Kepala BPNB Toto Sucipto disaksikan Kadisbud Lingga, M Ishak meneken MoU pengkajian Bangsawan, Cerita dan permainan Rakyat di Daik. (foto: dedi arman)

BUDAYA lisan yang hidup di masyarakat mau tidak mau harus diperkuat dengan literasi. Meskipun memiliki keunggulannya masing-masing, budaya lisan selalu membutuhkan pencerita sebagai narasumber.

Dari masa ke masa yang lain, penyampaian cerita lisan tentang suatu budaya ataupun sejarah boleh dimakan usia. Boleh jadi, budaya lisan dapat terputus karena habisnya narasumber dan pencerita.

Soal keunggulan, budaya lisan memiliki kemampuan dalam mengkomunikasikan aspek emosi, penjiwaan dan kadang juga hal abstrak.

Ini sulit dilakukan budaya literasi. Seiring perkembangan zaman budaya literasi muncul sebagai salah satu landasan perkembangan ilmu pengetahuan. Didukung kepastian dan presisi. Melalui bukti tercatat suatu karya bisa disampaikan secara otentik dan bisa diverifikasi di masa mendatang.

Persoalannya tentang sumber-sumber kebudayaan di dunia Melayu khususnya di Lingga, sumber sejarah, budaya yang non-literasi ini semakin berkurang. Sedangkan literatur yang ada belum mampu menjadi rujukan.

Hal ini perlu langkah cepat. Seperti salah satunya kerjasama yang dibangun peneliti Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Tanjungpinang dengan Dinas Kebudayaan (Disbud) Lingga untuk mencatat dan membukukan seni teater Bangsawan, cerita dan permainan rakyat yang pernah hidup dan masih dapat dijumpai di Lingga.

“Agar generasi muda tidak tercabut dari akar kebudayaannya,” kata Toto Sucipto, Kepala BPNB Tanjungpinang usai menandatangai nota kesepahaman didampingi langsung Kadisbud Lingga, M Ishak di Balairung Sri, Replika Istana Damnah Daik, Kamis (13/4) kemarin.

Khazanah budaya di Lingga sebagai sentra Bunda Tanah Melayu dikatakan Toto cukup beragam. Ke depan, dengan data-data awal yang dikumpulkan tersebut dapat menjadi pintu masuk meliterasikan khazanah budaya melayu di Lingga.

“Setelah nanti jadi buku, mudah-mudahan kerja sama ini tidak hanya sampai sini. Terus kita sempurnakan. Kita kenalkan kepada masyarakat luas,” imbuhnya Toto.

Tidak sampai di situ, BPNB juga memiliki empat tugas pokok. Yaitu mengkaji, mencetak buku sebagai referensi, pencatatan warisan budaya tak benda, dan internalisasi nilai budaya.

“Kajian budaya ini selanjutnya akan dikenalkan kepada masyarakat,” lanjutnya.

Di temapt yang sama hadir juga sejumlah peneliti BPNB lainnya. Seperti Zulkifli Harto yang akan menuliskan permainan tradisional di Lingga bersama Evawarni. Ada juga Jauhar Mubarok yang akan meniliti seni Terater Rakyat Bagsawan bersama Sita Rohana dan Dedi Arman yang akan menuliskan cerita rakyat serta Toponimi dengan Wiwik Swastiwi.

Peneliti BPNB Zulkifli Harto mengatakan dipilihnya permainan rakyat di Lingga sebagai bahan kajian penulisan adalah untuk mempopulerkan lagi warisan budaya tersebut. Pihaknya bekerja sama dengan Pemkab Lingga untuk meliterasikan permainan rakyat agar dapat dikenal generasi muda secara luas. Tidak hanya Lingga tapi juga seluruh wilayah Kepri dan Indonesia umumnya.

“Permainan Rakyat ini mengandung filosofi, sportifitas, kebersamaan, kecerdasan, pikiran dan juga membuat anak-anak mengenal lingkungannya,” papar Zulkifli.

Sedangkan seni Bangsawan yang telah diakui sebagai warisan Budaya Nasional juga masih sangat minim literasi. Baik sejarah, bentuk dan juga eksistensi serta nilai-nilai teater rakyat untuk dikenalkan kepada generasi muda.

Dalam sebuah seni pertujukan khususnya teater ini, banyak unsur seni di dalamnya. Seperti seni peran, pantun, tarik suara, silat, musik juga penataan artistik panggung pertunjukan.

Kadisbud Lingga Ir H M Ishak di tempat yang sama juga berharap langkah kerja sama dengan BPNB sebagai peneliti adalah bentuk penyelamatan budaya. Beberapa tahun terakhir para pelaku seni yang berusia lanjut banyak yang telah meninggal. Sumber-sumber lisan yang belum sempat dan pernah dituliskan. Untuk itu dengan kerjasama pembuatan buku ia berharap, kebudayaan di Lingga tidak terputus dan tercabut dari akarnya.

“Banyak orang-orang tua kami yang telah meninggal. Mereka-mereka adalah sumber lisan. Literasi ini harus segera dilakukan. Baik penelitian maupun kajian terhadap seluruh budaya melayu di Lingga,” kata Ishak.

Harapan lain, pencatatan ini kelak juga akan menjadi bahan dasar dalam merumuskan muatan lokal guna diajarkan di sekolah-sekolah.

“Kami juga berharap, kajian ini melengkapi salah satu persyaratan usulan warisan Budaya Tak Benda Nusantara oleh Kemendikbud,” pungkas Ishak. (muhammad hasbi)

sumber tulisan: di sini

Tinggalkan Balasan