Kesenian wayang cecak yang ditampilkan pada Festival Penyengat, Juli 2017. F. Fatih Muftih.

Melihat Revitalisasi Wayang Cecak pada Festival Penyengat Syawal Serantau 2017

“IBU saya menonton Wayang Cecak ketika masih gadis,” kata Raja Suzanna Fitri. Sementara kini usia ibunya sudah menginjak 74 tahun. Jika dipukul rata pada usia belasan tahun seorang perempuan itu belum menikah, maka boleh diandaikan ibu dari Raja Suzanna menonton wayang lebih dari 50 tahun lalu. Setengah abad!

Setelah itu tidak pernah lagi ada penampilan Wayang Cecak di Kepulauan Riau. Ingatan sang ibu, kata Raja Suzanna, lamat-lamat masih bisa mengenang pengalaman menyenangkan menonton Wayang Cecak yang dahulunya ditampilkan dari rumah ke rumah. Maka, ketika ada program revitalisasi Wayang Cecak untuk kemudian ditampilkan bersempena Festival Penyengat Syawal Serantau, Minggu (23/7) lalu, Raja Suzanna setengah memaksa ibunya untuk menonton pertunjukan Wayang Cecak di balai desa.

“Kata ibu saya, dulu bonekanya belum secantik itu. Tapi kurang-lebih pertunjukannya sama dengan ketika ia menontonnya dahulu,” ujar Raja Suzanna, menirukan ucapan sang ibu.

Sudah banyak orang menunggu karena dihantui penasaran ragam penampilan Wayang Cecak. Kesenian yang merupakan akulturasi budaya Tionghoa dan budaya Melayu ini berhasil kembali ditampilkan melalui program revitalisasi yang ditaja Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI. Program ini bertujuan melestarikan kesenian-kesenian tradisional berbasis sastra lisan yang nyaris punah. Termasuk di antaranya kesenian Wayang Cecak yang sudah lebih dari lima puluh tahun tidak dimainkan.

Raja Suzanna sendiri termasuk dalam daftar narasumber dalam riset revitalisasi ini. Ia menyatakan, sumber referensi tentang Wayang Cecak memang amat terbatas. Yang bisa digali selama waktu dua bulan terakhir, kata dia, adalah ingatan-ingatan orang tua di Penyengat, termasuk ibunya.

“Karena kalau sumber tertulis itu sangat sedikit. Hanya ada sedikit tulisan dari Budayawan Hasan Junus saja. Selebihnya memang harus riset,” kata guru Bahasa Indonesia ini.

Seumpama mengangkat batang terendam, upaya revitalisasi selama dua bulan kemarin dikerjakan penuh kesungguhan. Tim dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI kemudian menggandeng seniman Azmi Mahmud dari Sanggar Budaya Warisan Penyengat. Enam puluh hari waktu yang ditenggat, kerja revitalisasi harus rampung untuk kemudian dipentaskan pada Festival Penyengat Syawal Serantau.

Hasilnya cukup menggembirakan. “Baru kali ini saya tahu bahwa di Tanjungpinang ini juga ada kesenian wayang,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata dan Budaya Tanjungpinang, Raja Kholidin.

Harapan Kholidin, program revitalisasi Wayang Cecak ini tidak selesai di sini. Disparbud Tanjungpinang, kata dia, siap mendukung program-program revitalisasi semacam ini. Karena ke depannya, tidak menutup kemungkinan Wayang Cecak bisa ditampilkan di pelbagai kegiatan kepariwisataan. “Ini tentu akan memperkaya khazanah tradisi kita,” ucapnya.

Kholidin bukan satu-satunya orang yang terpukau dengan pertunjukan Wayang Cecak dengan durasi sekitar 20 menit itu. Katrin, wisatawan asing asal Denmark mengaku, bukan kali pertama ia dan suaminya melancong ke Indonesia. Juga sudah berulang kali menonton pertunjukan wayang di banyak kota di pulau Jawa. Tapi baginya, Wayang Cecak juga tidak kalah unik dan menghibur, walau ia sendiri tidak memahami alur jalan cerita lakonnya.

“Bonekanya lucu. Apalagi dimainkan dalam kotak kecil sederhana. Serasa hidup dan benar-benar melakukan percakapan,” ujar Katrin.

