Cerita Pusaka Melayu

0
174 views

DALAM sejarah hidupnya, manusia juga dibesarkan dengan cerita, dongeng, dan berbagai bentuk kisah-kisah pelipur lara yang dikenal sebagai cerita nenek, cerita rakyat, atau cerita pusaka. Lazimnya diperdengarkan menjelang tidur oleh mereka yang fasih menuturkannya.

Semua cerita itu disampaikan secara lisan. Ia keluar dari akumulasi berbagai macam cerita turun-temurun yang menjelma korpus cerita pusaka dan kaya akan sumber-sumber kearifan.

Sebagai bagian dari kebudayaan universal yang diwarisi secara turun temurun, terdapat berbagai corak atau genre cerita pusaka dalam berbagai ragam kebudayaan dunia: tentu saja dalam kebudayaan Melayu.

Ada banyak pendapat pakar kesusastraan Melayu tentang cerita pusaka atau cerita rakyat dan kedudukannya dalam korpus besar sejarah kesusastraan di Alam Melayu.

Liaw Yock Fang dalam Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik (1982), menempatkan cerita pusaka Melayu sebagai sastra yang hidup di tengah-tengah rakyat. Ia didendangkan oleh seorang ibu kepada anaknya sejak dari buaian, atau cerita-cerita yang dikisahkan oleh seorang tukang cerita, tukang kaba, kepada seorang atau sekelompok penduduk kampung. Cerita-cerita seperti ini, diturunkan secara lisan dari satu generasi ke generasi lainnya.

Dalam proses penciptaannya, berbagai corak cerita pusaka lisan ini muncul lebih dahulu dibanding bentuk-bentuk sastra tertulis lainnya. Tak sedikit pula cerita dalam ragam sastra tertulis yang muncul kemudian, bentuk awal atau bahan dasarnya berasal dari cerita-cerita pusaka yang dituturkan dan diwariskan secara lisan ini.

Sebaliknya, sejumlah pakar antrolopologi yang mendalami masalah folklor menggolongkan cerita pusaka ini ke dalam kelompok tradisi lisan yang tercakup dalam konsep folklor.  Ia merangkumi bahan-bahan yang, oleh Wolfram Eberhard dalam karya tentang cerita-cerita rakyat Cina, dijelaskan sebagai berikut:

Secara umum, kita menemukan dua definisi tentang folklor. Menurut defenisi pakar [aliran] Anglo-Amerika, folklor terbatas kepada tradsi lisan atau sastra lisan dari sebuah masyarakat. Oleh karena itu ianya mencakupi dongeng, epos-epos nyanyian rakyat, teka-teki, pepatah, ungkapan-ungkapan, begitu juga roman-roman rakyat, jika ianya dapat diasumsikan sebagai produk sebuah tradisi lisan….”

Dalam kaitannya dengan tradisi lisan dan sastra lisan yang berkembang dalam masyarakat Melayu, Mustafa Mohd Isa dalam bukunya yang berjudul, Awang Belang: Penglipur Lara Dari Perlis (1987), menyimpulkan bahwa tradsi lisan Melayu dapat dibagi ke dalam empat kelompok.

Pada kelompok pertama, tercakup di dalamnya ekspresi-ekspresi dan narrative (narasi) yang menggunakan bahasa sebagai wahana utama untuk menyampaikan esensi cerita pusaka yang terkandung di dalamnya: seperti mitos, legenda, cerita-cerita penglipur lara, peribahasa, ungkapan-ungkapan, nyanyian rakyat, dan ada kalanya berupa teka-teki.

Selain bagian dari korpus besar tradisi lisan, cerita-cerita pusaka Melayu adalah bentuk paling awal dari kesusastraan Melayu yang disebut sastra lisan. Tradisi ini cukup populer dan mampu bertahan berkurun-kurun lamanya. Diwarisi secara lisan “dari mulut ke mulut”, dan berkesinambungan dari satu generasi ke generasi lainnya, hinggalah ke masa kini.

***

Dari bentuk dan isinya, cerita-cerita pusaka yang terdapat di Alam Melayu umumnya dan di Kepulauan Riau khususnya, dapatlah dipilah-pilah kedalam sejumlah genre atau bentuk. Para pakar kesuasastraan Melayu klasik, telah membagi-bagi bentuk yang berkembang di Alam Melayu berdasarkan ciri-ciri yang terdapat di dalamnya.

Stith Thompson umpamanya, mengelompokkan cerita-cerita pusaka Melayu tersebut ke dalam beberapa bentuk atau form yang meliputi: Marchen (cerita-cerita yang mengandungi elemen magis dan supranatural), Novella, Hero Tale (kisah-kisah kepahlawanan), Myth (cerita-cerita mitos), Animal Tales (cerita-cerita dengan hewan sebagai tokohnya) dan Legenda.

Di lain pihak, R.O. Wisted, seorang pakar kesusatraan Melayu klasik yang terkenal di di tanah Semanjung pada awal abad yang lalu, membagi-bagi pula cerita pusaka Melayu ke dalam beberapa jenis yang meliputi: Mythology (yang mencakupi riddles, provebs, dan clock-stories), Beast fable (cerita-cerita dengan tokoh utamanya adalah binatang), Farcical tales (cerita jenaka), dan Mustafa Mohd Isa Folk romances (cerita penglipur lara).

Pembagian yang dibuat oleh R. O.Winsted ini sifatnyanya masih umum, karena ia tidak memisahkan cerita pusaka yang bercorak naratif dan bukan naratif yang terdapat dalam bentuk-bentu kesusastraan rakyat di Alam Melayu.

Sebuah upaya pembagian jenis dan bentuk cerita-cerita pusaka rakyat di Alam Melayu yang agak rinci telah dilakukan oleh Mohammad Thaib Osman. Ia membagi cerita pusaka rakyat Melayu  kepada beberapa bentuk:  Cerita asal usul; Mithology (mitos); Cerita-cerita binatang; Legenda; Cerita jenaka; dan Cerita penglipur lara atau folk romance.

Nah, bukankah bentuk dan corak cerita-cerita pusaka Melayu yang telah disebutkan oleh Mohammad Thaib Osman itu juga terdapat dalam kebudayaan masyarakat Melayu di Provinsi Kepulauan Riau?

Ilustrasi sampul buku cerita pusaka Melayu berjudul Sikelincing Dengan Sepasang Terompah Nik Gasi, sebuah cerita pusaka Melayu dari Natuna yang dituliskan oleh B.M Syamsuddin. Diterbitkan oleh Balai Pustaka tahun 1981.

Dalam berbagai corak cerita pusaka yang diwariskan secara lisan dan sebagian di antaranya ada yang telah dituliskan itu, terkandung kekayaan nilai-nilai, dan simbol-simbol kearifan lokal.

Coba simak kembali serial cerita-cerita Sang Kancil atau Si Pelanduk yang jenaka itu! Kita tak hanya menemukan kelicikan yang tergambar dalam kisah-kisah Sang Kancil atau Si Pelanduk yang menjadi raja di rimba Alam Melayu. Bukan hanya tertawa geli atau mungkin gelak terpingkal-pingkal yang didapat setelah membaca kisah-kisah dalam cerita pusaka seperti Pak Pandir atau Lebai Malang. Banyak kandungan kearifan esensial dan universal yang terdapat di dalamnya. Mengapa?

Secara teoritis, dalam korpus cerita-cerita pusaka itu terdapat nilai-nilai falsafi, sejarah, budaya, nilai-nilai moral, dan nilai-nilai etika yang universal sifatnya. Selain itu, terkandung pula unsur-unsur religius, hukum, dan pranata sosial-budaya yang juga universal sifatnya.

Di Kepulauan Riau, paling tidak sudah sejak abad ke-19 cerita-cerita pusaka Melayu yang diwariskan secara lisan itu menjadi perhatian para pengamal tradisi tulis di Kerajaan Riau Lingga. Adalah seorang Syahbandar yang juga pengarang bernama Haji Ibrahim dari Pulau Penyengat yang memulainya. Ia sangat sadar arti penting dan potensi yang terkandung dalam cerita pusaka Melayu yang tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakatnya.

Pada bulan Juni 1870, dua cerita pusaka Melayu yang sangat terkenal di Alam Melayu abad 19, yakni Cerita Lebai Malang dan  Cerita Pak Belalang (yang kemudian melahirkan bidal Melayu “Tuah Mujur Pak Belalang” yang sangat terkenal di kawasan Kerajaan Riau-Lingga ketika itu) dituliskan untuk pertama kalinya oleh Haji Ibrahim.

Masih dari Pulau Penyengat, seorang lagi penerus Haji Ibrahim dalam usaha-usaha menuliskan dan mengumpulkan cerita-cerita pusaka lisan Melayu itu adalah Said Husin Al-attas. Pada akhir tahun 1960-an, cerita-cerita pusaka lisan Melayu Kepulauan Riau, seperti Tjerita Tahi Kering dan Radja Ular umpamanya, dituliskankan oleh Said Husin dan dipublikasikan dalam majalah Sempena yang terbit di Tanjungpinang.

Dan dalam sejarah penulisan cerita-cerita pusaka di Kepulauan Riau, maka kita tak bisa melupakan jasa BM. Syamsuddin, pengarang dari Natuna. Dialah sastrawan paling prolific  (paling subur berkarya) untuk urusan cerita-cerita pusaka Melayu di Kepulauan Riau.

Kerja kerasnya telah memungkin sekian banyak cerita pusaka Melayu di Kepulauan Riau dituliskan dan dipublikasikan. Mulai dari ceriata dari kampung halamannya,  seperti Sikelincing Dengan Sepasang Terompah Nik Gasi (1981) dan Batu Belah Batu Betangkup (1983), sampailah kepada cerita-cerita pusaka dari sekotah Kepulauan Riau yang dihimpunkannya dalam  Cerita Rakyat Dari Riau (1993 dan 1995), Cerita Rakyat Dari Batam (1996), dan Cerita Rakyat dari Natuna (1997).

Betapa berlimpah dan kayanya khazanah cerita pusaka Melayu. Marilah membaca dan mempelajarinya! Agar kita dapat menyauk kearifan dan nilai-nilai bermanfaat yang berlimpah-ruah keluasan korpus khazanah cerita pusaka Melayu yang belum dituliskan dan yang telah dituliskan.***

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here