Datok Seri Lela Budaya Rida K Liamsi.

ESA hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, takkan Melayu hilang di bumi. Cogan kata yang diwariskan oleh Laksamana Hang Tuah, tokoh legendaris dunia Melayu itu, adalah cogan visioner yang jika diresapi secara sungguh sungguh akan membuat orang orang Melayu dapat berjalan dengan kepala tegak. Karena Cogan, kata itu, mengajarkan sikap hidup yang menunjukan sikap entrepreneurship orang melayu. Sikap mandiri, kreatif dan visioner.

Dengan semangat entrepreneurship seperti itulah orang orang Melayu dahulunya merambah alam nusantara ini. Bermula dari Bintan, ke Singapura, ke Melaka, Johor, dan terus ke Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali, Maluku. Bahkan sampai ke Sulu dan Madagaskar. Serta Okinawa. Jejaknya bisa dilihat dimana bahasa Melayu dan Islam memberi pengaruh jalan hidup dan peradaban di alam nusantara ini. Dimana orang orang berpantun, bersyair, bergurindam. Kawasan yang kemudian dikenal sebagai alam Melayu atau Melayu Serantau

Jejak itu menunjukkan bahwa bangsa Melayu adalah bangsa yang besar. Karena hanya bangsa yang besar dan kaya, terutama secara moral yang dapat mewariskan tamaddun yang besar. Lihatlah bahasa Melayu. Bahasa ini dikatakan adalah salah satu bahasa dunia yang menjadi bahasa literasi. Bahasa tinggi sama seperti bahasa Latin. Menjadi bahasa untuk surat menyerah secara resmi. Menjadi bahasa perjanjian dan kontrak politik. Lihat perjanjian Bangoya antara Sultan Hasanudin dan VOC, UU laut Malaka, dll. Lihatlah warisan sastra klasik seperti Salalatus Salatin, I Lagaligo, dll.

Kekalahan Melaka sebagai jantung Melayu terhadap Portugis, memang menjadi penyesalan sejarah negeri Melayu yang panjang. Kekalahan itu bukan saja berdampak pada demensi politik, pemerintahan, dan juga agama. Tetapi terlebih dalam bidang pendidikan dan pembangunan sumber daya manusia. Kekuasaan bangsa Eropa yang datang setelah Portugis, seperti Belanda dan Inggris, telah menutup peluang dan menyingkirkan orang orang Melayu dari panggung sejarah. Tak ada lagi sultan sehebat Mansyursyah Melaka, laksamana seperkasa Hang Tuah dan politikus sebijak Tun Perak.

Pengkhianatan terhadap sumpah setia antara Demang Lebar Daun, sosok yang mewakili rakyat Melayu dengan Sang Sapurba, sebagai wakil kekuasaan dan kekuatan politik, yang dikenal sebagai prasasti Bukit siguntang itu, telah menghancurkan semua daulat dan kuasa politik rumpun Melayu.

Untuk selama 800 tahun imperium Melayu tegak dan membangun kecemerlangannya, telah runtuh dibawah telapak kekuasaan penjajahan yang tahu kelemahan mendasar orang-orang Melayu adalah keserakahan terhadap kekuasaan, dan peri hidup yang takabbur dan jemawa.

Islam memang telah menjadi kekuatan moral terbesar yang menyelamatkan orang-orang. Melayu dari kehancuran jejak dan peradabannya. Tapi, orang orang Melayu bukan tandingan orang-orang Aceh dalam menjunjang Islam dan kekuatan moralnya.

Untunglah ada pemberontakan Megat Seri Rama yang telah mengubah haluan sejarah, yang mewariskan kembali filosofi hidup orang Melayu yang sempat hilang dan dilupakan:  raja alim raja disembah, raja zalim raja disanggah. Pendurhakaan itu kemudian telah mengembalikan kehebatan orang orang Melayu membangun kebesarannya.

Melayu modern sekarang ini, sebagaimana yang tercermin pada orang-orang Melayu di semenanjung Malaysia, adalah orang-orang Melayu yang bangkit dari sikap hidup yang terperangkap dalam doktrin kekuasaan yang salah. Melayu modern, adalah Melayu yang kembali menyadari bahwa mereka sesungguhnya adalah para entrepreneur sejati. Yang tangguh, yang cerdas, yang yakin bahwa masa depan rumpun Melayu ini harus dibangun di atas Cogan, kata yang diwariskan laksamana hang tuah: esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, takkan Melayu hilang di bumi. Mandiri. Kreatif dan visioner.

Melayu modern sekarang telah membantah dan memansyuhkan ejekan para penjajah Barat bahwa orang Melayu pemalas, tidak tangguh dalam menghadapi cobaan hidup. Gampang menyerah dan lain-lain stigma negatif yang selalu mereka pelihara untuk menghancurkan semangat kemandirian dan visionernya orang-orang Melayu.

Sekarang amok Melayu yang diperlihatkan Mahatir Muhammad dan orang-orang Melayu dalam kerusuhan bulan Mei itu menunjukkan bagaimana orang Melayu membangun kembali kebesaran mereka. Gerakan ekonomi yang digagas Tun Abdurrazak mengingatkan orang pada kepiawaian Tun Perak. Demikianlah kecemerlangan Melayu kini, setelah mereka kembali ke jati diri mereka. Jati diri Melayu. Ayolah!***

Sumber: disini

Tinggalkan Balasan