Batam di Antara Puing dan Bangunan Tua

0
578 views
Batam Tempo Doeloe. (foto: wikipedia)

Oleh: Muhammad Natsir Tahar

Sebelum Batam menjadi etalase utama ekonomi Indonesia di Selat Philips – yang menghubungkan Indonesia dan Singapura – warga pesisir melingkupi sejarah yang bertolak belakang dengan kekinian. Dalam bentang waktu antara tahun 1920-an sampai tahun 1970–an ada tiga titik utama pesisir Batam, dan secara dramatis ketiganya kini menjadi hinterland. Mereka adalah: Pulau Sambu, Belakang Padang, dan Pulau Buluh.

Di ketiga wilayah ini masih cukup banyak ditemukan bangunan – bangunan tua (heritage) zaman kolonial Belanda dan Jepang. Hal ini sekaligus menjadi bukti empirik bahwa ketiganya adalah gugus pulau yang nyaris tidak terimbas paradoks industrialisasi Batam. Lihat Batam yang beberapa puing heritage-nya sudah punah karena digilas mesin industrialisasi.

Sejak era  1940 – an, Sambu sudah berkembang menjadi bandar yang ramai. Wilayah ini adalah storage tank oil oleh perusahaan perminyakan Royal Dutch Shell sejak tahun 1927 sebelum berganti kepemilikan menjadi Pertamina. Itu sebabnya di sana banyak ditemukan bangunan tua dan infrastruktur peninggalan sejarah perminyakan tanah air. Di Sambu juga terdapat situs Tangga Seribu, tangki – tangki minyak raksasa, wisma, guest house, pasar dan sekolah.

Sedangkan Belakang Padang adalah ibukota kecamatan sejak Indonesia merdeka. Di Pulau Belakang Padang terdapat Asrama Border Police yang masih utuh, Gedung Pertemuan Catur Sakti, dapur umum, barak prajurit, empat buah tangki penampungan air dan bekas lapangan tenis. Pada tumpukan genteng bekas pemugaran Kantor Polsek Belakang Padang tercetak merk Guichard Carvin & Co (Marseille Standar France) sebuah perusahaan pembuatan genteng dari Prancis yang telah berdiri sejak tahun 1855.

Selain itu juga terdapat Gedung Pos Angkatan Laut (AL) Pulau Sambu yang diperkirakan sebagai satu-satunya bangunan yang memanjang secara vertikal pada masa kolonial. Pos AL Pulau Sambu, Kantor Imigrasi Kelas II Belakang Padang, bekas Kantor Camat Belakang Padang, Perumahan Bea Cukai, Komplek AL dan (kecuali) Gedung Nasional semuanya terlihat ringkih termakan usia.

Pulau Buluh yang dulu dikenal sebagai Distric van Batam, adalah wilayah administratif setingkat kecamatan pada zaman kolonial yang dipimpin seorang Amir. Di masa lalu ia disebut – sebut sebagai bandar pesisir tradisional (setelah sebelumnya Kerajaan Riau Lingga meletakkan Nongsa sebagai pusat pemerintahan kerajaan bagi Pulau Batam dan sekitarnya – abad XIX). Pulau Buluh adalah sebuah tepian strategis tempat lalu lintas kapal dari Singapura dan Johor ke Pulau Bintan. Ia adalah sentra dagang, di mana setiap pekan para pedagang dan penghulu di pulau-pulau sekitar membeli kebutuhan sehari-hari dari wilayah ini.

Toko Bahagia yang masih berdiri utuh dan dibangun pada tahun 1920, merupakan pusat perbelanjaan terbesar pada masa itu. Ruko tua ini milik seorang Tionghoa bernama Tan Yu Tse. Tidak jauh dari Tokoh Bahagia, yang langsung terhubung ke laut, terdapat rumah peribadatan Toa Pekong. Klenteng ini diperkirakan sudah ada sejak tahun 1880-an dan telah dipugar total dengan nama Vihara Samudra Bhakti.

