Dalam sebuah karyanya, Gurindam XII, Raja Ali Haji menuliskan “Apabila terpelihara mata, maka sedikitlah cita-cita”. Beberapa ahli, termasuk dikaji dalam beberapa penelitian, mengartikan bait gurindam yang dituliskan Raja ALi Haji itu. Sebagian hasil mengartikan cita-cita sebagai keinginan. Disimulasikan, jika seseorang yang “tak pandai” menjaga penglihatannya, maka akan muncul keinginan-keinginan yang boleh jadi positif dan bahkan negatif. Misal, yang positif, ketika melihat nenek-nenek susah menyeberang jalan, dengan sikap dan penuh simpatik, yang melihat langsung membantu. Atau misalkan lagi, sedang sedap menikmati makan di restoran, “ternampaklah” budak bejual koran. Dengan seketika, yang melihat, tak pula membeli koran yang dijajakan, tapi malah mengajak budak tadi duduk dan makan bersama.

Yang negatif, tetangga beli kulkas baru, pening nak beli juga. Tetangga beli motor baru, berdebar jantung nak beli juga. jalan ke Mall, lihat perempuan bedelau, lah pening nak bebini baru pula. Atau ada pula yang melihat nenek-nenek nak menyeberang jalan, bawa muka selamba. Ternampak anak menjaja surat kabar, pura-pura buta. Dari simulasi itu, dapat pula kita simpulkan, bahwa, cita-cita yang dimaksud Raja Ali Haji adalah keinginan. Dengan memelihara mata, maka akan sedikit keinginan atau “nak” yang tak pada tempatnya.

Tulisan ini tak berfokus pada Raja Ali Haji, atau makna gurindam duabelas yang fenomenal itu, atau pula pada keinginan orang Melayu. Tulisan ini nak mengkaji mata orang Melayu.

Sebagai satu indera manusia, mata, memiliki peran penting dalam kehidupan manusia itu sendiri, tak terlepas kehidupan orang Melayu. Melalui mata, keindahan “warna-warni” dunia dapat lebih dinikmati. Dan mata, boleh dikatakan “nikmat hidup yang luar biasa yang Allah berikan ke ciptaannya”.

Jaga Mata!

Kalimat yang jelas mengandung perintah dan pesan yang bermakna. Jika pesan itu disampaikan orang dari bidang kesehatan, maka, orientasi menjaga mata akan berpusat pada kesehatan mata. Hindari debu, makan makanan bervitamin A, hindari bergadang, dan cukupkan istirahat, menjadi kalimat tambahan pesan. Tentulah semua itu untuk menjaga kesehatan mata.

Jika kalimat itu disampaikan Istri ke Suami, atau sebaliknya, maka pesannya bukan pada kesehatan. Tapi, menjaga mata dari melihat perempuan atau lelaki lain yang dapat memicu perselingkuhan yang berhujung perceraian. Tentu berbeda pula, jika istri atau suami-nya, berprofesi di dinas kesehatan atau dokter, sehingga secara harfiah terjadi pemaknaan ganda perintah.

Berbeda lagi jika kalimat itu disampaikan oleh ulama ke umatnya. Dari sisi ini, aspek penjagaan mata lebih pada hal-hal yang dilarang agama. Misal, melihat aurat yang bukan muhrim yang memicu zinah, melihat atau melirik kemana-mana ketika sholat, dan atau semua hal yang mengarah ke dosa.

Lain halnya bila perintah itu disampaikan dari mulut guru (umum) ke muridnya. Orientasi pesan, lazimnya, diucap pada saat ujian. Perintah menjaga mata disampai ke muridnya agar tidak mencontek saat ujian. Hal ini lebih menuntut ke muridnya untuk mandiri dalam mengerjakan soal.

Bagaimana pesanan menjaga mata dalam Melayu?

Orang tua-tua memesankan beberapa hal terkait dalam menjaga mata. Dari kecil sampai ke besar, setidaknya ada ingatan yang selalu membayang. Satu; jaga mata saat ber-cakap. Ketika bercakap dengan yang tua, pantang mata beradu. Beradunya mata muda dengan tua dilambangkan sebagai bentuk kurang sopan. Idealnya, ketika berbicara dengan yang tua, mata yang muda, menunduk. Tunduk bukan berarti takut, tunduk bukan berarti lemah, tapi tunduk pertanda hormat. Bila bercakap dengan yang se-umur, mestilah beradu pandang. Bukan maksud menantang, tapi justru, ini merupakan bentuk “penghormatan”. Menghargai kawan yang bercakap. Bila bercakap dengan yang muda, taklah boleh membelalakkan mata. Terkesan menakut-nakuti atau merasa “paling” (mentang-mentang tua). Bila bercakap dengan pimpinan, adab mata yang dipakai sama dengan adab bercakap dengan yang tua. Berbeda pula ketika be-cakap dengan guru. Bila di dalam kelas, murid mesti menengok guru, sebagai tanda memperhatikan. Namun, bila di luar kelas, adab bercakap mesti sama dengan adab bercakap dengan orang tua.

Dua; jaga mata saat bertamu. Mengunjungi rumah orang, bertamu, sudah menjadi hal yang lumrah sebagai makhluk bersosial. Ber-tamu merupakan media penguatan ikatan silahturahmi. Adab bertamu, menjaga mata, beerati tidak boleh “jelalatan” melihat barang-barang yang ada di rumah orang. Kata orang tua-tua, jika seseorang matanya liar ketika bertamu, mengindikasikan orang itu pada tiga hal. Pertama, punya niat tak baik. Kedua, Iri dengan isi rumah orang. Ketiga, meremehkan.

Tiga; jaga mata saat berjalan. Pada sisi ini ada dua perintah yang dipesankan. Pertama, jaga mata dengan sesungguhnya menjaga mata, yaitu menjaga dari halangan dan rintangan selama perjalanan. Entah itu batu, kayu, atau orang yang sama-sama berjalan, atau binatang, dan atau lain-lain yang dapat membahayakan. Tujuannya tentulah selamat dunia. Kedua, jaga mata dari hal yang berkait dengan poin bercakap, bertamu, dan aspek keagamaan sekaligus. Tujuannya, tentulah selamat akhirat.

Apa yang terjadi sekarang? Mata Melayu semakin liar. Seolah tak kuasa mengatur arah. Hitam mata, pandai bergerak sorang.

Mata Melayu tak sebening dulu. Pancarannya meredup. Besar putih dari hitam. Inilah tanda pandangan tak sehat. Pandangan Melayu “terkontaminasi” iri, dengki, hasat, dan hasut. Dengan yang tua mata membelalak, dengan se-umur mata memicing, dengan yang kecil mata membesar. Suka melihat yang bukan seharusnya dilihat, suka mengintip, suka pula pula menengok hal-hal seronok. Mata Melayu banyak yang rabun. Rabun akan kenyataan, rabun mana yang boleh mana yang tidak, mana yang benar mana yang salah, yang berhujung buta.

Mata adalah sinaran jiwa. Ungkapan “dari mata turun ke hati” sudah secara jelas mengisyaratkan bahwa suci dan bersihnya hati berpangkal dari mata. Dan ingatlah pula “hati itu kerajaan di dalam tubuh, jikalau zalim anggota pun roboh.” Untuk itu, jaga mata, agar hidup tak menista. Muncul pertanyaan, bagaimana cara menjaganya? Gunakan akal, pasti mampu menjawabnya.

Sayang Puteri bermain cinta, sayang laksmana bermain batu.

Terus syukuri adanya mata, tanda cinta pada yang satu.

 

Penuh taman bunga melati, ambil sematkan hiasan syal.

Bersih mata bersihkan hati, tanda umat pintar berakal.

 

woi, mata kau tu! ***(jm)

Tinggalkan Balasan