Ilustrasi jalur rempah.

Oleh: Dedi Arman (Staf Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri).

SUMATERA bisa disebut sebagai Pulau Rempah. Penamaan ini didasarkan oleh kenyataan bahwa hampir semua tumbuhan yang termasuk ke dalam kelompok rempah ada di pulau tersebut. Penamaan ini juga didasarkan oleh cukup besarnya sumbangan rempah bagi perubahan sejarah masyarakat dan daerah pulau tersebut. Hal ini berlaku pada saat rempah menjadi komoditas dagang utama dunia.

Rekonstruksi sejarah mengenai keberadaan dan arti rempah Sumatera baik terhadap perubahan sosial, politik dan ekonomi pulau itu kalah intensif dibandingkan dengan penelitian dan penulisan sejarah mengenai keberadaan dan arti rempah bagi perubahan yang terjadi di Malaku dan Indonesia bagian timur umumnya. (Asnan,2017). Pelayaran dan perdagangan rempah adalah aspek historis yang relatif terabaikan dalam penulisan sejarah di Indonesia. Sejarawan Gusti Asnan menyebut hingga saat sekarang belum ada kajian khusus yang membincangkan fenomena historis itu. Kalaupun ada pembahasan tentang aspek rempah, maka itu dilakukan seara fragmentaris. Sebagai bagian dari kajian terhadap aspek dan fokus yang lain.

Padahal tak diragukan lagi, pelayaran dan perdagangan rempah pernah menjadi bagian penting sejarah Sumatera dan ikut serta mengisi lembaran sejarah pulau itu. Tak hanya itu, rempah Sumatera mempunyai andil besar dalam jaringan pelayaran dan perdagangan nusantara khususnya dan umumnya pada jaringan global.

Walaupun tak seheboh di Maluku dan Indonesia bagian timur, keberadaan rempah di Sumatera telah lama menarik perhatian peneliti dan penulis buku. William Marsden, penulis Inggris diyakini menjadi penulis pertama yang memberikan perhatian yang besar pada keanekaragaman rempah Sumatera.

Dalam catatan pejabat VOC Belanda, EIC Inggris, pengelana atau pelaut asing, empat rempah yang paling populer ditulis adalah lada, cengkeh, pala dan kayu manis. Marsden menyebut bahwa lada adalah komoditas paling penting dan berlimpah dari semua komoditas perdagangan Sumatera.(Marsden,1986).

Lada menjadi komoditi rempah di Sumatera yang paling banyak menarik perhatian. Sejak tampilnya lada sebagai mata dagangan utama nusantaram komoditi ini menyuplai setengah hingga tiga perempat produksi dunia. Sumatera penghasil lada utama di Sumatera. Aceh dan Lampung daerah penghasil lada terpenting dulunya, selain Palembang, Jambi, Banten dan Sumatera Timur. Bangka Belitung menjadi daerah kepulauan penghasil lada terpenting. Ada pula Lingga.

Rempah Kepri

Kajian historis pelayaran dan perdagangan rempah Sumatera kondisinya terabaikan. Hal yang sama juga berlaku bagi kajian sejarah rempah di Kepulauan Riau. Belum ada kajian khusus yang mendalam tentang pelayaran dan perdagangan rempah di Kepulauan Riau sejak abad XVI hingga saat ini. Tulisan yang ada mayoritas menyoroti aspek jalur pelayaran dan bukan membahas komoditi rempah tertentu secara khusus.

Siapa bisa membantah bahwa Kepulauan Riau sejak dulunya juga penghasil rempah. Cengkeh ada di gugusan Pulau Tujuh, yakni Natuna dan Anambas, serta Lingga. Lada ada di Lingga, Bintan dan juga Karimun. Kopra ada di Pulau Tujuh. Gambir ada di Kundur (Karimun), Singkep (Lingga) dan dulunya di Bintan. Kepulauan Riau yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka yang menjadi pusat perdagangan diuntungkan dengan letaknya yang strategis. Rempah dari kawasan ini mudah dipasarkan ke Selat Malaka atau ke daerah lain.

