Bentuk Sampan Riau menggunakan atap dan berkemudi yang berfungsi sebagai perahu pengangkut barang, perahu kargo di pelabuhan Singkep tahun 1951. (f: aswandi)

HINGGA awal tahun 1950-an Kepulauan Riau-Lingga masih kaya dengan perahu-perahu tradisional Melayu yang penting, dan menjadi perhatian pengamat serta peneliti asing.

Catatan dan laporan mereka tentang khazanah perahu tradisional tersebut menjelaskan kepada kita hari ini, bahwa, tidak sedikit dari khazanah dunia maritim Melayu itu kini telah jarang ditemukan atau punah sama sekali. Sebagai contohnya Sampan Riau dan Sampan Pukai Cina. Jangankan bentuk, namanya saja kini sudah tak dikenal lagi.

Pada tahun 1951, Carl Alexander Gibson Hill, seorang dokter yang punya minat besar terhadap sejarah dan kebudayaan Melayu, dan juga seorang curator zoology di Raffles Museum Singapura, membuat sebuah penyelidikan ilmiah tentang perahu-perahu tradisional (yang ia sebut Small Boats, perahu-perahu kecil) di Kepulauan Riau-Lingga. Untuk itu, Gibson Hill mengunjungi Tanjungpinang, Pulau Singkep, dan Pulau Sambu.

Hasil penelituan tersebut dipublikasikannya dengan judul A Note on the Small Boats of The Rhio and Lingga Archipelago (Sebuah Catatan Tentang Perahu-Perahu Kecil Kepulauan Riau Lingga) dalam Journal Malayan Branch Royal Asiatic Society (JMBRAS) vol. 24, No.1, hal: 121-132, edisi bulan Februari 1951.

Catatan Gibson Hill, yang keringkasan akan disuguhkan dalam ruang Kutubkhanah untuk jantungmelayu.com ini, sangat penting dan banyak gunanya untuk kepentingan kita masa kini. Terlebih di tengah upaya menggairahkan kembali dunia maritim Nusantara dan di kawasan Provinsi Kepulauan Riau khususnya.

Keringkasan berikut ini terdiri dari dua bagian. Pada bagian pertama akan dijelaskan gambaran umum jenis perahu-perahu tradisional di Kepulauan Riau Lingga dan penggunaannya pada tahun 1950-an. Sedangkan bagian kedua adalah sebuah catatan khusus tentang Sampan Riau dan hal-ikhwalnya.

Perahu Tradisional

Dalam penelitiannya, yang menjadi fokus perhatian Gibson Hill adalah perahu-perahu penangkap ikan yang berukuran menengah (medium size) dan kecil, serta perahu pengangkut barang yang digerakan menggunakan layar.

Menurut Gibson Hill, perahu-perahu yang digunakan untuk pekerjaan menangkap ikan di Kepulauan Riau Lingga terdiri dari canoe yang dapat memuat satu hingga beberapa orang. Perahu ini ringan dan dibuat secara sederhana, dengan sedikit atau tanpa hiasan sama sekali. Kebanyakan di antaranya berukuran antara 10-20 kaki panjang, dan jarang yang melebihi 22-24 kaki.

Pada daerah bagian Utara Kepulauan Riau Lingga, terutama pada kawasan terbuka di pantai Pulau Batam dan Pulau Bintan, perahu-perahu tersebut digunakan untuk memukat di pantai. Biasanya berupa sebuah perahu yang agak besar, yang disebut Perahu Pukat Cina (Chinese Seine Boat).

Masih menurut Gibson Hill, perahu-perahu kecil di daerah bagian Utara Kepulauan Riau Linga sangat mirip dengan perahu yang terdapat di perairan Singapura. Bentuk yang paling utama di sekitar Pulau Sambu dan Belakang Padang adalah Kolek Johor, dengan sejumlah kecil Kolek Chiau dan Kolek Selat, beberapa Sampan (menggunakan sebuah layar berbentuk segitiga, bukan segi empat atau dihela), dan sangat sedikit Sampan Riau maupun Jongkong.

Sebaliknya, di Tanjungpinang bentuk perahu-perahu tradisionalnya secara umum sama, namun terdapat agak sedikit Kolek Johor dan lebih banyak Sampan Riau. Di daerah bagian Selatan, Selat Bulan, dan Selat Dempo, ditemukan lambung (badan) Kolek Johor yang perlahan-lahan dirubah menjadi Sampan Riau versi kecil dan berukuran sedang.

Lebih jauh ke wilayah Selatan, masih di daerah sekitar Pulau Lingga dan Singkep, perahu-perahu tradisionalnya adalah Golek atau Kolek Singkep, dan Jongkong. Di daerah ini, salah satu perahu tradisonal yang berukuran menengah adalah Sampan Riau. Sedangkan Kolek Johor pada hakekatnya tidak dikenal.

Menurut Gibson Hill, perahu-perahu tradisional di Kepulauan Riau Lingga pada dasarnya sederhana dalam jenis dan dalam metode pembuatannya. Secara mudah, mereka dapat dibagi ke dalam empat kelompok yang meliputi, Jongkong yakni perahu tradisional yang dibuat dengan cara mencungkil batang kayu, yang disebut kolek kecil arau canoe yang ringan; Sampan Riau yang berat, tipis, dan agak besar; kolek;  serta Perahu Pukat Cina (Chinese Seine-Boat). Sampan pembawa barang dan Sampan Kotak hanya digunakan dalam jumlah yang kecil di sekitar Pulau Sambu dan bagian Utara Kepulauan Riau Lingga

Sebuah penanda umum dari seluruh perahu tradisional di Kepulauan Riau Lingga adalah, hampir sangat umum menggunakan tali di bagian haluan  dan buritan pada semua kategori perahu yang menjadi fokus penelitian Gibson Hill.

Sebuah contoh perahu yang paling kecil secara umum menggunakan seperangkta layar segi tiga, dengan sebuah bingkai yang sangat pendek. Sebuah layar topang (jib) kecil, mungkin ditambahkan pada perahu yang agak sedikit besar. Pola ini adalah satu bentuk yang normal pada semua ukuran Kolek Johor, namun pada sejumlah kasus, perahu-perahu terbesar dalam kelompok ini mempunyai tiang pendek dua tingkat, yang setiap satunya dipasangkan sebuah layar berbentuk segi tiga

Bentuk seperti ini terutama sekali ditemukan pada perahu-perahu yang dugunakan untuk mengangkut penumpang dan barang. Sampan  Riau yang paling besar secara umum dilengkapai dengan sebuah pengait hujung layar utama dan sebuah layar topang (jib) yang berukuran sedang.

Penggunaan tiang layar melintang yang dapat dirubah-rubah secara diagonal (Sprit-sails) agak jarang, kecuali pada Sampan Pukat Cina (Chinese Seine-Boat). Mungkin, popularitas tiang layar yang melintang secara diagonal itu semakin berkurang pula di perairan Singapura, kecuali pada Kolek Lomba, model Jong, dan Kolek Chiau. Sementara itu, model layar perahu Melayu dari Semenanjung, hampir tidak dikenal di Kepulauan Riau-Lingga.

Dalam semua kasus, penyelesaian pembuatan sebuah perahu  mudah dan sederhana. Tidak terdapat tanda model haluan (bifid bow) dan cadik ganda yang ditemukan pada canno kecil dari Belitung Barat, atau layar “sompot” yang katanya terdapat paling kurang pada satu perahu di pulau Bangka.

Barangkali, kecendrungan rancang bangun perahu-perahu tradisional di daerah Bangka ada di Jawa, sedangkan perahu-perahu di daerah Lingga dan daerah di utaranya lebih dekat hubungannya dengan perahu-perahu tradisional di sekitar Selat Singapura.

Sampan Riau

Pada Tahun 1951 Sampan Riau (The Sampan Rhio) dibangun menggunakan teknik orang Eropa, meskipun, seperti halnya Kolek Johor, pada mulanya ia dibuat dari  sebatang kayu yang dicungkil, a dug-out base. Pada sejumlah tempat, metode tua tersebut masih digunakan hingga kira-kira 15-20 tahun yang lalu, dan beberapa contohnya masih ada.

Umumnya dapat dikatakan bahwa versi terkecil Sampan Riau, yang berukuran hingga kira-kira 20-22 kaki panjang, mengganti Kolek Johor hampir di sebagian besar  kawasan Kepulauan Riau-Lingga, dengan pengecualian di di daerah bagian utara yang masih menggunakan kedua jenis perahu tradisional ini.

Terdapat perbandingan yang manarik, yakni antara Sampan Riau saat ini dan Kolek Melaka (Malacca Kolek). Pusat pembuatan Kolek Melaka adalah disekitar kota Malaka (Kampong Pernu hingga ke bagian Selatannya, Kampong Pengkalan Balas, serta Kuala Sungei Bahru hingga ke Utara), dan di pantai Selangor sebelah Selatan daerah Morib: Kolek Melaka digunakan secara luas oleh orang-orang Melayu di bagian Utara daerah Batu Pahat (Johor) hingga ke Kampong Sungei Buloh (Selangor). Dan selain Jalur, ia merupakan satu-satunya bentuk perahu bukan model perahu Cina yang ditemukan di daerah ini.

Bagaimanapun, ia tidaklah muncul dengan meluas jauh ke daerah Selatan melampuai Sungai Batu Pahat. Perahu ini tidak pernah terlihat di kawasan paling Selatan dari daerah Johor atau perairan Singapura. Namun demikian profil lambung atau badannya persis sama dengan Sampan Riau terkecil, meski perahu itu agak ringan dan lebar, dengan bagian depan lebih curam dan bagian tengah perahu itu kurang terbenam dalam air.

Sampan Riau dalam bentuknya pada tahun 1951, dengan berukuran panjang 20 hingga 22 kaki, umumnya hanya digunakan untuk menangkap ikan atau menambang. Sebaliknya Sampan Riau yang berukuran besar (hingga 30 kaki panjangnya) masih dibuat, digunakan sebagai pembawa kargo atau perahu dagang. Sebagai perahuu kargo, Sampan Riau, umumnya, mempunyai atap penutup tempat berteduh dekat bagian terlebar di buritan dan bentuk yang khas pada bagian atas labungnya.

Sampan Riau dari jenis yang terbesar, dan dipergunakan sebegai perahu kargo ini, biasanya berlayar  menggunakan layar utama dan sebuah  layar topang atau layar jib, serta dikemudikan dengan sebuah daun kemudi dan tali. Perahu seperti ini hilir mudik, namun kebanyakan terlihat ke arah Selatan Pulau Bintan.Jauh sebelum tahun 1951, perahu-perahu yang  jenisnya mendekati Sampan Riau modern lebih beragam bentuknya, dan banyak tedapat di peraiaran Singapura.

Pada satu ketika dulu, Sampan Riau (dan Jongkong) mungkin merupakan mayoritas terbesar dari perahu-perahu kecil yang dijumpai perairan Kepulauan Riau Lingga, terutama diantara kumunitas maritime  orang Melayu dan Orang Laut.

Sejumlah kecil Sampan Riau masih terlihat disekitar Singapura pada tahu 1951, dan kebanyakannya merupakan contoh yang berukuran menengah, dan sebagian besarnya digunakan untuk sarana angkutan.

Jenis sampan tersebut biasanya dibedakan dalam dua kategori, sebegai sisa-sisa kepopulerannya di masa lalu (sederhana dalam bentuk dan sentuhan akhir dibanding perahu-perahu yang lebih modern) yang kebanyakan ditemukan disekitar Pulau Brani, serta sebuah model yang baru-baru ini dibawa dari Batam, Bintan, dan kawasan lain di Kepulauan Riau-Lingga.

Sampan Riau”, yang digunakan sebagai judul bagian ini, adalah nama yang diberikan oleh nelayan-nelayan Singapura. Sebuah contoh dari jenis Sampan Riau modern, yang biasanya terlihat berlayar jauh hingga ke daerah bagian Utara Kepulauan Riau-Lingga.***

Artikel SebelumDulu Jadi Pemicu Perang Riau
Artikel BerikutPemakzulan Sultan dan Tengku Besar
Aswandi Syahri, lahir di Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau, pada 29 Januari 1970. Alumni ilmu sejarah pada Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra (kini, Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Andalas. Pernah menjadi jurnalis, dan kini masih menjabat sebagai sekretaris Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang Provinsi Kepulauan Riau. Menulis sejarah sejak di bangku SMA, dan telah menghasilkan sejumlah buku tentang sejarah dan kebudayaan Melayu di Kepulauan Riau

Tinggalkan Balasan