Profil seorang Keling Tjeji di Pulau Boyan, pusat pemerintahan untuk wilayah Onderafdeeling Batam pada akhir abad ke-19. (foto: dokumentasi aswandi syahri)

DI ANTARA kelompok masyarakat India yang bermastautin di Tanjungpinang pada abad ke-19, terdapat sejumlah orang Tjeti (baca: Ceti, dengan huruf e dikeraskan seperti ketika membaca perkataan keras) yang bekerja sebagai pedagang, dan sangat populer sebagai ‘pedagang uang’: mengelola usaha pinjam meminjam uang.

Terdapat banyak cara dalam menulis nama kelompok masyakat India ini: Chetty, Chetin, Chati, Chatin, Chettijn dan Sitty. Ejaannya tergantung lidah orang yang mengucapkannya. Di  Malaysia pada masa kini, kelompok masyarakat ini disebut Chetti.

Secara etimologi (asal usul perkataan dalam sebuah bahasa), nama kelompok masyarakat India ini berasal dari perkataan dalam beberapa bahasa di India. Dalam bahasa Malayalam disebut Chetti; bahasa Tamil menyebutnya Shetti, dan dalam bahasa Telugu mereka disebutSetti.

Bagi orang Melayu, istilah Tjeti adalah sebutan bagi orang India yang datang India Selatan dan berkasta Chetiar. Namun dalam perjalan sejarah mereka di Alam Melayu, sebutan Tjeti kemudian lebih populer merujuk kepada profesi mereka (terutama kaum laki-lakinya) sebagai “rentenir” pinjam meminjam uang yang berbunga.

Dan bukan kebetulan pula, secera etimologi, istilah Tjeti juga merujuk kepada nama sebuah komunitas di India Selatan yang makna konotatifnya dalah “peminjam uang”. Dalam bahasa India mereka disebut sebagai nagarathar nattukottai chettiars.

Dalam artikel Kutubkhanah untuk jantungmelayu.com ini, digunakan istilah Tjeti yang cara penulisannya merujuk kepada cara penulisan yang digunakan dalam arsip-arsip Riouw abad ke-19 koleksi Arsip Nasional Republik Indoneisa (ANRI), di Jakarta.

***

Kawasan pemukiman orang Tjeti yang pertama-tama hijrah dari India Selatan ke Alam Melayu adalah Melaka. Di Bandar Melaka, awalnya  mereka menetap di Kampung Keling. Kemudian secara berturut-turut mereka berpindah ke Kampung Tujoh, Gajah Berang, Tengkera, dan Bacang.

Di Tanjungpinang jumlah mereka tidaklah banyak seperti di Melaka, namuan cukup mewarnai perekonomian Kota Tanjungpinang pada abad ke19. Mereka tersebar dan tinggal ‘tidak menetap’ di kawasan pasar di Kampung Cina, kawasan pusat perdagangan yang memang cocok dengan bisnis pinjam meminjakan uang yang mereka geluti.

Pada akhir abad ke-19, di Tanjungpinang ada seorang Keling Tjeti sangat terkenal yang berprofesi sebagai pedagang dan pemberi pinjaman uang. Seperti Keling Tjeti yang lainnya, ia juga tidak menetap di pasar Tanjungpinang. Berulang-alik antara Singpura dan dan Tanjungpinang, dan menyinggahi kawasan pusat perekenomian ketika itu seperti Pulau Buluh dan Pulau Boyan di wilayah Onderafdeeling Batam. Selain itu, ia juga punya beberapa orang wakil dan kuasa yang mengurus perniagaannya di Tanjungpinang.

Sosok Keling Tjeti Tandjoengpinang ini terungkap dalam arsip tiga pucuk salinan surat berbahasa Melayu tulisan tangan menggunakan huruf latin, yang bergulung-gulung lidah kita bila membacanya. Tiga pucuk salinan surat Tjeti  Kelingtersebut ditemukan dalam inventaris arsip Riouw 225.7 yang kini berada dalam simpanan Arsip Nasional Republik Indonesia di Jakarta.

Dalam sepucuk  surat  bertarikh  24 Juli 1891 yang ditandatangani mengunakan huruf dewanagari, dan ditujukan kepada Engkoe Ali Kelana atau Raja Ali Kelana, Keling Tjeti ini memperknalkan dirinya dengan nama lengkap  Kana Tena Ana Roena Alahapa Tjeti yang ketika itu doedoek berniaga di Tandjoengpinang.