Setahu penulis belum ada disertasi atau tesis kajian sejarah yang fokus membahas tentang jalur pelayaran dan perdagangan rempah di Kepulauan Riau. Kajian sejarah yang lahir di Kepri kebanyakan menulis sejarah konvensional, seperti sejarah politik, pemerintahan, kajian karya budaya maupun aspek kebahasaan. Tak hanya penulis lokal, penulis asing yang menulis sejarah di Kepri juga banyak membahas dinamika sosial politik. Tak ada yang bercerita soal jalur rempah secara khusus.

Mantan Walikota Batam, Ahmad Dahlan P.hD tahun 2014 dalam disertasinya menulis peranan cendikiawan pada fase akhir Kerajaan Riau Lingga 1896-1913. Peneliti BPNB Kepri, Anastasia Wiwik Swastiwi P.hD tahun 2016 di kampus yang sama Universitas Malaya, Malaysia menulis disertasi tentang Joget Dangkung Kepulauan Riau Indonesia: Dari Hiburan Kampung Nelayan Kepersembahan Pentas. Doktor lainnya di Kepri, Dr Abdul Malik disertasinya berjudul Kehalusan Budi dalam Karya Raja Ali Haji. Dr Suhardi akademisi Stisipol Raja Haji disertasinya tentang transformasi nilai-nilai budaya Melayu dalam sikap masyarakat,kepemimpinan pemerintahan dan etos kerja aparatur. Erwiza Erman dari LIPI pernah menulis soal lada di Bangka Belitung, tapi itu bukan fokus utama. Dalam bukunya ‘Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung’ fokus kajiannya soal penambangan timah. Meski pun lada juga jadi andalan perekonomian Kesultanan Palembang. Budayawan Melayu, Rida K Liamsi yang belakangan produktif menulis buku sejarah, fokus kajiannya pada sejarah dan dinamika politik di Kerajaan Riau Lingga, termasuk biografi tokoh.

Kajian yang lebih utuh dan mendalam mengenai pelayaran dan perdagangan rempah di Sumatera, khususnya di Kepulauan Riau tak hanya memperkaya perbendaharaan pengetahuan kita tentang sejarah maritim Sumatera dan Kepri khususnya, tapi juga menambah pengetahuan soal dinamika sosial, politi, ekonomi, dan budaya. Betapa hebat kalau penulis sejarah menulis sejarah jalur pelayaran dan perdagangan rempah di kawasannya masing-masing. Ada yang menulis rempah di Jawa, Kalimantan, Maluku, Sulawesi, Nusa Tenggara dan juga Papua. Nantinya didapat sebuah kajian yang utuh mengenai pelayaran dan perdagangan rempah nusantara.

Dalam tahap awal, tak perlu muluk-muluk ada kajian rempah di Kepri untuk tesis atau disertasi. Penulis sejarah di Kepri memulai menulis sejarah rempah di wilayahnya masing-masing. Nantinya ada yang menulis cengkeh Natuna, Anambas atau Penuba, Lingga. Atau ada yang tertarik  menulis lada di Lingga, gambir di Kundur atau kopra di Natuna.

Sayangnya, di Kepri belum ada perguruan tinggi yang memiliki jurusan ilmu sejarah atau pun budaya. Di Umrah tak ada jurusan sejarah atau pun budaya. FKIP juga tak punya program studi pendidikan sejarah. Stisipol juga tak mempunyai prodi budaya. Satu-satunya kampus yang punya jurusan sejarah di Kepri hanya Unrika. Mereka memiliki prodi pendidikan sejarah.

Harapannya para penulis sejarah meski tak berlatarbelakang pendidikan sejarah tertarik dalam menggarap kajian rempah di Kepri. Tak hanya menambah informasi soal rempah Kepri di masa lampau, kajian utuh juga dapat berguna untuk masukan bagi pengambil kebijakan. Pemerintah daerah bisa mengulang atau napak tilas membangun kejayaan rempah yang pernah jaya di masa lampau. Semakin banyak kajian, pastinya akan banyak terungkap fakta-fakta baru berbagai rempah yang ada di Kepri dan persebarannya.***

 

Tinggalkan Balasan