Heritage berupa bangunan-bangunan tua di Batam sebagai mainland hanya terdeteksi pada masa abad ke – 19 baik yang masih utuh atau berupa puing. Di antaranya adalah Masjid At Taqwa, yang terdapat di Kampung Tua, Nongsa. Dulunya pernah ditemui sebuah rehal Quran bertuliskan tahun 1833. Kemudian pada ubin lantai masjid pada saat dipugar tahun 1983 tertulis tahun 1901.  Sebuah tongkat khatib yang hingga kini tidak diketahui keberadaannya juga diyakini telah berumur ratusan tahun lamanya.

Masih terdapat satu bekas kentongan yang juga sudah sangat tua. Kayu ukir dan profil bangunan yang juga terbuat dari kayu dan telah dimakan rayap dibiarkan menumpuk begitu saja selama bertahun-tahun sebelum lenyap tak berbekas. Sedangkan Masjid Jami’ Nurul Iman yang terdapat di Pulau Buluh diperkirakan berdiri pada tahun 1872. Konstruksi aslinya sudah tidak kelihatan. Dua buah tiang utama di sisi belakang masjid adalah bagian yang masih tersisa. Bentuk kubahnya meskipun mirip dengan Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat (1832 M), namun bukan merupakan konstruksi aslinya.

Menembus lorong waktu untuk menemukan benda-benda bersejarah di Batam dan pulau – pulau sekitarnya adalah perjalanan yang menakjubkan dan penuh kesima. Namun dalam fase-fase tertentu terdapat kecelakaan sejarah sehingga heritage yang amat berharga itu tidak lestari bahkan tak terdeteksi. Di antaranya yang tak dapat diselamatkan adalah Kantor Distric van Batam dan Sekolah Rakyat (SR) zaman Belanda atau sering disebut Vork School. Kedua situs ini pernah berdiri di Pulau Buluh pada 1880.

Proses penghancuran dengan sengaja atau pelapukan secara alami terhadap bangunan – bangunan penting pada masanya itu seakan tak mampu dicegah. Sebuah produksi pabrik bata ternama di Asia Tenggara yakni Batam Brick Works yang melibatkan Raja Ali Kelana pada 26 Juli 1896 di Kawasan Batu Aji hampir tidak dapat dipertahankan bagaimana wujud aslinya.

Bahkan Dapur Arang berjumlah 12 buah yang dibangun para imigran Tionghoa pada 1946 di daerah yang kini disebut Dapur 12 sudah lebur bersama proses industrialisasi.

Batu Bata merk BATAM produk Batam Brick Works sendiri adalah komponen utama dalam membangun kantor Distric van Batam Pulau Buluh, Masjid Sultan Riau Penyengat dan beberapa bangunan megah semasanya, bahkan di Singapura dan Malaysia. Pada sumur tua yang dibuat pada tahun 1911, tak jauh dari Vork School, merek BATAM pada dindingnya masih tercetak jelas.

Sejak awal kebijakan pembangunan Batam  telah mengenyampingkan eksistensi situs – situs bernilai sejarah ini. Yang perlu dilakukan hari ini agar sedapat mungkin, proses pelapukan terhadap bangunan yang masih tersisa dapat dicegah melalui pemugaran, pelestarian serta membangun replika untuk selanjutnya dikemas menjadi objek historical tourism.

Ada sejumlah momen penting dalam sejarah Batam yang masih perlu didalami misalnya tentang muasal penamaan kampung – kampung tua tempat persinggahan para raja, melacak basis pendudukan Belanda dan Jepang, serta kamp logistik pada masa konfrontasi. Mungkin juga hal – hal yang terbilang ekstrem seperti detik – detik eksekusi para bajak laut yang dihukum bunuh oleh sultan di sebuah tempat bernama Sungai Pembunuh. Lokasi ini diperkirakan berada dekat RS Otorita Batam (BP Batam), Sekupang.

Barangkali para ahli sejarah juga tertarik untuk membuktikan benar tidaknya praktik “genosida” suku pedalaman hutan yang pernah ada di tanah Batam (suku Jakun, Pedalaman Hutan dan Sakai) oleh pasukan kolonial atau pengusiran Suku Laut (Suku Mantang, Benan dan Pose) oleh para lanun. Tidak lupa melacak tentang kemungkinan adanya bangunan tua dan situs bersejarah di Kampung Tua Jodoh yang “terbakar” pada awal 1980-an.***

Tinggalkan Balasan