Pendokumentasian dan digitalisasi manuskrip Melayu Riau-Lingga di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda, pada tahun 2010.

Sejarah pendokumentasian khazanah manuskrip Melayu Riau-Lingga oleh peneliti Eropa telah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda (di Indonesia) dan Inggris (di Singapura dan Malaysia).

Sementara itu usaha serupa oleh bangsa Indonesia paling tidak baru dimulai sekitar lima puluh sembilan (59) tahun yang silam (1antara 1958-1959), ketika sekelompok ‘cendekiawan’ Kepulauan Riau di Tanjungpinang menggelar sebuah diskusi sejarah yang disejalankan dengan kegiatan pengumpulan manuskrip-anuskrip Melayu dan bahan sumber sejarah peninggalan kerajaan Riau-Lingga yang masih dapat ditemukan ketika itu.

U.U. Hamidy dalam laporan penelitian Naskah Kuno Daerah Riau (1982) menyebutkan bahwa kegiatan pendokumentasi manuksrip Melayu Riau-Lingga pada tahun 1958-1959 itu disponsori oleh Gubernur Riau ketika Mr. S.M. Amin, anggota Badan Penasehat Gubernur Riau Raja Haji Muhammad Yunus Ahmad, dan Bupati Kepulauan Riau Encik Muhammad Apan. Bahkan, usaha tersebut juga mendapat dukungan penuh dari Mr. Mohammad Yamin, Menteri PP dan K (Pendidikan Pengadjaran dan Kebudjaaan)  ketika itu. Selama lebih kurang enam (6) bulan tim gabungan cendekiawan Kepulauan Riau di Tanjungpinang itu berhasil mengumpul berbagai macam manuskrip Melayu, kitab-kitab, catatan-catatan, dan arsip yang berkaitan dengan masa lalu Kepulauan Riau.

Semua bahan yang berhasil dikumpulkan, dihimpun dalam dalam tiga (3) jilid laporan (masing-masingnya setebal 1000 halaman) yang kemudian digandakan menjadi 4 rangkap. Tiga rangkap dinataranya diserahkan kepada Gubernur Riau Mr. S.M. Amin, Raja Muhammad Yunus Ahmad, dan Bupati Kepulauan Riau Encik Muhammad Apan di Tanjungpinang. Sedangkan satu rangkap lainnya diserahkan kepada Mr. Mohammad Yamin di Jakarta. Namun sayang, semua laporan asli dan salinannya yang bernah dibuat hilang tak berbekas. Usaha menelusurinya pernah yang saya lakukan dengan memeriksa seluruh koleksi arsip dan buku koleksi Mr. Mohammad Yamin  yang kini tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta juga tidak membuahkan kasil.

Dua puluh empat tahun setelah kegiatan pengumpulan menuskrip Melayu Riau yang dilakukan pada tahun 1958-1959 itu, barulah muncul kembali usaha serupa yang dikelola oleh U.U. Hamidy dibantu oleh Raja Hamzah Yunus dan Hasan Junus dengan sponsor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melalui Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebuadayaan Daerh Riau pada tahun 1982/1983.

Melalui proyek itu, berhasil didokumentasikan sejumlah manuskrip Melayu Riau-Lingga yang erat kaitannya dengan sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau Bahan-bahan tersebut berada dalam simpanan perorangan dan lembaga non-pemerintah di Tanjungpinang khususnya. Seluruh data teknis bahan-bahan ini dicatat dalam dua  jilid risalah yang diberi judul Naskah Kuno Daerah Riau (1985).

Pada masa yang hampir bersamaan (1983), Raja Hamzah Yunus mendata pula 100 buah-bahan  koleksi yang berada dalam naungan Yayasan Inderasakti Pulau Penyengat kedalam sebuah katalog sederhana. Katalog yang mengandungi koleksi dan bibliografis buku cetakan lama dan manuskrip yang kebanyakannya dihasilkan pada masa  kesultanan Riau-Lingga ini kemudian diperbanyak secara terbatas dengan judul Katalog Naskah dan Bahan-Bahan Lain (Kitab, Catatan, lembaran) Milik Yayasan Indera Sakti Pulau Penyengat Tg. Pinang (1983).

Katalog Yayasan Indera Sakti Pulau Penyengat yang dibuat pada tahun 1983 ini, secara berturut-turut dipergunakan sebagai bahan dasar dalam inventarisasi dan pedokumentasian koleksi yang sama untuk kepentingan kegiatan akademis oleh Dr. Sri Wulan Ruliati Mulyadi dari Universitas Indonesia pada tahun 1990. Setelah itu, dipergunakan pula oleh Ian Proudfoot dalam menyusun katalog buku cetakan lama, Early Malay Printed Book (1992), yang bersikan senarai edisi cetak manuskrip Melayu dan buku bertulisan jawi yang dicetak di Singapura, Malaysia, dan Pulau Penyengat hingga tahun 1920.

