Istana Kota Batu; Simbol Perlawanan Orang Melayu

2
779 views
Puing-puing Istana Kota Batu di Daik, Lingga. foto: hasbi.

KEBERADAAN Istana Kota Batu seolah lenyap dalam sejarah. Padahal ia menjadi salah satu bukti dan simbol perlawanan Sultan Mahmud Muzaffarsyah atau Mahmud IV Riau-Lingga terhadap penjajah.

Hal tersebut dipaparkan Budayawan Melayu, Rida K Liamsi saat melihat langsung puing-puing istana bergaya Eropa, Selasa (18/4) kemarin.

“Istana ini adalah simbol perlawanan Sultan Mahmud IV. Dengan istana ini ia ingin menunjukkan inilah Sultan Melayu yang bisa juga hidup modern dan maju seperti orang-orang Eropa,” ucap Rida.

Dalam sejumlah literatur sejarah, disebutkan Sultan Mahmud IV dikenal pembangkang terhadap penjajah Belanda. Hingga akhirnya ia dimakzulkan. Cicit dari Sultan Mahmud Riayat Syah atau Mahmud III ini kemudian meninggalkan Daik Lingga dan wafat di Pahang. Dikenal dengan nama Marhum Pahang.

Kisah pembangunan Istana Kota Batu sang Sultan tercatat dalam Syair Sultan Mahmud. Sekumpulan syair yang berisi ribuan bait mengisahkan perjalanan kepemimpinannya. Istana ini juga dikisahkan menjadi tempat berlangsungnya pernikahan anak perempuannya, Tengku Embung Fatimah dengan Yang Dipertuan Muda (YDM) ke X, Raja Muhammad Yusuf. Kini salinan syair tersebut menjadi koleksi arsip nasional di Jakarta.

Sementara yang memimpin pembangunan istana tersebut adalah Tengku Embung (Tengku Usman), adiknya dari lain ibu. Rida menerangkan, memang ada dua Tengku Embung. Dijelaskan olehnya, itu merupakan nama timang-timangan dan bukan jenis kelamin.

“Aku dalam perjalanan meluruskan sejarah dan menempatkan Sultan Mahmud IV di tempat yang semestinya dalam catatan sejarah kerajaan Riau-Lingga,” sambung budayawan yang tengah menyelesaikan buku semi sejarah Mahmud Sang Pembangkang.

Saat kunjungannya ke lokasi Istana Kota Batu yang berdampingan dengan pusat pemerintahan kabupaten Lingga, Rida juga menyayangkan kondisi yang kurang terawat. Cagar budaya ini minim sarana prasarana penunjang, seperti jalan menuju lokasi situs.
“Seharusnya situs ini segera diselamatkan. Agar jejak dan catatan sejarahnya tidak hilang. Hal ini juga aku telah sampaikan kepada pemda dan dinas kebudayaan,” lanjutnya.

Sebagai sentra Bunda Tanah Melayu, komitmen menjaga warisan budayaadalah kunci mewujudkan Bunda Tanah Melayu yang sesungguhnya. Rida berharap hal ini menjadi perhatian serius pemerintah untuk menjaga khazanah pusat kesultanan 200 tahun lalu di Daik Lingga itu. (muhammad hasbi)

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan