Syair Warnasari karya Raja Ali Haji

0
504 views

DALAM keterangan buku Gurindam Duabelas dan Sejumlah Sajak Lain Raja Ali Haji (2000), Hasan Junus menjelaskan, sebenarnya syair gubahan Raja Ali Haji ini tidak berjudul. Akan tetapi karena dimuat dalam majalan Warnasarie tahun 1853 halaman 113-118, maka diberikan judul Syair Warnasari.

Bahan ini dapat disebarluaskan berkat penemuan Jan Van der Putten (Universitas Leiden) tahun 1995.

Syair dikarang oleh Raja Ali Haji Ibn Raja Ahmad Ibn Yang Dipertuan Muda Riau

Dengarkan tuan suatu peri,
Syair kurang seorang diri,
Tatkala sakit di kota Engku Puteri,
Hampirkan hilang jiwa sendiri.

Saudara dan bapa terlalu susah,
Siang dan malam keluh susah,
Mencari obat minum dan asah,
Ada yang panas ada yang basah.

Dipanggillah dukun Melayu dan Cina,
Ada yang jantan ada yang betina,
Berbuatlah obat berbagai warna,
Kepada badanku sekalian terkena.

Jangankan kurang, bertambahlah pula,
Dengan perintah Allah ta’ala,
Badang pun lemah tiada terhela,
Sebab karena itulah bala.

Sanak saudara bertambah cinta,
Ada yang menyapu ayernya mata,
Berhimpunlah mufakat ke dalam kota,
Musyawaratkan obat supaya nyata.

Raja Abdullah saudara Yang Dipertuan,
Ialah wakil raja bangsawan,
Bijaksana lagi dermawan,
Ialah mengeluarkan ikhtiarnya tuan.

Katanya ayuhai ayahanda bunda,
Dengarkan juga ikhtiarnya anakada,
Baik kita pinta dokter Holanda,
Karena obatnya bukan bersenda.

Karena obatnya dengan pelajar,
Kepada negeri yang besar-besar,
Janganlah kita berbanyak ghubar,
Berserah kepada tuhan yang jabbar.

Selesailah mufakat sama sendiri,
Menyuruh seorang pergi berlari,
Kepada Residen kepala negeri,
Meminta dokter esok hari.

Residen pun suatu orang mengerti,
Dikabulkan pinta dengan putih hati,
Tiada suatu tangguh dan nanti,
Sampailah ia orang berbakti.

Datanglah seorang dokter darat,
Berkayuhlah ia ke pulau Penyengat,
Memeriksa penyakit ringan dan berat,
Periksa halus terlalu sangat.

Habis periksa obat diberi,
Dua botol diminum saban hari,
Kira-kira ada empat lima hari,
Kita pun minta sebilang hari.

Tengah berobat lalu berhenti,
Sebab dokter sakitnya kaki,
Dokter kapal perang pula mengganti,
Ia pun satu orang mengerti.

Datanglah dokter yang pilihan,
Memeriksa penyakit dengan perlahan,
Rupanya lembut dengan kasihan,
Sampailah orang kepercayaan.

Habis periksa ia pun pulang,
Datanglah pula ia berulang,
Membawa obat di dalam balang,
Satu jam sekali diminum berselang.

Ada kira-kira lima enam hari,
Dengan izin tuhan yang bahri,
Kuranglah penyakit di dalam diri,
Bolehlah sedikit dibawa berdiri.

Kiat pun syukur kepada Allah,
Meringankan penyakit yang berat lelah,
Minta ampun barang yang salah,
Akan diterima insya Allah.

Kepada Allah mengata amin,
Menerima kasihlah kita kepada gubernemen,
Serta menterinya tuan Residen,
Kepada dokter bukannya main.

Tuan dokter muda bestari,
Lemah lembut lakunya berdiri,
Air ayam pula diberi,
Disuruhnya minum minum sehari-hari.

Tiadalah kita panjangkan mudah,
Hilanglah duka cita hati yang gundah,
Sanak saudara sukalah sudah,
Mukanya manis berupa indah.

Sekalian saudara memberi hormat,
Kepada gubernemen memberi selamat,
Tiada terbalas budi dan hemat,
Mudah-mudahan Allah memberi rahmat.

Termaktub di dalam negeri Riau kepada 1 hari bulan Jumadil-awal, tahun 1268 (3 Maret 1852).

Tinggalkan Balasan