Masih dalam tahun 1983, filolog Virginia Matheson dan antropolog Vivienne Wee yang terinspirasi oleh catatan harian  utusan Temenggung Abubakar Johor ke Pulau Penyengat tahun 1868, menerapkan teknologi fotografi dan penggunaan microfilm saat itu untuk mendokumentasikan manuskrip Melayu dan bahan-bahan tertulis peninggal Kerajaan Riau-Lingga koleksi sejumlah keluarga di  Pulau Penyengat, Daik Lingga, dan Dabo Singkep. Hasilnya adalah beberapa roll rekaman dalam bentuk microfilm yang copy @ salinannya (antara lain) kini tersimpan di Australia dan Pusat Manuskrip Melayu Perpustakaan Negara Malaysia.

Pada tahun 1993, dilakukan sekali lagi pendokumentasian khazanah manuskrip Melayu Riau-Lingga koleksi perorangan dan lembaga di Pulau Penyengat dan kawasan sekitarnya. Dalam tahun 1993 ini, kitab-kitab lama peninggalan Kutubkhanah Marhum Ahmadi yang berada di Mesjid Pulau Penyengat mulai didata oleh Hasan Junus dan kawan-kawan. Hasil dari kegitan tersebut kemudian dipublikasikan dengan judul Pendokumentasian Naskah Kuno Melayu Riau dan Kajian Khusus oleh Yayasan Setanggi bekerjasam dan Pemerintah Daerah Riau melalui Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah Riau.

Lebih kurang setahun kemudian, Koleksi Yayasan Kebudayaan Inderakasi di Pulau Penyengat kembali menjadi sasaran “Upaya penyelamatan dan Pelestarian Khazanah Naskah Kuno Daerah Riau di Bekas Kerajaan Riau-Lingga Pulau Penyengat Indera Sakti” yang dikelola oleh Dra. Tuti Munawar dan drs. Muhammadin Razak.

Memasuki era digital, antara tahun 2007-2009, pendokumentasian khazanah manuskrip Riau-Lingga memasuki babak baru. Ditandai dengan program digitalisisi manuskrip Riau-Lingga secara besar-besaran  yang dikelola oleh Dr. Jan van der Putten, Aswandi Syahri, dan Alex Teoh melalui bertajuk Riau Manuscripts: the gateway to Malay intellectual world. Kegiatan digitalilasi ini disponsori oleh proyek Endangered Endangered Archives ProgrammeBritish Library, London.

Agak lebih maju dari kegiatan pendokumentasian sebelumnya, kegiatan pendokumentasian manuskrip Melayu Riau-Lingga yang disponsori oleh British Library ini fokus pada manuskrip Melayu milik perorangan yang belum pernah didokumentasikan (secara digital), serta melakukan konservasi agar dapat bertahan lebih lama lagi.

Melalui proyek Endangered Archives ProgrammeBritish Library London ini, berhasil didigitalisasikan 13 koleksi milik perorangan dan lembaga yang tersebar di Tanjungpinang, Pulau Penyengat, Daik-Lingga, dan Penuba di Pulau Selayar.

Hasil digitalisasi yang disimpan dalam format Digital Video Disch (DVD) tersebut dilengkapi data teknis serta deskripsi (pemerian) 422 item bahan yang terdiri dari beragam manuskrip Melayu, buku jawi cetakan lama yang dihasilkan pada zaman Kerejaan Riau-Lingga. Sebagian diantaranya belum penah dicatat dalam daftar inventaris dan katalog manapun. Seluruh hasil kegiatan digitalisasi dan pendokumentasian itu kini dapat diakses secara online melalui Endangered Archives ProgrammeBritish Library, London.

Semua kegiatan pendokumentasian manuskrip Riau-Lingga diatas dilakukan terhadap khazanah manuksrip Melayu yang berada di Kepulauan Riau. Dengan kata lain, hingga tahun 2009, belum pernah dilakukan upaya pendokumentasian dan digitalisasi terhadap manuskrip Melayu Riau-Lingga yang berada di luar negeri, khususnya di Negeri Belanda.

Hal ini sangat mustahak, karena tak sedikit dari khazanah manuksrip Melayu Riau-Lingga yang berada di luar Kepulauan Riau itu dalam kenyataanya tidak dapat lagi ditemukan di  Kepulauan Riau. Oleh karena itulah, berbeda dari usaha-usaha yang telah dilakukan sebelumnya, sebuah kegiatan pendokumentasian manuskrip Melayu Riau-kemabali saya lalukan bersama Dr. Jan van der Putten pada tahuan 2010. Kali ini dengan fokus manuskrip Melayu Riau-Lingga yang berada di luar negeri: khususya Negeri Belanda.

Dalam kegiatan tahun 2010 itu, berhasil didigitalisasi sejumlah besar salinan dan manuskrip asli serta khazanah bahan sumber sejarah Kesultanan Riau-Lingga yang ada dalam simpanan Perpustakaan Koninkelijk Instituut voor Taal-, Land-en Volkenkunde (KITLV) di Leiden (yang seluruh koleksinya kini telah dipindahkan ke Perpustakaan Universitas Leiden),  Uiniversiteitbibliotheek Universiteit Leiden, Museum Volkenkunde di Leiden, dan Nationaal Archief di Den Haag.***

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan