f-ist-masjid Raya Azzulfa Dabosingkep

Tidak banyak yang tahu bahwa masyarakat Tanjungpinag dan melayu sekitarnya memiliki ritual khas menjemput Ramadhan, sayangnya budaya tradisi tersebut kini sdudah punah ditelan zaman. Beruntung jantungmelayu.com berkesempatan mendengar paparan tradisi tersebut, langsung dari salah satu orang yang pernah bersentuhan di zamannya.

Adalah Thamrin Dahlan, seorang yang dulu menjadi pelaku tradisi budaya yang kini sudah punah. Dia (Thamrin, red) ketika dijumpai awak media di ruang kerjanya tampak bersemangat menuturkan kisah tradisi Ramadhan tempo dulu. Sesekali kepalanya tengadah ke langit-langit gedung kantor eks sekolah Dasar tersebut yang kini menjadi kantor Dinas Pendidikan Tanjungpinang, matanya menatap jauh, seakan menyaksikan proyektor raksasa guna menyampaikan cerita.

“Tidak seperti sekarang ini, orang jaman dulu itu 3 bulan sebelum puasa sudah melakukan persiapan, bukan satu atau dua orang melainkan sekampung,” tuturnya membuka cerita.
Tradisi 3 bulan sebelum puasa atau jatuh pada bulan Rajab tahun hijriyah itu dilakukan dengan kegiatan nebas hutan, untuk bersama mencari kayu bakar, “Bayangkan, hebohnya dalam hutan itu, sekampung orang masuk hutan cari kayu api (kayu bakar, red).” jelasnya.

Anehnya, beratus-ratus potongan kayu bakar yang terkumpul tersebut tidak dibawa pulang oleh masing-masing orang, melainkan ditumpuk menjadi satu di pinggiran sungai, “1 rumah hanya bawa sepikul saja, sisanya ditumpuk jadi satu, kalau-kalau nanti ada yang masih kurang kayu, maka sesiapapun boleh mengambil,” kata Thamrin yang kala itu masih di usia anak-anak.

f-yoan-Thamrin Dahlan, saksi hidup semarak menjemput Ramadhan tempo dulu bagi orang-orang melayu

“Serunya itu, pas makan siang di dalam hutan, Allah mak serunya minta ampun. Nanti, 2 hari sebelum puasa, ada doa bersama, ramai-ramai makan lagi tapi di mesjid, sekarang mana ada dibuat lagi,” celetuk Tamrin yang juga sebagai pakar pantun nikah kawin orang melayu..

Lanjutnya, sesampainya di rumah, kayu-kayu bakar tersebut disusun di bawah rumah panggung, itu cukup menandakan bahwa sebentar lagi bulan puasa, “Pas masuk puasa, biasanya kayu api di susun di halaman rumah, supaya kering. Tapi kalau kayu api sudah diatas pare-pare (semacam rak khusus kayu, red) itu lain lagi artinya. Pasti bulan sya’ban, sebentar lagi pasti ada acara malam nisfu sya’ban,” bebernya menjelaskan cara membaca isyarat dari pola kehidupan masyarakat melayu tanpa mengunakan aplikasi pengingat khusus seperti era sekarang ini.

Tidak hanya kode rahasia yang terbaca dari pola menyusun kayu bakar, Tamrin yang pakar budaya¬†ini juga menjelaskan kode lain selama bulan puasa. Mata yang sudah tidak lagi muda tersebut dengan mantap menyampaikan pesan kerinduan dari cerita yang dituturkannya, “Kalau orang kampung sudah ramai bersihkan kuburan, itu tandanya dalam seminggu lagi pasti lebaran,” terangnya yang mengenang kala itu tidak memandang kuburan siapa untuk dibersihkan.

“Begitulah semarak dan kompaknya masyarakat dulu dalam menyambut bulan suci.” kata dia.

Saat ini, sudah dipastikan, budaya tersebut lenyap di telan zaman, dan kalaupun masih tersisa, hanya sebagian kampung dan pulau saja yang diyakini masih menjalani ritual langka ini.
Dari penelusuran awak media, terlacak beberapa wilayah yang masih melakoni tradisi unik tersebut antara lain di Kabupaten Lingga, meliputi; Kampung Sungai Bungsu, Kampung Sembuang, Kampung Penuba, Kampung Lanjut dan Kampung Berindat-persing. Sisanya hanya meninggalkan cerita keseruan sebagai kisah pengantar tidur. ***

Tinggalkan Balasan