Potret SM Amin yang difoto ulang Aswandi Syahri dari rumah Aida, putri SM Amin.

Sederas Arus Sungai Krueng

Mengenal SM Amin, Gubernur Pertama Riau ketika Beribukota di Tanjungpinang

SM Amin dilahirkan di Lho’ Nga, Aceh pada 22 Februari 1906. Pengakuannya, tanggal lahir sebenarnya adalah 22 Februari 1904. Terpaksa ‘dismokkel’ dua tahun oleh ayahnya agar ia dapat didaftarkan di ELS di Sabang pada 1912. Nama sebenarnya yang melekat pada batang tubuhnya bukan SM Amin sebagaimana masyhur hari ini.

Melainkan Krueng Raba Nasution. Nama ini diambil dari nama sebuah sungai di Lho’ Nga yang mengalir dari bukit-bukit di pedalaman melalui hutan rimba hingga akhirnya bermuara di laut. Konon, sungai ini yang menjadi palagan pertempuran Teuku Umar. Sehingga sang ayah menamai anaknya dengan nama sungai ini dengan harapan dapat memberikan kederasan peran dalam pembangunan bangsa sebagaimana aliran sungai Krueng Raba.

Baca Juga: Datang dan Kembali untuk Tanjungpinang

Lantas bagaimana bisa kemudian nama itu berganti jadi SM Amin? Semua itu bermula pada kelulusan di Rechtshooge-school (Sekolah Tinggi Hukum) di Batavia pada 1933 dengan gelar Meester in de Rechten (Mr) di belakangnya. Dengan tergopoh-gopoh, si Krueng Raba ini meminta kepada rektor mengganti namanya yang akan dicetak di ijazah kelulusan dengan tambahan berupa gelar Sutan Muhamad Amin.

“Sesuatu yang kemudian,” kenangnya, “tidak dibenarkan oleh ayah saya, karena gelar menurut adat, yang katanya telah disediakan bagi saya adalah Mangaraja Gunung Baringin.” Sempat ada ketegangan hubungan antara SM Amin dengan ayahnya, tetapi, pada akhirnya, sekalipun dengan hati berat, ayahnya menerima nama itu dan tidak ada lagi pergantian nama. Jadilah SM Amin yang kita kenal sampai hari ini.***

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan