Abdul Malik.

Oleh: ABDUL MALIK

DI DINDING belakang meja kerja di istana Baginda yang megah, Sultan Mahmud Muzaffar Syah menempatkan sebuah peta besar. Peta itu memuat Negeri-Negeri Melayu meliputi Melaka, Pahang, Kelantan, Terengganu, Johor, Singapura, Bintan, Lingga, Inderagiri, dan Bangka. Pejabat Belanda yang berkunjung ke istana dan melihat ruang kerja Baginda heran dan bertanya tentang peta yang memasukkan juga negeri-negeri yang tak lagi menjadi bagian Kesultanan Lingga-Riau pasca Traktat London 1824. Dengan enteng, tetapi penuh wibawa, Sultan Mahmud menjawab pertanyaan tamunya itu.

“Oh, itulah negeri yang dulu milik nenek moyang sahabat tuan ini, dan sekarang ini, sahabat tuan ini ingin mengambilnya semula,” (Rida K Liamsi, 2017:11). Tentulah ucapan Baginda itu terdengar menggelegar di telinga pejabat Belanda yang sedang berkunjung itu.

Selain itu, suatu ketika Sultan Mahmud Muzaffar Syah dengan lantang berkata kepada Residen Belanda, “Pulangkan kembali semua negeri kami yang sudah diambil Holanda,” (Ahmad Dahlan, 2004 dalam Rida K Liamsi, 2017:89).

Menurut RKL, Sultan Mahmud Syah IV memang ingin mendapatkan kembali wilayah Kerajaan Melayu Riau di Semenanjung Melaka setelah daerah itu dilepas oleh datuknya Sultan Abdul Rahman Muazam Syah I, berdasarkan kontrak politik dengan Belanda pada 1830 (Rida K Liamsi, 2017:90). Dengan kata lain, Baginda berjuang untuk menyatukan kembali Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang yang telah dipecah-belah dan dibelah-bagi oleh Belanda dan Inggris.

Untuk mencapai matlamatnya itu dan membuktikan kata-kata yang telah diucapkannya, Sultan Mahmud Muzaffar Syah melakukan perlawanan, sama ada terhadap para Yang Dipertuan Muda yang dinilainya lebih memilih setia kepada  Belanda untuk mempertahankan jabatan mereka dibandingkan kepada Baginda sebagai Yang Dipertuan Besar, di satu pihak. Dengan demikian, pihak Yang Dipertuan Muda dinilainya telah melanggar Sumpah Setia Melayu-Bugis. “Politik Roti Canai” yang dimainkan oleh Belanda ternyata sangat ampuh untuk menggoyahkan keyakinan pihak Yang Dipertuan Muda terhadap sakralnya nilai Sumpah Setia. Padahal, sumpah itu telah terbukti sangat sakti dalam menjulang kejayaan bangsa pada masa Sultan Mahmud Riayat Syah (1761—1812) dan Raja Haji Fisabilillah (YDM IV) serta Raja Ali ibni Daeng Kamboja (YDM V).

Di pihak lain, Baginda juga lebih-lebih melakukan perlawanan terhadap Belanda, juga Inggris, yang padahal secara resmi telah mengakui kemerdekaan Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang semasa Sultan Mahmud Riayat Syah (moyang Sultan Mahmud Muzaffar Syah) pada 1795. Kesewenang-wenangan para pihak itu tak dibiarkan oleh Baginda untuk berlangsung secara aman, nyaman, damai, dan tenteram.

Sejumlah ikutan dari perkataannya yang menggelegar untuk menyatukan Kesultan Melayu seperti semula dalam wujud perbuatan-perbuatan nyata memang menggerunkan Belanda dan meresahkan para Yang Dipertuan Muda (karena khawatir akan dipecat oleh Belanda). “Apa?” yang merupakan reaksi spontan wakil Belanda setelah mendengarkan penjelasan Sultan Mahmud Syah IV tentang siratan makna peta besar di ruang kerja Baginda menunjukkan ketakutan Belanda terhadap rencana besar Sang Naga Bercula dari Lingga itu. Pernyataan Netscher bahwa “Obsesi dan keresahannya itulah yang kemudian mewarnai tindak-tanduknya sebagai sultan. Sebuah cerminan dari obsesi untuk mengembalikan warisan nenek moyangnya itu ke dalam kekuasaannya. Sultan Melayu, pewaris kerajaan Melaka dahulunya,” (Rida K Liamsi, 2017:105) menunjukkan ketakutan pihak Belanda terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh Sultan Mahmud Muzaffar Syah dengan azam besarnya itu.

Baginda pun menyusun sejumlah strategi dan taktik melawanan Belanda. Strategi Sultan yang cerdas, visioner, dan revolusioner itu dicacat oleh RKL di dalam buku terbaru beliau: Mahmud Sang Pembangkang (2017). Kesemuanya dalam bentuk perbuatan nyata yang konsisten dengan perkataannya atau kata-katanya bertimbal dengan perbuatan.

Pada 1841, setelah memegang kendali pemerintahan sepenuhnya, Baginda Sultan memerintahkan YDM VII Raja Abdul Rahman untuk mengatur Negeri Lingga-Riau dengan sebaik-baiknya. Seterusnya, pada 1842 Baginda tetap pergi menghadiri pelantikan sepupunya Tengku Ibrahim sebagai Temenggung Seri Maharaja Johor walaupun dilarang oleh Belanda karena bertentangan dengan kebijakan pemerintah Belanda. Baginda juga melakukan teror terhadap Yang Dipertuan Muda ketika bawahannya itu menetap di Daik, Lingga, untuk mengawasi dan membatasi gerakannya (Rida K Liamsi, 2017:62—66). Dengan teror yang dilakukan oleh anak buahnya itu, Yang Dipertuan Muda terpaksa angkat kaki dari Daik untuk kembali ke Pulau Penyengat sehingga tak lagi dapat mengawasi Baginda dari dekat.

Baginda tak bersetuju Raja Ali ibni Raja Djaafar menjadi Yang Dipertuan Muda yang diusulkan pihak Yang Dipertuan Muda untuk menggantikan Raja Abdul Rahman yang mangkat pada 17 Juni 1844. Bahkan, Baginda meminta jabatan Yang Dipertuan Muda dihapus. Dalam konteks ini, keinginan Sultan Mahmud Muzaffar Syah untuk menghapus jabatan Yang Dipertuan Muda dapat dimaklumi karena pihak Yang Dipertuan Muda tak lagi setia terhadap isi Sumpah Setia Melayu-Bugis. Bahkan, pihak Yang Dipertuan Muda cenderung menjadi perpanjangan tangan Belanda dan ikut menekan Sultan, yang seharusnya dibelanya karena Sultan dalam keadaan bermusuhan dengan Belanda seperti pembelaan Raja Haji Fisabilillah terhadap Sultan Mahmud Riayat Syah dan Sultan Mahmud Riayat Syah yang membela YDM V Raja Ali ketika ditekan oleh pihak Belanda pada 1784.

Karena penghapuskan jabatan itu tak dimungkinkan, Baginda mengajukan tiga nama sebagai calon, termasuk Raja Idris, yang tak disukai oleh pihak Yang Dipertuan Muda. Karena tak juga ada kesepakatan, jabatan itu kosong lebih dari setahun walaupun akhirnya yang terpilih Raja Ali ibni Raja Djaafar (Rida K Liamsi, 2017:69—72). Setelah Raja Ali mangkat, Baginda kembali menangguhkan pengangkatan Yang Dipertuan Muda yang baru. Baginda menginginkan Raja Muhammad Yusuf ibni Raja Ali, sedangkan pihak Yang Dipertuan Muda mengusulkan Raja Abdullah ibni Raja Djaafar. Raja Muhammad Yusuf juga menolak untuk dipilih sehingga Sultan Mahmud Muzaffar Syah kembali menggantung penetapan dan pelantikan Yang Dipertuan Muda pengganti Raja Ali ibni Raja Djaafar (Rida K Liamsi, 2017:79—85).

Tanpa memedulikan larangan pihak Yang Dipertuan Muda dan peringatan keras pihak Belanda, juga Inggris, Baginda terus pulang-pergi ke Singapura, Pahang, dan Terengganu. Tindakan Baginda itu bertentangan dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh Belanda dan Inggris melalui Traktat London 1824. Akan tetapi, Baginda tak menghiraukan peraturan yang dibuat oleh Belanda dan Inggris itu. Dengan kata lain, perjanjian kedua kuasa asing itu, menurut Baginda, tak seharusnya mengikat Baginda sebagai sultan yang sah untuk pergi ke mana pun di wilayah Kerajaan Melayu.

Baca Juga: Ketika Mahmud ‘Nakal’ terhadap Beleid Belanda

Baginda pun mengembangkan pertambangan timah di Singkep. Kemudian, Sultan Mahmud juga berupaya mengembangkan pertambangan batu bara di Lingga. Untuk itu, Baginda bekerja sama dengan Inggris, bukan dengan Belanda. Tentulah Belanda menghalanginya, tetapi Baginda Sultan tak menghiraukan larangan Belanda itu (Rida K Liamsi, 2017:77). Dengan demikian, untuk perlawanan ini Sultan Mahmud Muzaffar Syah mengadopsi strategi moyang Baginda, yakni Sultan Mahmud Riayat Syah. Dan, Baginda menyadari sepenuhnya bahwa Baginda adalah penguasa sah Negeri Lingga-Riau yang berdaulat sehingga tak ada sebarang pihak pun boleh mencampuri dan melarangnya, apatah lagi Belanda.

Sultan Mahmud Muzaffar Syah, melanjutkan kebijakan para pendahulunya, menjalin perhubungan dengan pemimpin bajak Laut, Panglima Sulung, tokoh bajak laut dari Tempasuk. Pada 1842 Baginda mengangkat Tengku Sulung menjadi Panglima Besar dengan tugas utama menjaga Lingga-Riau dari ancaman pihak lain. Baginda juga menjalin perhubungan dengan kelompok lanun yang bermarkas di Pulau Galang yang dipimpin oleh Raja Abdul Rahman ibni Raja Idris. Perlawanan Sultan Mahmud Muzaffar Syah dengan pasukan bajak lautnya sangat berpengaruh, efektif, dan berdampak luas sehingga merugikan Belanda dan Inggris dalam bidang ekonomi (Rida K. Liamsi, 2017:108—113).

Di Tanah Semenanjung Sultan Mahmud menjalin aliansi dengan kerabat dan sahabat-sahabatnya, penguasa setempat. Baginda menjalin perhubungan diplomatik dengan Temenggung Johor, Tengku Ibrahim ibni Tengku Abdul Rahman; Sultan Singapura, Sultan Ali Iskandarsyah yang juga adalah mertua Baginda; Bendahara Pahang, Tun Mutahir juga dengan Wan Ahmad Pahang; dan Sultan Umar Terengganu. Matlamat aliansi para pemimpin itu tiada lain membangun imperium Melayu baru. Persahabatan Baginda Sultan dengan sahabat Persianya di Singapura, Cursetjee, telah menambah pengetahuan dan pengalaman Baginda tentang kehidupan dunia modern. Kesemuanya itu membuat Belanda dan Inggris menjadi cemas sehingga mereka menempatkan Sultan Mahmud Muzaffar Syah sebagai musuh yang harus diwaspadai (Rida K Liamsi, 2017:121—144).

Tindakan Sultan Mahmud Syah IV itu membuat Belanda khawatir bahwa Baginda akan menghimpun kekuatan Melayu yang dulunya bernama Riau-Lingga-Johor-Pahang untuk mengusir mereka dari Lingga-Riau. Sebaliknya pula, Inggris menjadi bimbang akan pengaruh Baginda terhadap para pemimpin Melayu di Semenanjung sehingga berbalik memusuhi Inggris. Dalam konteks ini, walaupun hampir kehilangan dukungan dari pihak Yang Dipertuan Muda yang telah bertuankan Belanda, Sultan Mahmud masih sangat berwibawa di kalangan pemimpin Melayu di Tanah Semenanjung.

Dengan perlawanannya terhadap Residen dan Gubernur Jenderal Belanda, Sultan Lingga-Riau IV Mahmud Muzaffar Syah telah berjaya mempermalukan Belanda di mata politik internasional. Tindakan dan perbuatan Baginda menunjukkan bahwa Baginda memang tak menghormati Belanda. Baginda, bahkan, tak peduli ketika dimakzulkan oleh Belanda pada 23 September 1857. Hal itu terbukti ketika surat pemakzulan disampaikan kepadanya pada 7 Oktober 1857 di Singapura, Baginda tak bereaksi sedikit pun (Rida K Liamsi, 2017:117—119).

Bahkan, Baginda Sultan menjawab pemakzulan dirinya oleh Belanda itu dengan perang. Dari Pahang Baginda meminta Panglima Besar Sulung, pemimpin bajak laut yang sangat setia kepada Baginda, untuk memerangi Belanda. Berkobarlah Perang Retih pada 12 Oktober 1858, setahun setelah Sultan Mahmud Syah IV dimakzulkan oleh Belanda. Malangnya, karena kelalaian pasukannya, Panglima Besar Sulung tertembak dalam sehingga tewas dalam peperangan itu, yang mengakhiri Perang Retih untuk kemenangan pihak Belanda dan sekutunya, para pemimpin baru Kesultanan Lingga-Riau yang dilantik oleh Belanda, bukan dengan Istiadat Raja Berlantik sesuai dengan tradisi Diraja Melayu yang dikenal sakral sebelum ini.

Baginda tak berputus asa. Setelah itu, Sultan Mahmud Syah IV terus berjuang dengan menghimpun kekuatan Johor, Pahang, Terengganu, Kelantan, bahkan sampai ke Siam, yang pada mulanya memang sangat gencar berjuang bersama Baginda. Malangnya lagi, Baginda sekali lagi dikalahkan oleh pengkhiatan para kerabat dan sahabatnya sendiri sampailah Baginda mangkat pada 8 Juli 1864 di Pahang, negeri tetangga tempat Baginda dilahirkan (Terengganu), dan dimakamkan di Pemakaman Diraja di Kuala Pahang, Kerajaan Negeri Pahang (bagian Malaysia sekarang; lih. Rida K Liamsi, 2017:190—197).

Bagi Sultan Mahmud Muzaffar Syah, Baginda tetaplah Sultan yang sah walaupun Belanda memakzulkannya karena Baginda bukan dilantik oleh Belanda, tetapi ditabalkan sesuai dengan hukum dan adat-istiadat kebesaran Kesultanan Lingga-Riau. Jabatan sultan itu adalah hak terwaris yang sah melekat pada diri Baginda, yang tak dapat diganggu gugat oleh pihak mana pun, karena Baginda tak melakukan kesalahan apa pun terhadap negeri dan bangsanya. Bahkan, Baginda memperjuangkannya agar terbebas dari cengkeraman kuasa asing. Apatah lagi Belanda, tak ada hak bangsa asing itu untuk mengatur diri dan kerajaan Baginda karena tak ada kena-mengenanya dengan hukum dan adat-istiadat Kesultanan Lingga-Riau. Dengan sokongan dari para kerabat dan sahabatnya para pemimpin di Tanah Semenanjung, bahkan, Baginda memosisikan diri sebagai Sultan Negeri Melayu sebelum dibelah-bagi oleh Belanda dan Inggris. Dengan sikap dan keyakinan itulah Baginda terus berjuang melawan kekuatan asing, Belanda dan Inggris, sampai akhir hayatnya.

Dari perjuangan dan perlawanan Sultan Mahmud Muzaffar Syah yang diperikan oleh RKL itu dapatlah disimpulkan pesan tersiratnya. Jati diri pemimpin sejati akan teserlah jika satunya kata dengan perbuatannya atau kata bertimbal dengan perbuatan. Untuk itu, apa pun cabaran dan tantangannya harus dihadapi dengan gagah-berani sebagai konsekuensi dari perjuangan mulia itu. Asal, semuanya dilakukan berasaskan nilai kebenaran.

Buku Mahmud Sang Pembangkang telah berjaya menempatkan perjuangan dan perlawanan Sultan Mahmud Muzaffar Syah di tempat yang patut lagi terhormat dalam senarai perjuangan bangsa melawan penjajah. Kesemuanya itu disajikan dengan cara yang sangat menarik, lugas, lagi berkesan. Hebatnya lagi, dengan buku terbarunya ini, Rida K Liamsi, malah, telah membuat roh Sultan Mahmud Muzaffar Syah menjadi aktif kembali sehidup-hidupnya untuk menyuarakan kebenaran. Suatu upaya yang memang belum sempat sampai selesai diungkapkan oleh Sultan Mahmud semasa hidup Baginda.***

Tinggalkan Balasan