PEMBACA, merayakan Hari Musik Nasional yang jatuh pada hari ini, Redaksi Jantungmelayu.com akan mengajak Anda menelusuri romantisme ingar-bingar dunia musik istana Riau-Lingga di Pulau Penyengat pada abad ke-19. Bersama sejarawan Aswandi Syahri yang selalu tunak menggali kisah-kisah klasik yang hebat di masa silam,  kami akan menurunkan catatan rendezvous bertabur mutiara sejarah keagungan Melayu ini secara serial. Selamat membaca.

SELAIN dikenal karena pencapaiannya dalam tradisi tulis Melayu yang gemilang, istana Riau-Lingga di Pulau Penyengat tenyata juga punya perhatian yang mendalam terhadap dunia seni musik Eropa atau muzik cara Hollanda menurut istilah Raja Ali Haji.

Selera musik yang sangat berkelas dapat ditelusuri pada masa-masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda Riau VI, Raja Jakfar ibni Raja  Haji Fisabilillah (1806-1832). Menurut Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis, Raja Jakfar Yang Dipertuan Muda Riau itu adalah sosok yang mula-mula menggagas untuk membawa masuk khazanah seni musik Eropa ke istana Riau-Lingga.

Sebelum pindah ke Pulau Penyengat, Raja Jakfar bermukim di Kelang, dalam wilayah Selangor. Sebagai pengusaha pertambangan dan perdagangan timah yang sukses. Pada tahun 1806, beliau dipanggil pulang ke Riau oleh Sultan Mahmud Ri’ayatsyah untuk untuk mengemban jabatan Yang Dipertuan Muda Riau setelah Raja Ali Yang Dipertuan Muda Riau V mangkat di Pulau Bayan.

Di Kampung Encik Kaluk yang terketak di Pulau Penyengat yang baru dibuka oleh Sultan Mahmud Ri’ayatsyah untuk Engku Puteri Raja Hamidah dan anak-anak Raja Haji itulah pada mulanya Raja Jakfar bermastautin ketika kembali ke Riau.

Setelah dilantik oleh Sultan Mahmud Ri’ayatsyah sebagai Yang Dipertuan Muda Riau yang memegang perintah mutlak atas negeri Riau dengan segala daerah takluknya, barulah Raja Jakfar membangun istana lengkap dengan balairung lengkap kota dan parit yang mengelilinginya di Pulau Penyengat. Kota baru itu terletak pada kawasan yang kemudian dikenal sebagai Kota Rentang.

Selain membangun kelengkapan pusat pemerintahannya di Penyengat, Raja Jakfar juga menaruh minat dan perhatian yang dalam terhadap dunia ilmu dan seni di istana Riau-Lingga. Khusus dalam bidang seni musik, khususnya musik ala Eropa maka Raja Jakfar adalah pionir pembuka laluannya di Pulau Penyengat. Beliaulah yang pertamakali memperkenalkan seni musik ala Eropa yang disebut oleh Raja Ali Haji sebagai musik cara Hollanda itu di istana Riau Lingga.

Menurut Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis, musik ala Eropa itu diperkenalkan ke Pulau Penyengat sempena baris peperangan diraja (semacam pasukan militer) yang ditubuhkan oleh Raja Jakfar. Untuk itulah Raja Muda yang merupakan anak Raja Haji Fisabilillah itu  mengirim empat orang seniman muda Pulau Penyengat untuk mempelajari cara memainkan alat musik cara Hollanda ke Negeri Melaka. Mereka diamanahkan untuk mempelajari bagaimana memainkan tambur, seruling, terompet, biola dan berbagai peralatan musik ala Eropa.

Berkenaan dengan kisah empat anak muda Pulau Penyengat yang dititahkan mempelajari permaian musik cara Hollanda ke Melaka itu, Raja Ali Haji dalam Tuhfat al-Nafis naskah Terengganu mencatat sebagai berikut: “…Dan adalah ia [Raja Jakfar] menyuruh budak-budak ampat lima orang berlajar musik cara Holanda ke Melaka. Yaitu berlajar tambur dan seruling dan terompet dan biola dan lainnya daripada perkakas bermain music itu. Adalah yang dititahkan berlajar itu, kepalanya Pak Kedah, dan kepala menggesek biolanya nama si Am. Dan kepala meniup terompetnya namanya si Kati…”.

Titah Yang Dipertuan Muda  Raja Jakfar untuk menghadirkan seni musik cara Holanda di lingkungan istana Riau-Lingga di Pulau Penyengat tak terlepas dari pergaulan dan hubungan baiknya dengan orang-orang Eropa, terutama Gubernur dan Resident Belanda di Melaka, selama ia berprofesi sebagai pengusaha tambang timah di Kelang (Selangor). ***

ASWANDI SYAHRI, SEJARAWAN

Tinggalkan Balasan