Pakailah Tanjak Pada Tempatnya

mengambil langkah bijak agar tanjak tak salah letak

6
13.504 views

Oleh: Yoan S Nugraha
jika untuk sampah saja ada jargon serupa agar terlihat apik penataan lingkungan, apatah lagi tanjak yang merupakan barcode simbol keagungan bagi kaum melayu. Tentu di zaman tang serba kuota saat ini, sulit rasanya untuk mendudukan khazanah tradisi seutuhnya pada pondasi awal ianya berdiri, namun paling tidak khusus khazanah tradisi yang mengandung nilai marwah didalamnya tidaklah diberlakukan sembarang, dalam hal ini penggunaan tanjak misalnya.

Sebelum jauh mengupas kandungan tanjak, hendak saya kabarkan terlebih dahulu, bahwa di kalangan masyarakat luas, selembar kain yang dilipat sedemikian rupa untuk menghiasi kepala tidak hanya disebut dengan tanjak, namun ada istilah dan nama-nama lain yang turut menyertainya, seperti Tengkolok, destar, untuk menyebutkan nama tanjak. Namun nyatanya tentu ada perbedaan diantara masing-masing nama tersebut. Kita contohkan dengan tengkolok yang memiliki kekhasan berupa lilitan yang meruncing keatas dengan lekhnik berlapis-lapis hingga membentuk ketebalan tertentu, bahan kain yang digunakan untuk merangkai tengkolok tentunya bahan yang bermutu.

Berbeda dengan destar, yang lilitannya lebih rendah dan menipis, bahan kain yang dipakai juga tidah harus dengan harga yang tinggi. Sementara tanjak, lebih seperti tengkolok, namun juga mengadopsi dari destar, artinya dari segi bahan, anjak haruslah bahan yang berkualitas, dan atau tidak harus mahal namun menggunakan sejenis bahan yang bisa dijadikan untuk bergaya, dari segi lilitan yang berlapis juga demikian, tanjak lebih kental mengarah ke tengkolok. Namun untuk model lilitan dan ketinggian, tanjak lebih memilih destar sebagai acuannya.

Itulah deskripsi ringkas sebagai pengantar perihal tanjak. Merujuk di era kekinian saat ini, khususnya di Kota Tanjungpinang yang konon sebagai kota gurindam dan negeri pantun, tanjak akhir-akhir ini mulai kembali populer. Di satu sisi metamorfosis tanjak yang sudah berbilang generasi menjadi ke pompong di tanjungpinang haruslah diberikan apresiasi yang layak, artinya negeri beradat ini masih menyimpan amunisi-amunisi cinta kasih yang begitu hebat dan mendalam terhadap keberlangsungan dan atawa kelestarian budaya.

Namun metamorfosis tanjak bukanlah semata-mata menghalalkan segala ragam model tanjak untuk dikenakan dikepala. Disinilah duduk persoalan yang mesti diberikan stabilo khusus, “pakailah tanjak pada tempatnya” saya rasa adalah kata yang pas untuk mengungkapkan kegundahan ini.
Tempat yang dimaksud bukan hanya sebatas pengertian yang sebernarnya dalam sebuah perhelatan acara, namun juga bermaksud kepada kedudukan dan posisi tanjak itu sendiri yang bertengger di atas kepala siapa.

Sebagai penambah paham ilmu kaji, saya hendak memapaparkan ulang ragam jenis tanjak yang sepintas oleh masyarakat bisa dipukul rata dengan model yang itu-itu saja, padahal tercatat kurang lebih ada 21 model tanjak yang sudah diberi barcode khusus sebagai trade mark melayu, antara lain;

  • lang melayang
  • lang menyongsong angin
  • pari mudek
  • anak gajah menyusu
  • sering
  • buana
  • pucuk pisang
  • ayam patah kepak
  • balung ayam
  • cogan daun kopi
  • sekelongsang bunga
  • mumbang belah dua
  • solok timba
  • kacang dua helai daun
  • ketam budu
  • sarang kerangga
  • setanjak balung raja
  • belalai gajah
  • dendam tak sudah
  • tebing runtuh.

 

Sudah sangat jelas, ragam nama yang diberikan kepada tanjak juga merupakan penggambaran yang jelas, trntu beragam juga model lipatan dan penempatan dalam menggunakan tanjak, bukankah Atan berbeda dengan Ramlan? Bukankah juga Tina juga berbeda dengan Maimunah? Inikan pula tanjak yang jelas nama, fungsi, serta derajat bagi sang pemakai penutup kepala tersebut.

