Lanskap pusat pemerintahan provinsi Kepri di pulau Dompak yang dinamai Istana Kota Piring. (foto: Yusnadi/Batam Pos)

KONON, penamaan kompleks perkantoran Pemprov Kepri sebagai Istana Kota Piring lantaran pulau Dompak disebut tidak punya sejarah. Tapi buru-buru, Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri menukas, “terlalu sederhana bila mengatakan Pulau Dompak tak punya sejarah, tak punya masa lalu yang tercatat dalam sejarah, dan tak tercatat dalam dokumen-dokumen sejarah,” katanya.

Barangkali, sambung Aswandi, hal ini terjadi karena sulitnya mencari informasi atau bahan primer tentang masa lalu pulau Dompak.

Menurut sejarawan berkaca mata ini, historisitas sebuah negeri dan tempat tak mutlak harus ditandai dengan bangunan-bangunan dan peninggalan monumental seperti yang ada di Pulau Penyengat dan Sungai Carang, Hulu Riau. Hal-hal yang sepele, dan kecil tentang masa lalu sebuah negeri, katanya, juga penting bagi jatidirinya di masa kini.

Sejauh yang diketahui Aswandi, dokumen paling tua berkenaan dengan Pulau Dompak adalah sebuah laporan berbahasa Belanda berjudul ‘Beknopte Aantekening Over Jet Eiland Bintang’ yang ditulis dokter bernama H.C. Steenhard pada tahun 1833, yang kini tersimpan di Belanda, dan satu salinannya ada di sebuah perpustakaan di Jakarta.

Selaian menjelaskan perihal kota Tanjungpinang dan biografi singkat anggota keluarga yang penting dari istana Riau-Lingga, kata Aswandi, di dalamnya juga dipaparkan tentang pulau-pulau kecil yang terletak di lepas pantai Tanjungpinang. “Satu di antaranya adalah Pulau Dompak, yang kini sedang dihebohkan itu,” ujarnya.

Dalam laporannya, H.C. Steenhard menuliskan nama pulau tersebut sesuai dengan nama yang dipergunakan oleh orang Melayu ketika itu; Pulau Manillei. “Itulah Melayu, nama lama Pulau Dompak yang tidak pernah kita dengar lagi pada masa kini,” ungkap Aswandi antusias.

Aswandi melanjutkan, bahwasanya jejak Pulau Dompak tak hanya termaktub di laporan Steenhard saja. Jejak Pulau Dompak, kata dia, juga ditemukan dalam sejumlah peta-peta tua tentang alur perlayaran di Selat Riau (vaarwaters kaart Straat Riouw). Dalam peta-peta yang dibuat tahun 1840, 1896, dan 1903 itu, nama Pulau Manillei dan Pulau Dompak digunakan, namun sering berubah-ubah, dan digunakan juga sebagai nama salah satu kampung di pulau itu.

“Belum diperoleh jawaban apa penyebabnya. Namun demikian, nama pengganti yang digunakan tetap bersumber dari nama-nama tempat berhampiran pulau itu juga,” jelasnya.

Sebuah peta tahun 1840-an yang kini tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden, kata Aswandi, masih menggunakan nama-nama pulau itu sebagaimana dicatat oleh H.C. Steenhard dalam laporannya, namun dieja sebagai Pulau Manillay.

“Tapi, nama itu kemudian berubah,” sergah sejarawan lulusan Universitas Andalas ini.

Dalam peta Straat Riouw (Selat Riau) tahun 1840 misalnya, pulau itu disebut Poeloe Strumbo (bersempena strumbopunt atau Tanjung Setumu di ujung Barat pulau itu). Sedangkan nama Dompak, masih menurut penjelasan Aswandi, digunakan untuk nama sebuah sungai yang muaranya berdepan-depan dengan ujung paling timur pulau itu yang disebut Tg. Ramboet.

“Di tanjung ini terdapat sebuah kampung bernama Dumpo. Dalam peta yang lain kampung ini disebut juga Kampung Dompak,” katanya.

Sementara itu, dalam peta lainnya cetakan tahun 1903, Dompak kembali menjadi nama pulau itu dengan nama alias Pulau Setoemoe (sekali lagi bersempena nama Tanjung Setumu). Selain menjadi nama pulau, kata Aswandi, dalam peta tahun 1903 ini nama nama Dompak digunakan juga sebagai nama selat antara daratan Tanjungpinang, Straat Dompak (Selat Dompak), menggantikan nama lamanya, Straat Mof (Selat Mof) dan Straat Ajon.

Ada satu peristiwa penting yang tercatat di Pulau Dompak. Pada 27 Juli 1872, kata Aswandi, Pulau Dompak ini pernah mendapat kunjungan J.E. Teyssmann, inspektur kehormatan dari Kebun Raya Bogor. Kunjungannya merupakan bagian perjalanan ilmiahnya mengumpulkan spesimen tumbuhan-tmbuhan dari Kepulauan Riau-Lingga. Dalam kunjungan yang ditemani oleh Datuk Setia Abu Hasan itu, J.E. Teyssmann menemukan banyak kebun gambir dan lada di pulau yang ia sebut Poeloe Doempah.

Lalu, ketika terjadi perjanjian batas wilayah Tanjungpinang sebagai wilayah Belanda (tertorier van het Nederlandse gouvernement) dengan daerah sekitarnya sebagai wilayah kerajaan Riau-Lingga (vorsten territoir), Pulau Dompak adalah salah atu batas wilayah dan menjadi milik kerajaan Riau-Lingga.

“Dalam peta yang terlampir bersama surat perjanjian tambahan (supleitoir contract) yang dibuat antara Yamtuan Muda Riau Raja Muhammad Yusuf dan Resident, W.C. Hoogkamer pada 22 April 1899 itu, nama resmi Pulau Dompak adalah Pulau Manillay,” terang Aswandi.

Lantas apa artinya Dompak? Apakah perkataan dompak itu ada maknanya? Lalu, apa pula maknanya Manillei atau Manillay? “Mungkin beberapa kamus dapat menolong mencarikan jawabannya,” kata Aswandi.

Dalam kamus Bahasa Melayu-Bahasa Inggris gubahan Wilkinson (1959) yang dikenal sangat lengkap penafsiran lema-lemanya, dompak termaktub sebagai lema bahasa Melayu. Makna lema itu tertulis, berkelompok, setandan, berkumpul bersama, berkumpul menjadi satu. Wilkinson, di kamusnya, memberikan contoh. Jika sekumpulan rumah bersusun rapat-rapat maka dapat disebut berdompak. “Sementara di Kedah, Malaysia, bentuk lain perkataan ini adalah dompat. Bukan tidak mungkin ada kisah sejarah dibalik asal usul pengunaan nama Dompak itu di masa lalu,” terka Aswandi.

Sementara dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), arti lema dompak sama persis dengan penjelasan Wilkinson.

Sementara lema Manillei atau Manillay, kuat dugaan Aswandi, sejatinya tentu juga bahasa Melayu. “Namun belum diperoleh penjelasan yang memuaskan tentang makna perkataan itu,” ujarnya. Karena Aswandi masih menimbang-pikir, apakah serupa dengan Manila yang dijelaskan sebagai nama sejenis bunga dan sejenis pohon dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tahun 2005 dan Kamus Dewan (Kamu Bahsa Malaysia) terbitan tahun 2010.

“Tapi yang menjadi inti dari diskusi ini adalah, bahwa Dompak itu punya catatan sejarah. Tak mungkinlah namanya asal dikasih saja,” tegasnya.***

Tinggalkan Balasan