Pangkalan taksi di pasar Tanjungpinang pada April 1953. (koleksi ANRI)

DOLAR Malaya alias Dollar Strait adalah sebuah simbol kemakmuran finansial penduduk Tanjungpinang pada era 1949-1963. Kendati berlangsung pada masa yang singkat, kenangan tentang gebyar kejayaan ini tidak mudah lekas sirna dalam ingatan. Sebab benar-benar makmur adanya.

Sejarawan Kepri, Aswandi Syahri menuturkan, kekuatan dompet orang Tanjungpinang hari itu membuat mereka dengan mudah membeli barang-barang mewah yang masuk dari Singapura. “Gambaran tentang kemakmuran tersebut antara lain pernah ditulis seorang penduduk Tanjungpinang dan dimuat dalam majalah Terang Bulan yang terbit di Surabaya pada bulan Maret 1953,” ujar Aswandi.

Saat itu, tutur Aswandi, lebih dari 40 persen penduduk Tanjungpinang pada tahun 1953 umpamanya, sudah mempunyai pesawat penerima radio (radio receiver). Sedangkan yang punya sepeda jenis Raleigh buatan Inggris bukan main banyaknya. Bahkan, jam tangan bukan aksesori mahal kala itu. Nyaris setiap orang ketika itu memakai jam tangan. Termasuk para penggali dan pembersih parit yang bekerja di Dinas Pekerjaan Umum (DPU).

Pada zaman itu, dengan gaji sebesar $ 150,- sebulan, lebih dari cukup bagi seorang guru atau pegawai yang belum berkeluarga. Dengan gaji sebesar itu, seorang guru di Tanjungpinang masih dapat membeli jam tangan Rolex seratus persen asli; sepeda Raleigh; atau kamera Zeiss Ikon yang sangat terkenal hebat dan mahal pada tahun 1950-an.

Sepanjang zaman dolar itu, Tanjungpinang menjadi incaran pegawai-pegawai pemerintah dari daerah lain. Terutama mereka yang akan memasuki masa pensiun. Mereka tergiur dengan gaji tiap bulannya menjelang pensiun dan uang pensiun dalam mata uang dolar yang nominalnya sangat menggiurkan bila dikonversikan ke dalam Rupiah.

“Zaman dolar adalah masa-masa ketika hidup “mewah” dan “manisnya” Dolar Malaya ini juga dirasakan oleh para kuli angkut di Pelantar I dan pelantar II,” kata Aswandi.

Bayangkan saja, katanya, upah para kuli angkut dalam sehari memungkinkan mereka membeli baju kaus putih cap angsa (swan) setiap hari: pagi dibeli, dan dibuang setelah basah karena peluh kerja seharian.

Gambaran lain yang juga menjadi “buah bibir” penduduk daerah lainnya di Indonesia tentang mewahnya kehidupan di Tanjungpinang pada zaman dolar adalah berbagai jenis rokok impor yang menjadi “santapan” sehari-hari para pencandu tembakau. Jenis dan merek rokok orang Tanjungpinang ketika itu, adalah salah satu penanda status sosialnya pada zaman dolar.

“Seorang pegawai berpangkat komis (jabatan pegawai kantor di atas jurus tulis) atau yang sederajat dengannya, paling kurang mengisap rokok Maspero yang diimpor dari Jerman atau State Express 555 (rokok tiga lima) dari Inggris. Paling rendah, para pergawai dari golongan pejabat ini menyimpan sekotak rokok Player Navy Cut Cigarettes buatan Amerika di kantong celananya,” jelas Aswandi.

State Ezpress (555), rokok yang biasa dikonsumsi Presiden Soekarno. Pada zaman dolar, rokok ini biasa diisap oleh pegawai rendahan belaka. (pict: merdeka.com)

Pegawai-pegawai dari golongan yang sama dengan jabatannya dengan seorang klerk (juru tulis) di Tanjungpinang, sambung Aswandi, bisa mengonsumsi rokok Lucky Strike asal Amerika atau Philips Morris Cigarettes buatan Inggris. Sedangkan para kuli angkut di pelabuhan sudah cukup puas dengan rokok impor merek Herald asal Amerika.

Rokok impor adalah salah satu penanda kemewahan dan gaya hidup orang Tanjungpinang pada zaman dolar. Sebagai pembanding, di pulau  Jawa ketika itu (tahun 1950-an), rokok-rokok merek Maspero dan State Ezpress (555), hanya dapat dikonsumsi oleh pejabat sekelas menteri, anggota parlemen, pengusaha kaya, dan mereka yang sederajat dengan itu.

Fakta yang ditaksir Aswandi ini tentu terbilang mengejutkan. Bagaimana mungkin seorang pegawai kelas bawah di Tanjungpinang kala itu bisa sederajat rokoknya dengan Presiden Soekarno. Semua orang mafhum, Bung Besar itu pecandu rokok State Express 555 yang nyaris tidak pernah kurang stoknya di Istana Jakarta. Tapi begitulah kenyataan kejayaan yang pernah ada di Tanjungpinang.

Almarhum Budayawan Hasan Junus, sebagaimana dikutip Husnizar Hood, mengatakan, berkat pemberlakuan dolar Malaya kala itu membuat hampir semua orang ingin bekerja di Riau.

“Kata Hasan Junus, orang Riau (Riau yang dulu ibu kotanya di Pinang), adalah orang yang nasionalismenya paling rendah. Lebih suka menggunakan dolar dan membuat Rupiah tak laku,” ujar Husnizar.

Dari hasil diskusi singkat dengan Hasan Junus itu, Husnizar beroleh simpulan bahwasanya obsesi orang Riau kala itu bukan ke tanah Jawa, melainkan ke tanah semenanjung, yang ditaksirnya lebih mendatangkan keuntungan materiil.

Peredaran dolar Malaya sebagai alat tukar yang sah ini memang membuat jaya siapapun kala itu. Novelis Hasan Aspahani, merujuk pada pembacaan dan risetnya, menyebutkan, orang Riau kala itu ketika kuliah di Bandung bisa mendadak jadi OKB alias orang kaya baru.

“Tahun itu, mereka yang sekolah di Bandung, bisa beli motor besar Fuch, buatan Jerman. Gampang sekali cari cewek zaman itu,” timpal Hasan berkelakar.***

Baca Juga:

Ketika Dolar Dihapuskan

Habis Dolar, Terbitlah Mitos 

3 KOMENTAR

  1. saya tinggal di tanjung pinang era tahun 75….sampai era akhir 90’an……jaman sekolah dulu tahun 1983 …semua nya mulai dari baju apalagi sepatu pasti maunya merek ADIDAS….dengan lebel….Adidas Kellmer, Adidas ATP, adidas dll, maupun merek terkenal lainnya…….liat iklan di TV Singapore SBC 5, SBC 8, SBC 12….yang ada siaran bahasa melayu yaitu SBC 5……sebulan kemudian sudah pasti ada apa yg ada dalam iklan itu…….

Tinggalkan Balasan