Tulisan ini bukanlah untuk mematahkan semangat para penggiat tanjak di Kota Gurindam, namun sebaliknya sudah saatnya metamorfosis tanjak memasuki fase yang lebih serius. Dari yang awal sekedar menghidupkan kembali khazanah yang hampir punah, kini kita memberikan kembali ruh kewibawaan tanjak sehingga tampak lebih hidup dan memesona.
Khusus di Tanjungpinang misalnya, tanjak yang dihargai dengan rupiah dengan kisaran 80 ribu hingga 150 ribu sudah populer dikenakan. Tampak si pemakan tanpa sungkan dan merasa asing ketika membiarkan tanjak-tanjak bertengger di kepalanya, untuk corak warna juga beragam, dari yang polos hingga bercorak, dari yang kental tradisi hingga bernuansa live style seperti tanjak dengan bahan dasar jeans misalnya.
Okey… Tahap pertama metamorfosis ini bisa kita katakan berhasil, dan saatnya masuk dalam tantangan kedua, tentu tak kalah tertantangnya dengan fase pertama yakni mendudukkan kembali kewibawaan tanjak, pada warna, lipatan dan tempat tanjak itu berada, baik lokasi maupun kepala.

Bukan tanpa alasan, sebab jenis tanjak yang populer di Tanjungpinang yang kini sudah merambah di seluruh kabupaten kota di Kepulauan Riau baru menganut paham 1 model, yakni tanjak ‘tebing runtuh’, dengan lipatan lingkar ganjil, dan lipatan miring berjumlah sama. Untuk diketahui, tanjak tebing runtuh di zaman dahulu, sangat familiar bertengger di kepala para laksmana, yang memiliki derajat di kalangan bangsawan kerajaan serta memiliki pasukan yang siap menggantungkan nyawa sebagai taruhan dalam melindungi daulat raja.

Di era kekinian, mungkin laksmana yang dimaksud merupakan kemustahilan untuk bisa dijumpai, namun paling tidak, ruh laksmana bisa kita serupakan agar mendapat kemiripan, dalam hal ini saya mngambil istilah KW Super.
Mungkin juga kepala tempat bertenggernya tanjak kodel tebing runtuh ini tidak lagi di kepala anak muda atawa remaja yang masih dalam masa pubertas, atau juga seorang tua tanpa ada latar kuat dibelakangnya. Tanjak tebing runtuh sangat cocok di era sekarang ini, dikenakan oleh orang yang memiliki kuasa terhadap suatu pasukan, Kapolres misalnya, atawa Danrem, atau kadis, hingga se level gubernur.

Itu baru mengutip dari satu contoh model lipatan tanjak tebing runtuh, bagaimana dengan 20 model lainnya? Apalagi jika mengaitkan tanjak sebagai cendera hati kepada tetamu dan atawa pendatang yang berkunjung ke negei bertuah ini. Elok kata, boleh dan sah-sah saja untuk menyuguhkan tanjak sebagai bukti tulus, namun model yang bagaimana dan dikenakan di kepala siapa itulah yang menjadi sebuah runding rembuk yang harus didudukkan kembali.

Saya misalkan begini, baru-baru ini, sejumlah wisatawan asing yang bertandang ke Tanjungpinang, disambut menggemuruh (itu tak masalah), dikalungkan bunga (juga tidak masalah) hinga adegan dimana si pendatang asing itu dikenakan tanjak oleh seseorang di kepalanya (baru bermasalah) sebab ada beberapa point krusial dan itu sangat sakral oleh puak melayu.
Saya melihat tanjak yang dikenakan oleh wisatawan asing itu adalah tanjak dengan model dendam tak sudah serta elang menyongsong angin. Apakah yang memakaikan tanjak tidak menyadari atau tidak menyiasati terlebih dahulu makna yang terkandung dalam lipatannya?
Dendan tak sudah adalah tanjak yang dipakai sultan dalam acara penabalan, artinya jika dikenakan oleh orang asing sama halnya menyerahkan marwah dan daulat kepada si asing tersebut.

Begitu juga dengan tanjak model lipatan elang menyongsong angin, yang sejatinya hanya dipakai oleh para pendekar ketika mengomandoi sejumlah pasukan yang berada dibawah daulat sultan dalam melaksanakan titah perintah, masih pantaslah dikenakan kepada pendatang yang asing?
Lebih miris dan menyayat hati ketika mengetahui bahwa si pemakai tanjak (yang biasanya hanya dengan megalungkan bunga) ternyata tidak mengenakan tanjak melainkan peci, dahsyat bukan.

Oke… Kita tidak mencari pembenaran dalam hal ini, juga tidak menunjuk kambing hitam atawa siapa dalang dibalik kecacatan adat ini. Jika dibilang salah, maka sudilah kita tanggung bersama, namun paling tidak keberanian untuk menunjukkan eksistensi dan jati diri sudah mulai muncul meski tidak pada tempatnya. Syukurnya, yang mengenakan tanjak dan yang dikenakan tanjak sama-sama tidak mengetahui. Mirisnya, hal ini jika tidak disiasati akan berlarut dan membentuk suatu kebiasaan baru yang dianggap sakral.

Para ahlul pikir, ahlul sejarah, penggiat budaya dan puak melayu pada umumnya, menurut hemat saya, haruslah mngambil langkah bijak agar tanjak tak salah letak.

=============================

surat edaran walikota Tanjungpinang yang mewajibkan tanjak

Walikota Tanjungpinang, H. Lis Darmansyah memberikan maklumat dalam surat edaran nomor 207 Tahun 2017 Tentang Penerapan pakaian dinas baju kurung melayu dengan mengenakan tanjak melayu bagi Pegawai Negeri Sipil dan Honorer di lingkungan Pemerintah Kota Tanjungpinang di setiap hari jumatm yang ditujukan untuk kepala badan, dinas, kantor, inspektur daerah, sekretaris DPRD, KPUD, Korpri Kota Tanjungpinang, kepala bagian, Camat dan lurah, hingga kepada direktur RSUD Tanjungpinang.

tentunya hal tersebut harus mendapat apresiasi yang positif dari masyarakat terhadap niatan beliau untuk menggemuruhkan kembali khazanah melayu, khususnya tanjak.

namun, patut juga menjadi koreksi kepada walikota agar hendaknya berkenan mendudukkan kembali dengan lebih jelas perihal tanjak apa saja yang diperkenankan untuk tersarung di tiap-tiap kepala. bukankah sudah ada Lembaga Adat yang bisa dipimpin beriringan dalam mendudukkan ekhwal ini sehingga tiada merubah nawaitu tentang melestarikan budaya yang bisa jadi bermuara petaka tatkala sebarang lipatan kain bisa dikatakan tanjak atawa sebarang lipatan kain boleh tersarung di kepala. jika sedemikianlah adanya, dimata letak ruh yang sebegitu riuhnya pada keagungan tanjak?*** (JM)

6 KOMENTAR

  1. Ulasan yang sangat bagus, memang ade baiknye penggunaan tanjak di bahas dengan lembage adat yang ade, sampaikan informasi jenis dan makne tanjak yang ade, karena tidak semue orang tau ape makne tanjak yang dipakai mereke, jangan latah semue nak pakai tanjak tapi tak tau makne tanjak di kepale.
    Saye sangat mengapresiasi tulisan ini menambah pengetahuan budaye melayu saye, usol saye ada bahasan khusus jenis tanjak-maknenye-dipakai oleh siape..syabas

  2. saye sepakat same sedare kite said rahadian jadi jelas siape saje yg boleh memakai jenis2 tanjak yg ade itu, nampaknye kite dah latah ade pulak yg pasang bintang bulan, setahu saye yg memakai ini para sultan2 atau raje2 klau sekarang ini gubernur dan walikota bupati boleh lah sekarng ini saye tengok semue bantai aje ,tak tau makne tanjak dipakai dikepale ,jadi mari kite benah bersame2 LAM sebagai lembage payung negeri utk membenahinye [musyawarah negeri] agar marwah tanjak itu sendiri tdk dipakai sembarangan/orang, saye sebagai anak melayu jati sangat bangge dng tanjak ini, budaya yg hapir pupus/punah, mari kita semarakkan dng betul dan menjadi ciri khas orang2 melayu jati.seperti halnye blankon pada orang2 jawa dllnye ciri khas mereke.

Tinggalkan Balasan