pemandian airpanas di Dabosingkep

Meskipun terletak di jantung gunung-ganang serta rimbun hutan yang memagari pulau tempat raksasa timah berada, objek wisata purba pemandian air panas seperti punya energi pemikat tersendiri, buktinya saja dalam tiap bulan jumlah pengunjung mampu menembus angka ribuan orang.

jadilah saksi mata bagaimana air yang mendekati suhu titik didih itu mampu memanaskan tubuh ribuan wisatawan yang berkunjung.

yang jelas, keberadaan sumber air panas itu sudah ada sejak zaman kesultanan Riau Lingga, bahkan jika dilihat dari tekstur lumpur yang dilelehkannya, tidak menutup kemungkinan bahwa tempat yang sekarang menjadi objek wisata unggulan Kabupaten Lingga tersebut sudah ada jauh sebelum adanya penghuni di pulau Dabosingkep itu.

dari bibir jalan raya, yang berada di ruas jalan bernama Setajam, masih dibutuhkan waktu 45 menit lagi untuk mencapai titik lokasi objek wisata purba. ukuran waktu tersebut dihitung berdasarkan kecepatan kendaraan bermotor roda dua dengan hitungan maksimal 40 kilo per jam.

jangan berpikir bisa memacu kencang kendaraan, meski kondisi jalan saat ini sudah diaspal oleh pemerintah Kabupaten Lingga, namun ragam jenis hewan yang melintas diantara dua rimbun hutan yang menghimpit jalan bisa menjadi jebakan tersendiri dalam perjalanan. bukan hanya beberapa ekor tupai yang melintas, namun juga spesies kera hutan hingga ular, landak dan terenggiling adalah hewan-hewan yang mungkin bisa dijumpai para pengunjung objek wisata purba di sepanjang perjalanan.

namun demikian, hal tersebut bukanlah kendala bagi para pengunjung yang penasaran ataupun ketagihan dengan sensasi berendam di objek pemandian air panas, bahkan bagi mereka, pemandangan natural tersebut adalah nilai tambah yang diberikan selama proses perjalanan.

“Selamat Datang Di Air Panas,” begitu tulisan sekedarnya yang sengaja dipasang oleh pengelola kolam unik tersebut. Adalah Edi Malong, salah seorang pengurus yang setia keluar masuk rimba hutan demi menjaga dan merawat objek wisata purba tersebut. Baginya, tidak ada yang lebih penting selain membantu membuat kampungnya terkenal melalui objek wisata, “khusus di Indonesia, memang banyak titik merapi aktif yang terlacak, termasuk sumber air panas, namun lokasi yang bisa dibuat berendam dengan tingkat suhu yang beragam, saya yakin hanya ada di sini (Dabo, red),” kata dia yang mulai menyibak tabir pemandian purba tersebut.

hanya Rp. 3000 rupiah per kendaran, adalah tarif yang jauh diluar akal sehat jika dibandingkan dengan khasiat yang didadap. pengunjungpun tidak kepalang tanggung, dari mulai wisatawan lokal, manca negara hingga Rusia, termasuk salah satu pejabat Bupati yang berada di daerah Riau turut terpikat dengan daya ampuh rayuan kolam pemandian ini.

“ada yang datang memang karena penasaran, tapi lebih banyak lagi yang datang karena berobat,” jelas edi membuka manfaat berendam di kolam air yang disebutnya dengan nama lain “Air belerang” tersebut.

dari pengamatan Edi, keluhan yang berhasil disembuhkan hanya dengan berendam ini sangat ampuh dalam permasalahan kulit, baik untuk jerawat, flek hitam, komedo, alergi, jamur, gatal-gatal. hingga kepada penyakit yang cukup menghantui kalangan berumur, seperti reumatik, asam urat, obesitas, impotensi, flu tulang, dan katarak. caranya sangat mudah, tidak ada ritual apapun serta kewajiban membaca doa-doa tertentu, pengunjung cukup dengan hanya berendam tanpa ada tarif waktu, “Ini punya alam, bukan punya saya atau pemerintah, jadi tidak pantas rasanya kalau saya mematok durasi untuk berendam, selagi tahan, silahkan, mau nginap juga silahkan, amanah ke saya hanya sebatas menjaga keamanan, kebersihan dan merawat keberlangsungan air belerang ini,” bebernya santai dengan logat melayu Dabo.

dalam pantauan wartawan, sumber air panas memiliki 4 kolam dengan suhu berbeda. dimulai dari suhu hangat-hangat kuku yang sengaja  disediakan bagi pengunjung yang tidak doyan mandi air hangat, tingkat kepanasan sedang, hingga kepada kolam yang dipagari besi yang memiliki tingkat kepanasan cukup dekat dengan titik didih air.

“jangan langsung celup (rendam, red) badan, pelan-pelan rendamnya dari kaki, terus naik hingga ke batas maksimal,” jelasnya sambil memeragakan cara berendam yang baik.

berbeda dengan kondisi kolam kebanyakan, tidak ada suara kecipak air yang dihasilkan oleh ayunan kaki perenang, hanya suara jangkrik dan riuh suara orang saling berdiskusi tentang ketakjuban kolam belerang tersebut. “saya sudah 4 kali datang kesini untuk berobat muka, dari sekali berendam saja jerawat saya sudah banyak menunjukkan perubahan, makanya membuat saya menjadi yakin untuk rutin berendam,” terang Hidayat, salah satu pengunjung lokal yang sengaja datang hanya untuk berendam.

lain Dayat, lain juga cerita dari Burhan (67) yang mengaku reumatik yang dideritanya sudah menunjukkan perubahan drastis hanya dengan 2 kali berendam, “dulu, hampir setiap malam susah tidur karena menahan sakit, tapi sekarang Alhamdulillah kuat menunjuk kepada arah penyembuhan,” ujar Burhan yang merupakan pensiunan ASN tersebut.

tidak sekedar berendam di lokasi, banyak juga pengunjung menyempatkan untuk membawa pulang¬† barang sebotol dua air dengan kandungan tinggi belerang tersebut, “biasanya mereka untuk dibuat cuci muka di rumah, atau untuk menghilangkan gatal-gatal yang diderita anak kecil, baik bayi maupun balita,” kata Edi.

namun, ditengah decak kagum kolam pemandian air panas yang mampu mendatangkan 200 pengunjung dalam 1 bulan itu masih menyimpan secercah harapan kecil kepada pemerintah daerah Kabupaten Lingga, yaitu mendukung pelaku ekonomi kreatif dalam memopulerkan negeri Bunda Tanah Melayu tersebut, “kalau boleh berharap lagi, paling cuma minta dipasangkan lampu penerangan jalan, karena perjalanan ini jauh keluar masuk hutan, dan kembali mempercantik wahana wisata pemandian airpanas,” harap Edi.

mungkinkah mimpi kecil Edi yang juga merupakan harapan yang sama dari masyarakat Dabosingkep bisa terwujud? hanya waktu yang bisa menjawabnya. ***

Tinggalkan Balasan