Lakon yang dibawakan pada pementasan Wayang Cecak kemarin disadur dari Syair Siti Zubaidah. Berkisah tentang perjalanan Zainal Abidin, putra Sultan Darmawansyah hingga menjumpai Siti Zubaidah, yang kemudian pada akhir cerita dapat dipinangnya.

Azmi Mahmud, pegiat yang melakukan revitalisasi Wayang Cecak menuturkan, alih bentuk naskah dari syair menjadi sebuah narasi dan dialog adalah kerja yang paling menantang. Adapun perumusan musik pengiring, pemain biola ini menggunakan instrumen musik yang acap digunakan sejak zaman kesultanan. Sementara pemilihan boneka sebagai instrumen utama Wayang Cecak, ada ceritanya sendiri.

“Karena waktunya cuma dua bulan, kami belum sempat membuat boneka dari kain perca semacam yang ada zaman dahulu. Jadi kami memakai boneka yang ada saja dan dimodifikasi baju dan make-up-nya,” tutur Azmi.

Boneka yang dimainkan tangan Robiansyah, Yola Pratama, dan Alfi Ridwan selaku dalang, terlihat kenes. Bajunya menggunakan pakaian adat ala zaman dahulu, namun riasan parasnya kekinian. “Ya bagaimana lagi, waktu kami tidak banyak. Sehingga modifikasi boneka jadi pilihan terbaik. Anak-anak pun latihan setiap hari dengan membawa pulang boneka itu,” jelas Azmi.

Keriuhan penonton menyaksikan penampilan wayang cecak pada Festival Penyengat 2017. F. Fatih Muftih

Dua bulan memang adalah waktu yang tersedia untuk mempraktekkan hasil revitalisasi. Namun, untuk penelitian, riset, dan penyusunan materi revitalisasi setidaknya memakan waktu selama dua tahun.

Adalah Mu’jizah dan Purwaningsih, dua peneliti perempuan dari Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI yang bolak-balik Tanjungpinang-Jakarta demi mengumpulkan serpihan informasi dan referensi tentang Wayang Cecak, kemudian dibantu Medri Osnoe dari Kantor Bahasa Kepri untuk menemui sejumlah narasumber.

“Ya, dua tahun itu kami berupaya agar hasil penelitian kami bisa sebagai pijakan dasar untuk melakukan rekontruksi,” kata Mu’jizah.

Diakui Mu’jizah, kegiatan revitalisasi ini hanyalah awal. Paling tidak, kata dia, sudah ada pemantiknya. Sehingga ke depan, akan lebih mudah bagi pemerintah daerah atau seniman setempat untuk terus dan terus mengembangkannya.

“Kami berharap bisa seperti revitalisasi Makyong. Dulu, tidak ada orang yang tahu Makyong. Tapi setelah direvitalisasi, Makyong bukan lagi hal yang asing. Itu yang kami harap juga pada Wayang Cecak ini,” ungkap Mu’jizah.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kemendikbud RI, Hurip Danu Ismadi mengapresiasi kerja revitalisasi Wayang Cecak di Tanjungpinang yang dipentaskan akhir pekan lalu. Bagi Hurip, semakin nyata kerja simultan seluruh Indonesia untuk melestarikan tradisi kesenian yang nyaris punah. Karena, kata dia, sejauh ini merujuk data yang telat dicatat, ada ribuan kesenian berakar sastra lisan diambang kepunahan. “Karena itu perlu dilakukan revitalisasi agar tradisi kekayaan bangsa ini tidak benar-benar hilang,” ucapnya.

Di mata Hurip, Wayang Cecak adalah jenis kesenian yang layak direvitalisasi. Dalam sebuah pertunjukan wayang, apapun jenisnya dan dari manapun asalnya, mengandung muatan pendidikan karakter yang bisa dijadikan bahan ajar di sekolah maupun perguruan tinggi. Karena itulah revitalisasi mesti digesa dan tidak berhenti sampai di sini.

“Apa yang kami lakukan ini hanya awal saja. Untuk sama-sama mengingatkan kembali sebuah tradisi yang pernah ada. Selebihnya, kita akan lebih banyak bekerja sama agar Wayang Cecak kembali eksis dan lestari di lingkungan kita,” pungkasnya.***

Tinggalkan Balasan