SELAIN oleh Yang Dipertuan Muda Raja Jakfar, jejak-jejak awal musik Eropa di Istana Riau Lingga, tampaknya juga dibawa oleh Raja Ali Haji dan ayahnya, Raja Ahmad Engku Haji Tua.

Disamping dikenal luas sebagai seorang sastrawan dan penulis yang subur menghasilkan berbagai genre karya sastra, kitab-kitab bahasa Melayu, hukum, dan sejarah, Raja Ali Haji ternyata juga seorang pencinta dan penggemar musik; termasuk musik Eropa yang ia kenal dari sahabat-sahabat Belandanya di Tanjungpinang dan Betawi. Kegemaran Raja Ali Haji akan musik, terekam dalam beberapa pucuk surat, yang terhimpun dalam kumpulan seratus lebih lebih surat-suratnya kepada Herman von de Wall antara tahun 1857 hingga 1872.

Dalam sepucuk suratnya kepada Herman von de Wall di Tanjungpinang yang bertarik 7 Desember 1866, Raja Haji menggungkapkan kegembiraan dan rasa terimakasihnya yang tinggi, ketika ia mengabarkan akan datang berjumpa von de Wall untuk mengambil alat musik Gambang Holanda (sejenis kromong cara Belanda) hadiah sahabat Eropanya itu:

“Esok hari jika tiada uzur saya datang selalu mengambil hadiah tuan kepada saya, yaitu gambang Holanda itu. Saya bawa sekali anak saya serta orang membawanya…Dan selama-lama ini belum pernah saya mendapat hadiah yang demikian itu, sama ada dari orang-orang putih, atau orang-orang Melayu, atau orang-orang besar atau orang kecil…”, ungkap Raja Ali Haji menanggapi hadiah berupa alat musik perkusi ala Eropa pemberian Herman von de Wall.

Selain alat musik perkusi seperti Gambang Holanda tersebut, Raja Ali Haji tampaknya juga mempunyai peralatan musik Eropa lainnya yang ia sebut piana. Mungkin sejenis piano dalam bentuknya yang lain. Suatu hari, ia pernah minta tolong pada von de Wall untuk mencarikan tukang piana yang dapat membantu memperbaikinya, karena alat musik jenis Chordophone itu rusak.

Pada kesempatan yang lain, seperti terungkap dalam sepucuk suratnya bertarikh 11 November 1869 yang ditujukan kepada von de Wall, Raja Ali Haji juga pernah pula minta dicarikan sebuah gambang besi, atau tembaga, atau sejenis kromong dari logam di Betawi (Batavia). Karena ia tertarik pula memiliki alat musik itu setelah mendengar von de Wall baru membelinya di Betawi (Batavia).

Menurut Raja Ali Haji, gambang besi itu lebih mudah dimainkan dibanding piana yang sebelumnya telah ia miliki, dan boleh dibawa berkayuh-kayuh apabila ia akan menyeberang dengan sampan ke Pulau Pengujan. Tampaknya, selain mengajar anak-anak mengaji dan menulis karya-karyanya, di pulau Pengujan Raja Ali Haji juga bermain musik tatkala ada kelapangan waktu.

Perhatian dan minat Raja Ali Haji akan musik tak terlepas dari pengalamannya selama mengikuti rombongan muhibbah ‘kehornatan’ Kerajaan Riau Lingga yang dipimpin oleh ayahandanya, Raja Ahmad Engku Haji Tua, sebagai wakil Sultan Linga ketika mengunjungi Gubernur Jenderal Hindia Belanda di bandar  Betawi Darul-Masyhur pada tahun 1822.

Di bandar Betawi itu, Raja Ali Haji dan ayahnya tidak hanya dibawa melihat kemegahan istana baru Gubernur Jenderal Hindia Belanda (yang kini menjadi Istana Merdeka) dan berkeliling ke  tempat-tempat eksotik di kota itu, tapi juga diundang untuk menyaksikan berbagai suguhan pertunjukan seni musik cara Holanda dan  Komedi Holanda.

Raja Ali Haji dan rombongan ayahnya juga dipelawa melihat pertunjukan musik cara Holanda yang digelar setiap petang di tanah lapang, yang kini menjadi lapangan Banteng, di Batavia; mereka menyaksikan pertunjukan wayang komedi yang diiringi musik cara Holanda di Schowburg atau gedung pertunjukan yang kini menjadi Gedung Kesenian Jakarta. Juga menyaksikan dan menikmati pertujukan musik kelas atas di Societeit Harmoni yang sangat terkenal di Batavia pada abad 19.***

ASWANDI SYAHRI, SEJARAWAN

 

 

Tinggalkan Balasan