Suasana Jelang Petang di Pelantar Pulau Penyengat, Kampung Jambat. Foto: Adi Pranadipa untuk Jantungmelayu.com

mengutip dari judul buku puisi karya Saparudin, “Meniti Pucuk Gelombang” tanpaknya pas untuk disandingkan dengan perjuangan para generasi penerus bangsa yang bersabung dengan resiko demi menuntut ilmu

belasan orang pelajar itu sudah rapi dengan segam khas putih abu-abu, hari ini Selasa (30/5) adalah hari kedua mereka menuntaskan ujian semester dalam kondisi tengah puasa. wajah-wajah polos itu tampak menggigil menahan dingin. Cuaca pagi di pelabuhan Penyengat tampak tidak bersahabat, hujan yang mengguyur hampir di seluruh area Tanjungpinang menjadi penyebab belasan pelajar tersebut duduk berdekatan, “Kenapa pula harus ujan pas mau berangkat ujian,” cetus sepenggal kalimat dari bibir yang menahan gigil.

Siti Zayana, adalah salah satu pelajar perempuan yang tampak gelisah. bukan hanya karena hujan yang mendera tak kunjung reda, tetapi juga tatapan nanarnya yang memandang jauh ke seberang sana, “Allah… air laut surut jauh pulak, macam mana ni,” katanya berharap mendapat jawaban dari teman-temannya.

Berkali-kali, mata mereka menjeling melihat detak waktu yang terus berjalan tanpa bisa ditunda, sementara hujan dan air laut yang surut terasa semakin betah menemani.

Pukul 08.00 WIB adalah waktu yang menunjuk tanda-tanda perubahan, ditengah wajah pasrah mereka karena tidak ada cara lain untuk menyeberang selain menunggu hujan reda dan air cukup dalam untuk melepas tambatan tali pompong di dermaga.
air yang semula surut, kini mulai beranjak pasang, riak-riak gelombang adalah harapan yang menjadi titian para pelajar untuk berjuang mendapatkan kesempatan menuntaskan ujian semester.

Begitu juga dengan hujan, yang semula lebat kini menyisakan gerimis yang cukup padat, “tak apalah basah yang penting bisa nyeberang,” ujar Fahlevi Afri Harno, pelajar SMA kelas XI memantabkan tekad kepada sahabatnya.

Setidaknya, itulah kondisi belasan pelajar dalam berjuang menimba ilmu di Tanjungpinang, Gilang Ananda dengan detail menyampaikan kepada Jantungmelayu.com¬†tentang kondisi yang mereka alami, “untuk anak-anak penyengat, Alhamdulillah guru di sekolah dapat memaklumi kalau kami terlambat, apalagi sekarang sudah ada internet, kami tinggal kirim foto yang menjadi penyebab kami terlambat,” ujar pelajar yang baru saja mendapatkan penghargaan dari Dinas Pendidikan Provinsi atas prestasi yang diraih.

kaum pelajar dari tanah adat Indera Sakti harus menanggung resiko dengan setiap hari meniti pucuk gelombang, meski harus dihadapkan dengan berkali-kali penundaan dengan beragam alasan, “hujan lebat, pompong tak boleh berangkat, gelombang besar juga, terkadang cuaca baguspun tidak bisa berangkat kalau air laut surut jauh macam sekarang ini,” kata Gilang memaparkan.

meski demikian, tidak ada alasan lain selain tetap meneguhkan bara semangat untuk tetap menyelesaikan pendidikan, “manalah tahu pemerintah bisa siapkan pompong yang baling-balingnya di atas macam kipas angin, jadi air surutpun biasa berlayar di atas lumpur, hehe” kata mereka yang tetap menanti harap solusi terbaik.¬†(JM)

Tinggalkan Balasan