Melayu dalam Lintasan Kosmos

0
447 views
ilustrasi. sumber: pinterest.com

Oleh: Muhammad Natsir Tahar

Apa yang dilihat pada entitas Melayu abad ini adalah sebuah common sense. Bermula dari dialektika, lalu muncul konsensus – konklusi yang melahirkan definisi: Melayu. Dalam perspektif kosmologi, ia akan mengambil tinjauan sangat panjang. Maka Melayu – sengaja atau tidak – memakai teori pragmatisme dari keelokan sejarah yang tiada lain hanyalah sekeping kecil mozaik dari keseluruhan Melayu.

Keelokan sejarah dalam lintasan kosmos – hampir semua etnik melakukan ini – mungkin saja hanya sebatas uji petik random, untuk tidak mengatakan inilah zaman keemasan yang terbaik. Teori Pragmatisme (The Pragmatic Theory of Truth) dalam Filsafat Ilmu menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil memiliki kebenaran bila ia mengandung utilitas atau fungsi, dapat dikerjakan (workability) dan akibat yang memuaskan (satisfactory consequence).

Memaknai Melayu dalam tinjauan ilmu pasti melelahkan, sehingga kita sebagai awam akan memilih shortcut. Melayu didefinisikan sebagai apa yang terlihat dari tutur dealek, rentak tari, busana adat, remah – remah manuskrip, artefak dan mitologi serta tentunya teritorial. Inilah common sense, pengetahuan permukaan yang sebenarnya kontraproduktif secara filsafat.

Kosmos adalah keteraturan dalam sebuah sistem semesta, bermula dari titik nol hingga kembali menjadi nol. Ia adalah struktur berskala besar, sehingga Melayu harus dipahami secara holistik dan serentak bukan parsial dan uji petik. Agar generasi Melayu ke depan dapat menjadi Ratu Adil bagi sejarahnya sendiri.

Melayu bukan hanya kilau emas, tahta ratna mutamanikam trah Sang Sapurba. Melayu bukan sebatas lipatan – lipatan tanjak yang memanjakan mata, bukan tenun kebaya Labuh, bukan songket berpernik, keris Taming Sari, bukan Zapin menghentak, bukan Makyong dramatik atau Gurindam 12 yang sakral bagai kitab suci.

Tapi Melayu juga adalah tentang segala primitif dan aboriginal-nya orang Negrito yang berkayuh melintasi samudra, sampai ke Kepulauan Melayu, menabur benih dan melahirkan kita sekarang. Melayu adalah juga tentang Proto dan Deutro gilir bergilir, memancangkan hidupnya di tanah ini. Mereka atuk moyang kita. Jika keris dan jembia adalah Melayu maka Kapak Batu dan Flakes juga Melayu.

Melayu bukan sebatas keanggunan Lingua Franca yang diangkat menjadi bahasa pengantar untuk menyeberangi Nusantara, tapi ia adalah sebuah konstalasi dari rumpun bahasa Austronesia yang mencakup Formosa, Mikronesia, Melanesia, Polinesia hingga Madagaskar. Melayu bukan juga tentang Lancang Kuning Berlayar Malam tapi juga tentang kolek kuno sezaman bahtera Nuh.

Membincangkan tentang kearifan lokal Melayu yang – mestinya – diwariskan dari ketinggian budi masa silam, tidaklah dengan hanya menyerap lalu melokalisasi nilai – nilai universal dan dogma yang seolah hanya etnik Melayu sebagai pemilik tunggal. Perlu penggalian lebih dalam apa yang mencirikan Melayu itu yang berbeda dari nilai – nilai semesta yang berlaku umum.

Melayu kekinian abad milenial adalah jahitan peradaban yang diekspor dari Silicon Valey, Italia, Swiss atau Cibaduyut. Ia memakai blazer, berdasi, berambut wet look tanpa tanjak. Di pinggangnya sudah pasti bukan keris, tapi telepon pintar. Alas kakinya tak lagi capal tapi sneakers atau pantofel. Kenapa tak pakai tanjak dan berbaju kurung Cekak Musang? Coba tanyakan kepada Sultan Abdurrahman Muazam Syah, atau Raja Ali Kelana yang berdandan seperti Turki campur Eropa, atau Raja Ali Haji yang bersurban bagai Timur Tengah.

Melayu tidak mungkin bisa lepas dari akulturasi dan asimilasi budaya lain. Ia akan membentuk sebuah anyaman baru dari berbagai – bagai kultur. Tulisan ini dibuat untuk menghindari cara berpikir pars pro toto: sebagian objek atau unsur untuk mewakili semua. Melayu seakbar ini tak cukup untuk diwakilkan kepada tanjak yang sangat Sriwijaya, misalnya.

Next, bagaimana dengan Melayu masa depan? Kalau umur bumi ini panjang, seribu tahun lagi apa yang dilakukan untuk menandai bahwa mereka adalah Melayu. Kita bisa menjadi salah satu faktor penentu nasib Melayu di ujung lintasan kosmos itu.

Melayu? Jangan – jangan mereka mencatat kita sebagai: manusia kuno yang diturunkan dari Yunan, rumpun Austronesia zaman teramat silam, berdiam di selatan Semenanjung Melayu. Pada tahun 2016 Masehi rumpun bangsa ini juga memasuki zaman milenial, sebuah fase di mana orang – orang kuno menatap hampir sehari penuh sebuah benda purba menyedihkan yang mereka sebut Smartphone 4 G. ***

Tinggalkan Balasan