Pemandangan hamparan kampung di Pulau Tambelan tempo dulu menurut sebuah foto sekitar akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20. (dok: aswandi syahri)

CECIL Bodel Kloos, adalah seorang ahli botani dan fauna asal Inggris. Pada masa mudanya, pernah menjabat sebagai Direktur Raffles Museum di Singapura. Kecintaannya pada botani dan fauna membawanya berlayar jauh sampai kawasan Pulau Tujuh, dan sudah pasti singgah ke Tambelan.

Ada banyak hal yang dijumpai Kloos pada kunjungannya ke Tambelan tahun 1900. Pengalamannya itu lantas dicatat dalam sebuah laporan berjudul Note on a Cruise in the Southern China Sea yang diterbitkan empat tahun kemudian di Journal of The Straits Branch Royal Asiatic Society.

Sejarawan kita, Aswandi Syahri lantas menyarikan laporan Kloos mengenai segala yang menarik dalam laporan Kloos tersebut, khusus untuk jantungmelayu.

Pulau Tambelan

“PADA tanggal 8 Agustus 1900, kami berlayar dari Pulau Benoa menyeberang ke Pulau Tambelan ketika fajar menyingsing dengan dipandu seorang mualim yang berasal dari kalangan penduduk setempat, dan labuh jangkar di pelabuhan pulau itu tiga jam kemudian,” tulis Kloos di awal catatannya tentang perlayaran ke Pulau Tambelan pada awal abad yang lalu.

Menurut Kloos, pulau Tambelan adalah pulau terbesar di Kepulauan Tambelan. Panjangnya sekitar 4,5 mil dan bentuknya hampir menyerupai segitiga. Di pantai sebelah timur lautnya, terdapat sejumlah perbukitan. Yang tertinggi diantaranya yaitu Puncak Tambelan (Tambelan Peak) yang menjulang hingga ketinggian 1.300 kaki. Sementara itu, tak jauh ke arah timurnya terdapat pula puncak yang disebutnya Thum Peak, yaitu sebuah puncak bukit yang luar biasa dengan ketinggian 950 kaki.

Pulau Tambelan seperti terpisahkan menjadi dua bagian oleh sebuah teluk kecil yang membelah dari arah utara ke timur menuju ke sisi baratnya. Teluk kecil itu hampir satu mil lebarnya. Dlingkari dan dibatasi oleh terumbu karang. Berhampiran pintu masuk teluk itu terdapat pula sisa-sisa pemecah gelombang dari batu karang.

Suatu ketika dulu, sebuah tembok pertahanan (stockade) pernah membentang di belakang pemecah gelombang itu. Selain itu ada pula sebuah benteng (fort) berdiri di tepi pantai. Semuanya dibangun untuk mempertahankan Kampung Tambelan, yang terletak di ketinggian, dari serangan bajak-bajak laut Illanum (orang Ilanun) yang kadang-kadang menyerang  pulau itu pada abad ke-19.

Surat Sultan Lingga

CECIL Boden Kloos mengunjungi kampung itu dan  menyambangi Dato (Datuk Kaya Tembelan) sembari memperlihatkan selembar surat yang ditulis oleh Sultan Lingga, yang menguasai semua pulau di kepulauan ini.

Sebuah bangunan panggung-beratap dengan bangu-bangku bertingkat-tingkat membentuk sebuah tempat singgah dan tempat duduk yang menyenangkan terletak menjelang kampung itu. Pada sebuah djambatan dekat sebuah kapal orang asing berlabuh-terdapat pula sebuah prau (perahu) yang besarnya kira-kira seukuran perahu penangkap paus, dijejali oleh keluarga orang laut.

“Dari djambatan itu kami menuju ke rumah Dato (Datuk Kaya Tambelan).” ungkap Cecil Boden Kloos.

Menurut Boden Kloos, Kampung Tambelan itu terdiri dari terdiri dari sekitar 250 buah rumah yang dihubungkan oleh bentangan jalan yang rapi dan pasokan air besih melalui sejumlah panchurans bambu yang berasal dari tempat yang lebih tinggi di belakang kampung.

Ketika ia berkunjung, tak seorang pun perempuan terlihat. “…namun dari rumah-rumah di kampung itu mucul suara ‘kletak-kletuk’ sejumlah alat tenun: kain sarong yang kuat dan baik dibuat di kampung ini, dicelup dengan warna-warna berbahan kimia yang dibeli di Singapura,” ujar Boden Kloos.

Meskipun menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Belanda, uang Straits Dollar (Dollar Negeri-Negeri Selat yang berlaku di Singapura-Melaka-dan Pulau Pinang) adalah satu-satunya mata uang yang berlaku di semua pulau yang kami jelajahi di daerah Tambelan.

Di Kampung Tambelan, Boden Koloos juga menyaksikan sebuah mesjid tua, sebuah bangunan beratap kerucut bersusun tiga yang dibangun menggunakan batu dan kayu. Begitu pula sejumlah meriam tua yang letaknya menyebar. “…Kami sampai di rumah Dato (Datuk Kaya). Sebuah bangunan beratap tunggal yang bagus, yang dilengkapi dengan sebuah beranda panjang berpagar di sepanjang rumah itu. Disitulah kami disambut oleh tuan rumah,” tulis Boden Kloos.

Menurut Boden Kloos, Dato (Datuk Kaya) Tambelan adalah orang tua yang ramah. Ia dimuliakan oleh rakyatnya sebagaimana ia memuliakan surat Sultan Lingga yang diserahkan oleh Cecil Boden Kloos kepadanya.

“Kursi-kursi telah diatur pada salah satu ujung sebuah ruangan. Ketika kami mengambil tempat duduk, bagian lantai yang lebih rendah di ruangan itu dipenuhi oleh rakyat jelata. Kaum perempuan menyaksikan melalui kisi-kisi jendela ruangan bagian dalam. Seorang petugas berdiri, lalu membungkuk merapatkan kedua telapak tangannya dengan hormat, sembari membaca hukum (keputusan) Sultan Lingga yang menjelaskan maksud kedatangan kami dan menganjurkan semua bentuk bantuan. Kemudian, Dato (Datuk Kaya) dan semua yang hadir menjelaskan hal ikhwal fauna setempat kepada kami,” demikian kesan-kesan Cecil Boden Kloos tentang sambutan hormat Datuk Kaya Tembelan terhadap kedatangannya dan surat Sultan Lingga yang ia persembahkan.

Dalam pengamatan Boden Kloos, masyarakat Pulau Tambelan sangat makmur dan merupakan salah satu dari beberapa tempat yang luar biasa secara ekonomi, meskipun tanpa kehadiran pedagang-pedagang Cina.

Foto aerial Pulau Tambelan pada 2017. (foto: One Padli)

Sekunar dan Kolek Tambelan

Selain fauna tempatan yang menjadi fokus perhatian Boden Kloos selama berada di Pulau Tambelan, beberapa aspek dunia maritim setempat juga tak luput dari pengamatan Direktur Raffles Museum Singapura itu. Menurut Boden Kloos, di tepi pantai sekitar pelabuhan di Kampung Tambelan, berlabuh 20-30 buah perahu layar jenis schooner (sekunar, jenis perahu layar bertiang dua) buatan penduduk setempat. Seluruhnya milik penduduk kampung itu. Dengan schooner itulah seluruh kegiatan perdagangan dilakukan dan semua yang dihasilkan daerah ini dikirim ke Singapura.

“Pembuatan kapal menjadi industri yang terbesar di kampung itu, dan kami melihat setengah lusin atau lebih lambung kapal yang berukuran panjang tiga puluh hingga empat puluh kaki. Seluruhnya dalam tahap penyelesaian. Kapal-kapal itu dibangun menggunakan kayu cenghai (cengal) dan kayu merbau setempat. Seluruhnnya diperkuat dengan pasak-pasak kayu. Setiap perahu tampaknya dikerjakan oleh sejumlah laki-laki secara bergotong-royong dan membutuhkan waktu dua tahun atau lebih untuk menyelesaikannya,” ungkap Boden Kloos.

Adapun berkenaan dengan teknologi pembuatan perahu di Tambelan, Boden Kloos mencatat sebagai berikut, “…Mula-mula beberapa buah kerangka perahu dibangun, dipasangkan dinding papan, dan setelah itu bingkai lainnya dipasangkan sehinggalah mejadi cukup kuat. Kami diberi tahu bahwa sebuah perahu dengan ukuran 33 kaki (berbobot 10 ton) lengkap, harganya $ 350. Semuanya dibanguan menggunakan bahan yang baik dan kuat.”

Bagaimanapun, menurut Boden Kloos, sampan kolek penduduk setempat yang terkenal dengan sebutan Kolek Tambelan adalah sesuatu yang indah: dibuat dengan kokoh menggunakan dua jenis kayu keras yang warnanya berbeda. Paduan kayu putih dan coklat itu membentuk sebuah sampan kolek tanpa sebatang paku. Bagian haluannya mencuat ke atas dan bagian buritan dihiasi pula dengan ukiran kepala burung yang letaknya tepat dibawah sauk penyangga layar jib dan tiang layar.

Dalam pengamatan Boden Kloos, “Semua itu adalah hasil kerja yang indah dari seorang tukang yang mahir dan cekatan.”***

Tinggalkan Balasan