Tampaknya, Kana Tena Ana Roena Alahapa, adalah Tjeti kelas elit, dengan pelanggan kalangan elit pula. Salah satunya adalah Sultan Lingga, Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah (1857-1883).

Dalam sepucuk surat kepada Raja Ali Kelana di Pulau Penyengat dan sepucuk surat bertarikh 10 Rajab 1308 bersamaan dengan 18 Februari 1891 yang dipersembahkan kepada Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf, Keling Tjeti Kana Tena Ana Roena Alahapa memohon “…limpah rahim kasihan belas pertolongan…” Raja Ali Kelana dan Yamtuan Muda Raja Muhammad Yusuf untuk membantunya dalam menyelsaikan masalah uang yang pernah dipinjam Sultan Lingga itu di Singapura.

Berdasarkan surat pengakuan hutang bertarikh 8 Jumadil Akhir 1296 Hijrah, bersamaan dengan 1 April 1879, Keling Tjeti Kana Tena Ana Roena Alahapa meminjamkan uang ringgit sebanyak $ 1200.- kepada Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah dengan perjanjian apabila belum dibayar lewat dari tempoh enam bulan, maka bunga dihitung satoe rienggit stengah  seboelan untuk  setiap $ 100,-.

Tahun 1891, Tjeti Kana Tena Ana Roena Alahapa sangat membutuhkan uang, yang telah berbunga berlipat-lipat ganda dan telah lama ditagihnya, karena ia akan pulang ke India. Sementara itu Sultan yang meminjam uangnya telah wafat tahun 1883. Karena itulah Perkara hutang-piutang antara TjetiKana Tena Ana Roena Alahapa dan Sultan Lingga ini akhirnya melibatkan Resident Riouw, Raja Ali Kelana, dan Yamtuan Muda Riau ketika itu, sehinggalah berlarut-larut sampai tahun 1891.

Dibawah ini, adalah adalah kutipan salinan bagian awal sepecuk surat bertarikh 24 Juli 1891 dari Keling TjetiKana Tena Ana Roena Alahapa Raja Ali Kelana ketika menjelaskan sisa besaran bunga uang pinjaman Sultan Sulaiman yang harus dibayar kepadanya. Salinan ini dibuat sesuai ejaan aslinya, dengan penambahan keterangan yang dimuat dalam tanda [ ]:

Mengadap kebawah kawos Enkoe [Raja] Ali Kelana.

Maka adalah patek saorang hamba jang hina jang bernama Kana Tena Ana Roena Alahapa Tjeti jang ada sekarang ini doedoek berniaga dengan kesoesahan di Tandjoeng Pinanng.”

Jang diharapkan limpah rahim kasihan belas pertoeloengan dari kekasian kawos [Yang Mulia Raja Ali Kelana], moedah-moedahan soepadja mempersembah maaloemkan kebawah doeli sri padoeka ajahanda [Yang Dipertuan Muda Raja Muhammad Yusuf] jang mahamoelia jang amat adil pada memikirkan kesoesahan patek dan kemiskinan patek saorang hambanja jang sangat hina, ia itoe daripada patsal baiaran jang akan di baiar samoela kepada patek tiap bolean $ 200, jang telah kebawah kawos sabdakan diatas patek, mengatakan titah perintah sripadoeka ajahenda soeroeh terima baiaran jang terseboet itoe di Singapora sahadja. Maka hal ini sangat2 lah djadi keoedszoeran dan kesoesahan diatas patek hamba jang hina menarimanja sebagaimana tetah perentah itoe. Oleh karana segala perniagaan patek dan wakel patek dan koeasa patek semoeanja ada di dalam Tandjong Pinang. Pada hal patek apabila selesai perkara patek ini, akan bermohon kembali kenegeri Kling dan jang tinggal di sini koeasa patek [yang] bodoh belaka jang tiada mengerti bahasa lembaka[adat]orang.”

Maka di belakang patek  kambali kenegeri patek ini tentoelah koeasa patek itoe nanti menarimanja oewang itoe di dalam hal jang damikian barangkali sedikit terlambat bairan itoe. Kadar doea tiga hari xxx kesosahan oewang atau lainnja. Katika itoe datanglah pertengkaran antara koeasa patek itu dengan orang jang tempat menarima oewang itoe bersalah-salahan. Djekalau patek sendiri tentoe tiada boleh djadi jang demikian itoe sebab patek mengetahoei djoega sedikit2 hadat dan bahasa jang berlemah lembut itoe…”***

Tinggalkan Balasan