sumber: keriswarisan.com

“Keempat saudara Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu tidak percaya berita yang disampaikan Datuk Bendahara bahwa Hang Tuah telah dibunuh atas perintah sultan.  Mendengar kabar itu, Hang Jebat tidak menerima dan mengamuk serta menguasai kerajaan. Hang Jebat melampiaskan kekesalan atas keputusan sultan membunuh Hang Tuah hanya karena fitnah Patih Karma Wijaya”. (dalam naskah Jebat Mendurhaka – Tennas Effendy)

Mengacu kepada ragam sumber dan runut kisah dalam teks aslinya, sebenarnya Hang Tuah memang tidak dibunuh Datuk Bendahara. Ia hanya di sembunyikan di hulu kampung. Maka untuk menangkal hamuk Jebat, Datuk Bendahara pun menyampaikan kenyataan bahwa, Hang Tuah sengaja tidak dibunuhnya. Mendengar kabar itu, sultan bergembira dan meminta Hang Tuah dipanggil ke istana. Sultan pun memerintahkan kepada Hang Tuah yang setia untuk membunuh Jebat. Hang Tuah yang menjunjung kesetian itu langsung menemui Jebat yang telah berminggu-minggu menguasai istana. Pertemuan dua saudara itu pun terjadi dalam suasana saling mempertahankan kesetian masing-masing. Si Tuah bersetia kepada Sultan Melaka dan si Jebat bersetia dengan persaudaraan dan keadilan. Hang Jebat mati terbunuh ditangan Hang Tuah setelah berhasil merebut keris Tameng Sari. (disadur dari Riaupos).

Mengulik dari kisah Tuah dan Jebat sebenarnya sudah cukup menunjukkan betapa melayu itu teguh dalam berdaulat. Entah berdaulat kepada Sultan seperti Tuah, dan atau berdaulat kepada saudara yang tidak ingin memutuskan tali darah serupa Jebat.

Hamba hendak mengabarkan saja bahwa hingga detik ini daulat serupa itu masih bertambat di tembuni puak melayu. Baik disadari dan ataupun tidak, sejatinya DNA khas yang dimili oleh melayu adalah kesetiaan. Kalaupun ada yang cacat dan menyalah dalam perjalanan kisah tentu harus melalui unsur periksa terlebih dahulu sebelum mendudukkan siapa benar dan salah.

Masih mengulik dari kisah yang termaktub, tentu khalayak sekalian sudahpun mengenal siapa Tuah. Dia adalah seorang miskin. Bapaknya bernama Hang Mahmud dan ibunya Dang Merdu Wati. Konon kisahnya mereka anak beranak itu tinggal di sebuah bangsal yang hodoh lagi hina di pinggiran Sungai Duyung.

Bintan menjadi tujuan banyak orang karena kemahsyuran negeri tersebut, tidak terkecuali Hang Mahmud, Dang Merdu Wati, dan Hang Tuah. Mereka juga pindah ke Bintan untuk mendapatkan penghidupan yang layak.

Konon kisahnya pada suatu malam, Hang Mahmud bermimpi bulan turun dari langit. Cahayanya penuh di atas kepala Hang Tuah. Kemudian Hang Mahmud terbangun dan mengangkat Hang Tuah, yang saat itu masih berusia 12 tahun, lalu diciumnya. Seluruh tubuh Hang Tuah berbau sangat harum. Itulah penggalan awal yang mengantarkan kisah Hang Tuah yang senantiasa harum semerata zaman, hingga detik ini.

Meneroka dari tajuk termaktub, “Jangan Usik Melayu Wai” hanya sebagai penanda serenta pengingat keras bagi sesiapa yang menyimpan nawaitu buruk di negeri melayu. Bukan maksud hamba yang anti terhadap pendatang (yang bukan melayu) berada di tanah melayu, tapi lebih dari itu, karena ada pepatah yang mengatakan bahwa rambut boleh sama hitam, tapi hati siapa yang tahu.

Bercekaunya Hang Tuah dengan Hang Jebat adalah pelajaran mustahak bagi puak melayu, bahwa perselisihan yang timbul justeru ada campur tangan asing yang dalam hal ini disulut bara oleh Patih Karma Wijaya.

Mari mengenal sejenak, siapa Patih Karma wijaya itu. Dalam tulisan Sujiatmoko menerangkan, Patih Karma Wijaya mulanya daang ke Bintan untuk memperhambakan diri kebawah duli Raja Bintan.

Penghambaan diri Patih Karma Wijaya disebabkan gerun hatinya karena ulah Ratu Lesam yang telah melarikan jauh anak Patih Karma Wijaya yang bernama Ken Sumirat.

Betapa baiknya Melayu itu dilambangkan dengan perlakuan Raja Bintan yang tidak hanya menyambut baik penghambaan Patih Karma Wijaya, namun juga memakzulkan bibit puaka itu menjadi bagian dari pembesar Istana.

Berbilang hari, Hang Tuah semakin menunjukkan tunaknya di tampuk istana. Popularitas Hang Tuah ternyata membuat penyakit hati oleh para pembesar Istana, terutama si pendatang asing Patih Karma Wijaya.

Dari unsur periksa yang ada dalam mana-mana kajian naskah dan tulisan, Patih Karma Wijaya itu membuat cerita fitnah tentang perselingkuhan dengan salah satu dayang Istana. Itulah muasal cerita yang membuat Sultan berang sejadi-jadi dan menitahkan Datuk Bendahara untuk menjalankan hukum bunuh kepada Hang Tuah.

Betapapun demikian, Hang Tuah tetap mendaulatkan diri kepada Sultan. Datuk Bendahara tiadalah kecundang dengan titah Sultan. Khabarnya, Datuk bendahara bukanlah membubuh Hang Tuah, melainkan menyembunyikannya di suatu tempat.

Hingga sekarangpun, fi’il serupa Patih Karma Wijaya masih juga adanya berserak di semerata negeri, entah itu dari pendatang ataupun jua dari puak sendiri.

Hamba melihat, kata ‘Melayu’ sering dipakai untuk hal yang tiada berkesuaian, seumpama nasibnya sama dengan ‘ayam’. Hamba misalkan, semangat yang setengah jalan disebut “panas-panas tahi ayam”, melangkah tanpa alas kaki dibilang “kaki ayam”, pandangan mata terbatas ketika senja hari “rabun ayam”. Apa salah ayam? Hingga sebegitu nahasnya nasib dikandung badan, hingga telur ayampun dibilang “telur mata sapi”.

Begitulah nahasnya dengan ‘melayu’ yang hamba misalkan semangat kerja yang turun naik “malas melayu”, berniaga tanpa menuai untung “dagang melayu”, bahkan ada jua istilah baru “pinjam melayu” teruntuk kepada fi’il peminjam barang yang tiada mampu dibelinya sendiri. Apa salah melayu?

Jangan Usik Melayu Wai, jikalaulah demikian adanya yang berlaku jua di semerata tempat, maka kemungkinan pengulangan kisah Tuah dan Jebat akan kembali semula jadi, hanya saja di episode kali ini Hang Tuah dan Hang Jebat bersama menggenggam Taming Sari untuk menghunus Patih Karma Wijaya.

Terlepas dari ke-sukuan, melayu adalah Bangsa yang besar. Jika sedemikian buruk melayu dimata secuil orang-orang yang menerusi bibit Patih Karma Wijaya, sila berpindah ke bangsa yang tiada melayunya. *** (JM)

2 KOMENTAR

  1. Terima kasih banyak “wai”…. Banyak ilmu nye portal ni….maju terus….trus berkarye…
    Tak kan melayu hilang di budi
    Salam melayu
    …SRA…

Tinggalkan Balasan