Pionir Feminis Berbaju Kurung

1
842 views

Oleh: Nureza Dwi Anggraeni*

MARI kita mulai esai ini dengan pertanyaan: mengapa Kartini menjadi satu-satunya perempuan yang diperingati keberadaannya? Apakah dengan segera kita bisa menjawab? Mengapa Kartini? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu?

Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak perempuan yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung, Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan), dan Aisyah Sulaiman di Tanjungpinang (terakhir pindah ke Singapura).

Jika kita ingin menarik sejarah keperempuanan di Indonesia, pasti akan dijumpai nama-nama yang terdengar ganjil. Aisyah Sulaiman, misalnya. Meskipun sezaman dengan Kartini di abad ke-19, mereka tak pernah saling bersinggungan.

Popularitas Kartini melesat tidak bisa dilepaskan dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht. Oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda, Mr. J.H. Abendanon pada 1911. Buku ini pula lantas dianggap sebagai gagasan yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya.

Jika ditilik lebih lanjut, Aisyah Sulaiman juga memperjuangkan hak-hak perempuan melalui karya sastra. Pendidikan merupakan solusi yang dicetuskan Aisyah Sulaiman guna mencerdaskan kaum perempuan. Suara emansipasi perempuan yang belum banyak terpikirkan oleh kaumnya. Termanifestasikan dalam sepetik bait pada Syair Khadamuddin (1987) karya Aisyah Sulaiman yang dialihaksarakan Hamzah Yunus.

186. Sebenarnya salah kita perempuan

        Akhirnya tiada ‘akal pengetahuan

        Jadi demikian halnya tuan

        Diperbuat laki-laki seperti haiwan

Perubahan era tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajiban. Perubahan harus terjadi dalam soal mendapatkan pendidikan dan perlakuan yang lebih baik. Perempuan harus mempunyai ilmu pengetahuan untuk hidup lebih baik. Begitulah pandangan hidup Aisyah Sulaiman yang dituangkan dalam bait Syair Khadamuddin.

Kajian historis mengenai perempuan diwarnai oleh serangkaian fenomena yang mengasosiasikan perempuan dengan fungsi reproduktif dan objek ketubuhan. Perempuan ada sekadar untuk kepuasan biologis laki-laki, mengandung, melahirkan, dan menyusui.

Menyitir Simone de Beauvoir, perempuan menjadi the second sex, warga kelas dua. Fenomena ini terjadi dengan sangat dan sungguh di hampir setiap peradaban dan kultur.

Sejak sebelum dan sesudah kemerdekaan, persoalan keterdidikan perempuan tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan kesadaran dan aktivitas gerakan feminisme di Indonesia. Fenomena pendidikan pada masa pemerintah kolonial dirancang bagi para perempuan untuk dipersiapkan menjadi ibu rumah tangga.

Sangat jelas pada masa itu, keterdidikan perempuan hanya bisa didapat oleh perempuan dari keluarga bangsawan. Hal ini barang tentu bertentangan dengan pandangan hidup seorang Aisyah Sulaiman. Ia meyakini, pendidikan harus diberikan ke setiap perempuan secara menyeluruh. Keinginan Aisyah Sulaiman untuk mengekspresikan diri dan mengurai kepincangan sosial yang dialami perempuan, membuatnya berbeda dari pengarang perempuan Riau Lingga yang lain.

Menarik untuk dimafhumkan soal kehadiran Aisyah Sulaiman dalam sosok individualis dan berani mengekspresikan pikiran-pikiran feminisnya. Cerminan feminisme dalam sebuah cerita dapat terlihat ketika tokoh cerita perempuan mengalami pergerakan untuk berubah dan berjuang guna pembebasan dirinya dari ketertindasan laki-laki (Wiyatmi, 2015:33).

Feminisme pada dasarnya merupakan ideologi pembebasan perempuan dengan keyakinan bahwa perempuan mengalami ketidakadilan karena jenis kelaminnya. Di Pulau Penyengat justru buah pikir perempuan bermunculan.

Aisyah Sulaiman piawai dalam menulis dan mengarang. Faktor lingkungan dalam keluarga cendekia kerajaan Melayu Riau-Lingga juga melatarbelakangi Aisyah Sulaiman aktif di bidang penulisan. Jari tangan Aisyah Sulaiman telah mencipta berbagai karya, yang kini tercatat dalam kepustakaan di Riau, yaitu  Mulkhatul Badrul Mukmin atau Hikayat Syamsul Anuar (1890), Syair Seligi Tajam Bertimbal (1929), Hikayat Syariful Akhtar (1929), dan Syair Khadamuddin (1926).  Hikayat Syamsul Anuar dan Syair Khadamuddin merupakan samaran kehidupan Aisyah Sulaiman.

Melalui kedua karyanya, Aisyah Sulaiman menulis biografi dengan tokoh-tokoh yang disamarkan (otobiografi fiksi). Dengan begitu, secara leluasa dirinya dapat menuangkan pikiran dan perasaan tentang perjuangan perempuan dalam mengangkat derajat perempuan yang direndahkan kaum laki-laki.

Di abad ke-19 Aisyah Sulaiman menjadi pengarang perempuan satu-satunya dalam keluarga inti bangsawan Melayu Riau-Lingga yang setarik-lurus dengan darah Raja Ali Haji.

Menjadi cucu tokoh besar Raja Ali Haji membuat Aisyah Sulaiman terbiasa dengan kegiatan intelektual, seperti membaca dan menulis. Pada masa yang berdekatan dengan Kartini itu pula, Aisyah Sulaiman menghasilkan karya terbanyak dibandingkan pengarang perempuan Melayu lainnya.

Sebelum Raja Aisyah, terdapat enam orang pengarang perempuan lain. Tiga di antaranya adalah keluarga bangsawan Riau Lingga, yakni Zaleha (adik Raja Ali Haji), Raja Safiah dan Raja Kalthum (anak-anak Raja Ali Haji). Tiga orang lainnya tidak memiliki hubungan keluarga kerajaan, yakni Salamah bt. Ambar, Khatijah Terung, dan Badariah Muhammad Tahir.

Silsilah keluarga Raja Aisyah Sulaiman. (3)

Sepanjang karir kepenulisan Aisyah Sulaiman, tema keperempuanan menjadi tema besar. Tema ini muncul karena adat yang membelenggu kaum perempuan sehingga tidak dapat memeroleh kebebasan. Aisyah Sulaiman beranggapan bahwa, menulis merupakan cara untuk mengekspresikan pikiran dan juga sebagai sarana untuk menyampaikan kritik. Menulis memang menjadi salah satu usaha untuk mencari bentuk estetik bagi kejujuran.

Sastra  dijadikan medium bagi Aisyah Sulaiman untuk menggambarkan sebuah karakter perempuan yang merdeka. Merdeka dalam adat Melayu bukan berarti kebebasan dalammelalaikan kewajiban seorang perempuan. Merdeka adalah keleluasaan untuk melakuan keinginan disamping menjalankan kewajiban sebagai seorang perempuan.

Perempuan terikat oleh seribu satu stigma. Dari dianggap stereotip sampai diberikan label tidak berharga. Amoral atas pilihannya. Bahkan keterbukaan pandangan bisa dianggap melanggar norma sosial. Ketika kebebasan dibungkam, perempuan harus bicara. Karena bila perempuan bicara dengan fakta, suara bicara dengan kebenaran.

Aisyah Sulaiman juga seorang Kartini. Pionir feminis untuk perempuan berbaju kurung. Tapi sayang, tak banyak yang tahu. Mungkin ini bisa membuktikan, bahwa seringkali sisi lain kebenaran memang membutuhkan waktu yang panjang untuk ditemukan.***

Referensi:

1 Sila baca lebih lanjut dalam Syair Khadamuddin (1987) karya AisyahSulaiman dialihaksarakan oleh Hamzah Yunus.

 2 coba simak “Konteks Pendidikan dan Kesadaran Keterdidikan Perempuan Di Indonesia” dalam Menjadi Perempuan Terdidik (2013) karya Wiyatmi.

3 Sila baca lebih lanjut dalam Raja Aisyah Sulaiman, Pengarang Ulung Wanita Melayu (1999) karya Ding Choo Ming.

*) Mahasiswi asal Tanjungpinang yang sedang menempuh studi Pascasarjana di Universitas Negeri Yogyakarta. Sedang merampungkan tesis tentang proses kreatif Raja Aisyah Sulaiman.

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan