharu. Tak ada accordeon, melainkan gitar elektrik. Drum dikendang sebagai perkusi. Tamborin masih bertahan. Tapi marakas ia tinggalkan. Liriknya kuat. Pecahan breaksnya di beberapa melodi merambat-rambat. Pengaruh Led Zeppelin di sana-sini.

Benar. Siapa lagi. Oma Irama dan grup Soneta-nya. Sepulang dari Tanah Suci, namanya berubah jadi Rhoma Irama. Konsep bermusiknya langsung mendapat tempat di hati rakyat. Tak ada lagi istilah musik Melayu. Selamat tinggal. Sebab Soneta mengusung nama anyar: musik dangdut. Balai Pustaka saat itu juga menerbitkan buku Bahasa Indonesia yang di dalamnya memuat pantun:

gendang gendut tali kecapi

kenyang perut senanglah hati

Demikianlah. Transisi dari musik Melayu ke musik Dangdut telah menumbuhkan akar-akar penghayatan baru. Dan pada saat bersamaan menciptakan lubang-lubang besar sekaligus. Dangdut bukanlah penyempurnaan musik Melayu. Ia hanyalah lentingan semasa yang beranting bercecabang membuahkan dimensi musik yang baru pula.

Artinya, terbuka kemungkinan-kemungkinan kreatif yang begitu lapang andai pekerja musik kontemporer berhasrat menggali lagi khazanah musik Melayu yang berakhir gilang-gemilang di masa S Effendi. Utamanya teruntuk kepada musisi-musisi muda Kepri yang dua-tiga tahun terakhir tengah menikmati bulan madu kehangatan berpanggung.

Kembalilah ke pangkal jalan. Mengeksploitasi kemurnian sejarah musik Melayu yang dulu masih mengandalkan syair-syair gurindam sebelum memasuki era ritmis terbius gambus. Notasi-notasi minor yang dahulu senantiasa diperagakan musik Melayu dengan jiwa yang duka, tak ada salahnya direguk lagi. Bukankah, “kita dari luka yang sama,” kata Sutardji Calzoum Bachri.

Aku tidak menghasut kalian untuk terbenam dalam lara, wahai musisi-musisi Tanjungpinang nan lasak bermasa depan cerah berarak. Tapi, dengan menambahkan embel-embel “ensemble” di depan kata Samudera, misalnya, aku diam-diam kok merasa kelompok Samudera Ensemble yang tengah naik daun itu seperti menyepelekan tuah lautan.

Tak ada seikat simpul ensemble pun yang dapat menyatukan samudera. Ia terlampau luas. Maha luas. Hanya kalian yang harus menyatukan diri di dasarnya. Menenggak asin perihnya.  Makyong itu khazanah bahari juga. Masih okelah bila baru-baru ini kalian jadikan muara gelegak inspirasi. Namun dengan sikap takzim  tawadhu’ menunduk di hadapan gelombang, tirakat kebersahajaan akan menuntunmu.

Seberapa yakin kalian dengan gramatika frasa Progressive-Makyong, dan bukan sebaliknya: Makyong-Progressive? Kalau kalian masih sulit bergenit-genit di area itu, pulanglah sejenak ke kebersahajaan Tuan Bawafi yang legendaris pasca proklamasi kemerdekaan memilih setia terhadap penghayatan tajuk-tajuk sejuk. “Mari menyusun seroja bunga seroja…” nandungnya. Sepenggal ajakan kecil yang senantiasa kekal.

Ayolah. Ciptakan satu-dua lagu berbasis notasi minor musik Melayu yang penuh rasa sakit itu. Aku takut. Tanpa pernah sakit, jangan-jangan kalian takkan tahu-menahu bagaimana nikmatnya bangkit. Tabik ya. Selamat hari raya musik.

Ada acara makan-makan? ***

Ramon Damora

Pengurus Persatuan Artis Musik Melayu (PAMMI) Kepri

Tinggalkan Balasan