Waktu ke Waktu Jilid Tebal Kisah Percetakan Buku

0
315 views
Ilustrasi. (pinterest.com)

 

TRADISI kepenulisan di Kepulauan Riau sudah berlangsung sejak masa lampau. Lebih dari satu abad lalu, keberaksaraan sudah diperhitungkan. Budayawan Melayu UU Hamidy sampai menuliskan pada sebuah makalah bahwasanya, orang tidak hanya dihargai atas omongannya. Karena bualannya bisa menjadi jalan kejahatan bagi kehidupan bersama. Sebab itu, perkumpulan cendekiawan Riau, Rusydiah Klub, baru memandang seorang anggota muda menjadi anggota teras bila dia telah mampu memperlihatkan paling kurang satu karya tulis. Manusia, tegas Hamidy, pertama harus dihargai atas karyanya, bukan atas bualannya.

Pendapat itu bukan tanpa dasar. Sejak akhir abad ke-19, senarai karya terbit. Iklim kepenulisan tumbuh subur. Ditopang setidaknya dua hal. Pertama, dukungan dari kesultanan melalui upaya pemajuan pembangunan minda dengan menghadirkan cendekiawan-cendekiawan dan juga mendukung segala kegiatannya. Lalu kedua, adalah adanya sejumlah penerbitan yang menjadi dapur-cetak dari karya-karya para penulis hari itu.

Pada masa Kerajaan Riau-Lingga (selepas masa Kerajaan Johor) pernah didirikan tidak kurang dari dua percetakan. Semasa pusat kerajaan di Pulau Lingga, berdiri percetakan yang diberi nama Rumah Cap Kerajaan. Percetakan ini didirikan sekitar tahun 1885 Masehi. Karya tulis yang telah dihasilkannya antara lain Mukhadimah fi lntizam karya Raja Ali Haji, dicetak bulan Rajab 1304 H (kira-kira tahun 1886 M); Tsamarat al Muhimmah karya Raja Ali Haji, dicetak tahun 1304 H (kira-kira tahun 1886 M); Undang-undang Lima Pasal (materi kerajaan); dan Qanun Kerajaan Riau-Lingga (materi kerajaan).

Saat pusat Kerajaan Riau-Lingga berada di Lingga, yaitu tempat kedudukan Yang Dipertuan Besar (Sultan) Riau, Pulau Penyengat pada 1805, perkembangannya juga semakin pesat. Setelah pulau ini menjadi tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda, pulau ini menjadi pusat kegiatan politik dan kebudayaan Kerajaan Riau-Lingga. Pada 1894, Yang Dipertuan Muda Riau, Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi, mendirikan se­buah percetakan yang diberi nama Mathbaat al-Riauwiyah atau Mathba‘at al-Ahmadiah.

Sebenarnya kedua nama itu lebih baik dipandang sebagai penerbit daripada sebagai percetakan. Jadi, pada masa itu mulai dilihat perbedaan antara percetakan dan penerbitan, sebab jika yang dicetak bukan untuk kepentingan langsung Kerajaan Riau-Lingga, maka hasil cetakan diberi cap Mathbaat al-Ahmadiah. Kitab-kitab karya penulis Riau biasanya diberi cap dengan nama penerbit ini. Sebaliknya, jika materi yang dicetak merupakan bahan-bahan untuk kepentingan kerajaan (yang bersifat dinas), maka diberi cap Mathbaat al-Riauwiyah.

Beberapa kitab atau karya tulis yang diterbitkan atas nama Mathbaat al-Ahmadyiah antara lain: (1) Risalat al Fawaid al wafiat fi Syarh Ma‘na al Tahyat karya Sayid Syarif Abdullah ibni Muhammad Saleh al Zawawi. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu oleh Rusydiah Klub dan dicetak/diterbitkan tahun 1312 H (1895 M). Kitab ini merupakan kitab dua bahasa, karena menyertakan teks asli dalam bahasa Arab dengan terjemahan bahasa Melayu, (2) Kaifiat al Zikir ala Tariqah at Naqsyabandiyah, diterbitkan tahun 1313 H (1896 M), (3) Syair Gemala Mestika Alam (semacam saduran), karya Raja Ali Haji, (4) Syair Perjalanan Sultan Lingga ke Johor, karya Raja Hitam Khalid bin Hasan. Karya ini merupakan semacam promosi untuk kenaikan pangkat dalam Rusydiah Klub, dari anggota muda menjadi anggota teras.

Di sisi lain, Mathbaat al Riauwiyah telah menerbitkan; (1) Pohon Perhimpunan, karya Raja Ali Kelana bin Muhammad Yusuf al Ahmadi, tahun 1315 M (1899 M); (2) Furuk al Makmur, dicetak dan diterbitkan tahun 1311 H (1896 M); (3) Taman Penghiburan, sebuah buku kecil yang diterbitkan oleh Lid-lid Rusydiah Klub, dicetak tahun 1313 H (1895 M).

Periode tahun 1920-an merupakan masa yang cukup cemerlang karena percetakan Mathbaat al-Ahmadiah atau Al-Ahmadiah Press yang didirikan oleh keluarga Raja-raja di pulau itu telah memainkan peran penting, sehingga dapat menjadi pusat kegiatan cendekiawan Riau, setelah peran Pulau Penyengat makin surut sebagai pusat kegiatan politik, agama, dan ilmu pengetahuan.

Percetakan Al-Ahmadiah Press berjaya dengan baik sampai dekade 1950-an. Sebelum terbentuknya Persekutuan Tanah Melayu (gabungan Malaysia dan Singapura sekarang), kontak dan hubungan antara cendekiawan Riau dengan Al-Ahmadiah Press masih cukup baik. Akan tetapi, sejak Singapura berdiri sebagai satu negara, percetakan atau penerbit yang pernah menjadi tulang punggung bagi cendekiawan Riau itu tidak pernah lagi dapat diharapkan.***

Tinggalkan Balasan